8 Tahun FPI (Front Pembela Islam)

8 Tahun FPI (Front Pembela Islam)
Oleh Shodiqiel Hafily
03 Juni 2008
Tahun 2002
- 15 Maret, FPI merusak diskotek di Plaza hayam Wuruk, Mekar Jaya Billiard, di Karet, Jakarta.
- 24 Maret, FPI mendatangi diskotek New Star di Ciputat.
- 02 Mei, FPI menggerebek gudang minuman di Petamburan, Tanah Abang.
- 26 Juni, FPI demo Gubernur Sutiyoso di gedung DPRD DKI, merusak sejumlah kafe di Jalan Jaksa dengan tongkat bambu.
- 04 Oktober, FPI sweeping tempat-tempat hiburan.
- 06 November, Dewan Pimpinan Pusat FPI mengeluarkan maklumat pembekuan kelaskaran FPI di seluruh Indonesia.
- 03 Desember, FPI diaktifkan kembali.
Tahun 2003
-
08 Apr, Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab ditahan di Polda Metro Jaya.
-
08 Mei, Habib Rizieq diadili di PN Jakarta.
-
22 Mei, penganiaya FPI ditangkap.
-
01 Juli, Rizieq berjanji menindak anggota FPI yang melanggar hokum.
-
11 Agustus, hakim memvonis Habib Rizieq 7 bulan penjara.
-
19 November, Habib Rizieq bebas.
-
08 Desember, Sekjen FPI menyatakan FPI ubah paradigma perjuangannya.
Tahun 2004
-
03 Okt, FPI menyerbu sekolah Sang Timur.
-
22 Okt, FPI melakukan perusakan kafe di Kemang.
-
24 Okt, FPI meminta maaf kepada Kapolda Metro Jaya.
-
25 Okt, Ketua MPR, Hidayat Nurwahid, dan Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengecam cara-cara kekerasan FPI.
-
28 Okt, FPI tetap meneruskan sweeping di bulan Ramadhan.
-
14 Des, FPI bentrok dengan satpam JCT (Jakarta Container Terminal).
Tahun 2005
-
27 Jun, FPI menyerang Kontes Miss Waria di gedung Sarinah Jakarta.
-
05 Agu, FPI menyerang Jaringan Islam Liberal (JIL) di Utan Kayu.
-
02 Agu, FPI mengancam TK Tunas Pertiwi untuk menghentikan kebaktian.
-
23 Agu, Gus Dur meminta FPI menghentikan aksi penutupan paksa gereja di Bandung.
-
5 Sep, Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, mengecam FPI.
-
22 Sep, FPI memaksa pameran foto Urban/Culture di Museum Bank Indonesia ditutup.
-
16 Okt, FPI mengusir jemaat gereja di Jatimulya, Bekasi Timur.
-
23 Okt, FPI kembali menghalangi kebaktian.
-
28 Okt [?], anggota FPI membawa sajam saat demo di Polres Metro Jakarta Barat.
-
19 Sep, FPI menyerbu pemukiman Jamaah Ahmadiyah di Kampung Negalsari, Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.
Tahun 2006
-
19 Feb, massa FPI demo di Kedubes AS dan anarkis.
-
14 Mar, FPI membuat ricuh di Pendopo Kabupaten Sukoharjo.
-
12 Apr, FPI menyerang dan merusak kantor majalah Playboy
-
20 Mei, FPI menggerebek 11 tempat hiburan di Pondok Gede.
-
21 Mei, FPI menyegel kantor Fahmina Institute di Cirebon.
-
23 Mei, FPI mengusir Gus Dur dari forum Dialog Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta, Jawa barat.
-
25 Mei, FPI Bekasi mengepung kantor Polres Metro Bekasi.
Tahun 2007
-
25 Jan, FPI dipimpin habib Rizieq demo di Komnas HAM menuntut dilakukan investigasi serangan polisi di Tanahruntuh, Poso.
-
27 Mar, memukuli ibu-ibu dari Rakyat Miskin Kota saat demo di Hotel Shangrilla, Jakarta.
-
29 Mar, FPI menyerang massa Papernas yang rata-rata kaum perempuan di Kawasan Dukuh Atas. Papernas dituduh penyebar komunisme.
-
29 Apr, FPI membatalkan pengurus Papernas Sukoharjo.
-
1 Mei, FPI bentrok dengan Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta (ARPY) di depan Museum Serangan Oemoem 1 Maret. FPI menuduh ARPY terkait Papernas.
