Standar Bergaul, Tidak Kagumi Diri Sendiri
Oleh Shodiqiel Hafily
10 Mei 2008

Bukan hanya dalam realitas kehidupan sehari-hari saja kita perlu dan harus berinteraksi sosial, dalam dunia maya ini pun kita perlu dan mesti bergaul. Apalagi dunia jaringan global ini merupakan akses tanpa batas ruang dan waktu. Kita bisa ‘bertamu’ dan say hello (say hell..o) dengan teman di belahan benua manapun hanya dengan ujung jari dan keramahan hati.

Hanya saja, orang seperti saya susah, kalau disapa pake bahasa asing, ga’ ‘ngerti. Kalaupun bisa ‘ngerti setelah buka-buka kamus dulu. Begitulah, terkendala bahasa, ramah-tamah jadi terhambat juga.

Tempo hari dapet kiriman image bertulisan: Just because you dress like a slut doesn’t mean you’re a slut. And just because I act like a rapist doesn’t mean I’m a rapist. Penampilan memang bukan satu-satunya ukuran penilaian baik-buruk. Saya pernah nyapa orang yang avatarnya begitu ‘islami’, tapi sapa-baliknya begitu pedas terasa di hati.

Nah, dari pergaulan, didapat banyak pengalaman seperti yang saya contohkan. Juga dapat banyak teman, tambah pengetahuan dan lain-lain. Saya tidak pernah berharap lebih pada blog yang saya buat untuk – serta merta – dikunjungi orang tanpa lebih dulu mengunjungi blogger-blogger lain yang hebat-hebat tuh. Saya tidak mengagumi diri sendiri dengan nongkrong berlama-lama menimang-nimang kreasi sendiri. Saya pasti luangkan waktu secukupnya untuk bertandang.

Dengan intensitas kunjungan yang cukup, saya dapatkan banyak perbandingan dan saya dapati banyak kreasi orang lain yang jauh lebih berkualitas dari pada asal cuap kayak saya begini.

Be Yourself

Tiap individu punya kecenderungan, spesifikasi dan pilihannya masing-masing. Tulisan ini saya buat hanya sebagai jawaban dari pertanyaan mengapa saya tidak menulis tema-tema yang lagi ngetrend, malah kebanyakan mundur ke masa silam?

Biarlah itu dilakukan yang lain-lain. Saya lebih memilih yang – kiranya – berguna kapanpun, tidak mudah basi! Lagian, saya khawatir kecele. Tempo hari, orang-orang rame-rame ‘nulis pemblokiran Youtube, dan banyak yang berhasil nangkring di Best Blog Of The Day. Tapi, serta merta, mereka ‘terpaksa’ harus menelan statement-statementnya sendiri karena keesokannya blokir telah dibuka lagi. Saya tidak terpengaruh euforia, responsible berlebih. Apalagi hanya untuk menaikkan page ranking.

Saya juga tidak suka cari sensasi lewat tulisan provokatif semisal AXIS dengan pilihan tarif angka 6-nya yang dikait-kaitkan dengan gereja setan dan segala macam prasangka lainnya. Saya tidak akan berbangga masuk BBOTD dengan melukai perasaan umat lain. Saya akan tulis apa yang saya bisa dan saya anggap perlu dan bermanfaat. Dan.. memang cuma segitulah kebisaan saya. (Baca juga: Absurditas HAM?)


Leave a Comment