-
19 Mei, FPI mendatangi diskotek Jogja di Jogja dan mengusir pengunjung.
-
11 Nov, terlibat pembakaran Majlis Taklim Nurul Yakin di Tangerang.
Tahun 2008
01 Jun, FPI menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AK-KBB) yang memperingati hari lahir Pancasila. (Sumber: JPNN, Catatan Penulis)
Setelah ini, aksi apalagi, FPI? Jadi Front Pembela Islam ataukah Front “Pencemar” Islam? Sangat disayangkan, Al-islam mahjub bil-muslimin, Islam tercemar oleh kaum muslimin sendiri.[]


























































3 Juni 2008 at 7:50 pm
Mas, di tempat saya pernah didatangi FPI untuk menutup usaha, setelah damai, boleh buka lagi, tapi yaitu rutin bayar upeti.
3 Juni 2008 at 8:20 pm
MasyaAllah…. kok malah mencemarkan nama baik Islam sih…. aku pikir ada dalang danmaksud tujuan di balik semua serangan itu… pasti faktor politik aku pikir….
+ Mau-maunya dijadikan pion-pion permainan politik? Cuma sekadar ‘ngejar ‘keuntungan’ sesaat, buat apa nglakuin sesuatu yang bikin Islam jadi diantipati. Itu bukan ngebela Islam namanya!
7 Juni 2008 at 6:03 pm
Ya, benar kata Mas Faroby, bincang-bincang dengan P.Said Aqiel Siradj kan jelas dibilang bahwa FPI dibentuk di akhir era P. Harto untuk ngimbangi haluan kiri. Faktor politik tentu, tapi permainan politik yang cantik belum. Apalagi oknum FPI dengan upetinya seperti dibilang Mas Rudi, tentu bukan yang disukai..
27 Februari 2011 at 9:12 pm
SEPUTAR PEMBUNUHAN KH CECEP BUSTOMI DAN HABIB SOLEH ABDULLAH, SESEPUH FPI
Front Pembela Islam (FPI) akhirnya mengeluarkan pernyataan soal dibunuhnya KH Cecep Bustomi, Panglima Front Hisbula…h yang bermarkas di Pandeglang, Banten, Jawa Barat.
Menurut FPI, KH Cecep, anak kiai kondang Banten, KH Bustomi, dibunuh oleh sepasukan Kopassus Grup II/ Parakomando, Serang.
KH Cecep Bustomi adalah salah seorang pendiri FPI, sebuah organsasi Islam
FPI mengajukan bukti baru: hanya Wakil Komandan Kopassus Grup II/Parakomando yang mengetahui keberadaan KH Cecep di Serang pada saat ia dibunuh. “KH Cecep ke Markas Kopassus Serang karena panggilan pihak Kopassus,” ujar Habib Rizieq Shihab, Panglima FPI. Habib ini tampak gusar.
KH Cecep dibunuh beberapa pekan lalu di Serang, Jawa Barat, selepas bertemu dengan sejumlah perwira di Markas Grup II/Kopassus, Serang. Begitu keluar dari Markas Kopassus, sejumlah lelaki bertopeng, bersepeda motor dan bersenjata mencegat mobil Cecep dan memberondongnya. Sopir Cecep, Mardiyanto tancap gas, dan sepasukan lelaki bermotor itu mengejar dan di depan Pasar Serang, berondongan peluru mengakhiri hidup kiai.
SEBAB-SEBAB KENAPA KH CECEP BUSTOMI DI BUNUH
FPI mengkaitkan pembunuhan Cecep dengan terbunuhnya seorang prajurit Kopassus dalam penyerangan pasukan Front Hisbulah di sebuah perhelatan di Serang.
Prajurit Kopassus yang hendak mengusir Front Hisbulah itu dari perhelatan yang tuan rumahnya masih saudara sang prajurit, memang tidak sekedar mati. Ia tewas dengan luka yang mengenaskan. Dan, ini tak bisa diterima orang-orang Kopassus.
Bagaimanapun, Grup II/Kopassus memang pantas jadi tersangka dalam kasus pembunuhan, atau lebih tepat pembantaian KH. Cecep Bustomi.
Ada motif yang kuat dan ada kemampuan untuk melakukannya karena merupakan prajurit parakomando. Dan, yang paling penting:
* hanya satuan-satuan TNI yang masih punya mentalitas prima yang berani melakukan pembantaian ini. Nah, pembantaian ini mengingatkan kita pada istilah code red dalam satuan marinir militer Amerika Serikat.
code red adalah operasi yang dilakukan amat rahasia, bukan untuk kepentingan negara, namun untuk kepentingan korps. Apa yang dimaksud dengan code red ini misalnya bisa ditonton di film A Few Good Men, yang dibintangi Demi
More dan Tom Cruise.
KH Cecep tampaknya memang menjadi target operasi code red Kopassus Grup II/Parakomando, berkaitan dengan terbunuhnya seorang prajurit Kopassus di tangan anak buah Cecep.
=============================
Selain Cecep, tampaknya Habib Soleh Abdulah, salah seorang sesepuh FPI juga menjadi target operasi code red dari satuan lain di TNI. Habib Soleh ditembak mati oleh dua pria tak dikenal di depan masjid dekat rumahnya di Cempaka Putih.
Keluarganya mengkaitkan dengan konflik tanah warisan. Namun, motif itu kurang kuat. Yang patut juga disimak, FPI memiliki musuh yang banyak karena kegemaran kelompok ini merusak kafe, diskotik, hotel dan tempat lain yang dinilai kelompok ini sebagai tempat maksiat. Salah satu musuh potensial FPI ya siapa lagi kalau bukan tentara yang membekingi bisnis ini. Lalu, musuh lainnya adalah para “profesional” yang disewa para pemilik modal untuk sekedar memberi warning atau bahkan untuk memberesi para pimpinan FPI.
Pantas diingat, sebelum Habib Soleh dibunuh, FPI melakukan perusakan di sejumlah kafe di Kemang, Jakarta Selatan, seperti kafe Jimbani, kafe Salsa. Kafe Jimbani adalah kafe milik mantan istri Oky Hanoko Dewantono yang selama ini dibekingi anggota Marinir TNI-Angkatan Laut.
Marinir marah ketika polisi mengerebek kafe itu. Buntutnya, Polsek Mampang, diserbu sepasukan pria yang diyakini dari satuan marinir. Dua polisi dan seorang Kamra luka-luka. Kantor Polsek hancur berantakan.
Tampaknya Polsek Mampang jadi target code red oleh satuan rahasia Maninir. Itu yang tampaknya terjadi, karena pasukan yang menunaikan tugas korps itu dilindungi para komandannya.
Namun, tak lama, pasukan FPI datang ke kafe Jimbani. Mereka dengan kemarahan yang meluap menghancurkan kafe yang juga jadi sumber pendapatan sampingan para prajurit Marinir TNI-AL yang gajinya dari dinas tentata memang mepet untuk hidup.
FPI menuduh kafe itu kafe maksiat. Kafe itu, untuk sekian lama tidak beroperasi. Dan, ini artinya, para prajurit Marinir kehilangan sebagian pengahasilan sampingan itu. Nah, apakah dibunuhnya Habib Soleh Abdulah, salah satu anggota senior FPI, berkaitan dengan operasi code red Marinir TNI-AL?
Bisa saja. Namun, pertanyaannya: mengapa yang dibunuh Habib Soleh dan bukannya Habib Rizieq Shihab, Panglima FPI, sebagaimana Kopassus menghabisi Panglima Front Hisbulah? Bisa jadi Marinir tak sekejam Kopassus. Dipilihnya Habib Soleh hanya semacam ancaman: jangan melakukan perusakan lagi terhadap tempat-tempat hiburan.
Bermusuhan dengan Kopassus, atau tentara pada umumnya, sebenarnya bukan kehendak FPI dan Front Hisbulah. Dua organsasi ini, di masa lalu, adalah organisasi yang dekat dengan mantan Komandan Jendral Kopassus Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto.
FPI dan Front Hisbulah juga dekat dengan sejumlah jendral seperti:
* Letjen TNI Djaja Suparman, mantan Pangdam Jaya dan Pangkostrad,
* Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zien dan Brigjen TNI (Purn) Adityawarman.
Dua nama terakhir ini adalah jendral yang dekat dengan Prabowo.
Bagaimanapun, FPI dan Front Hisbulah bukanlah organisasi keagamaan yang populer di masyarakat. Terbunuhnya KH Cecep Bustomi dan Habib Soleh Abdulah, tidak menjadi perhatian yang layak oleh masyarakat.
oleh Hidayat Hasibuan
2 Maret 2011 at 10:33 am
berangus fpi dkk. atau serahkan saja negara ini ke mereka,
negara harus tegas diatas konstitusi atau ganti saja Pancasila dengan dasar negera lain!
saya bungung dengan sikap pemerintah, mereka bodoh atau pura-pura bodoh…!
9 Mei 2011 at 4:32 pm
FBR, FPI dan organisasi massa lainnya perlu dan harus menghajar terus calo-calo Batak Transumatra dan Jawa di Terminal Pulogadung, sebab polisi sengaja membiarkan mereka.
Salut dengan FBR, ganyang calo Batak Pulogadung serta bekingnya polisi terminal Pulogadung
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dua kelompok massa bentrok di depan terminal bus antar kota antar provinsi, Pulogadung, Senin (4/4/2011). Bentrok terjadi sekitar pukul 21.00 WIB.
Kapolsek Pulogadung, Kompol Dani Hamdani menjelaskan massa FBR tidak terima ulah oknum calo Pulogadung yang telah menipu anggota FBR sekitar seminggu lalu.
“Informasi sementara seperti itu, saat ini masih kita selidiki,” ujar Kompol Dani kepada tribunnews.com di Jakarta, Senin (4/4/2011).
“Laki-laki gembong calo Batak Transsumatra Pulogadung itu gempal gemuk dan kepada penumpang selalu mengaku dia petugas keamanan tidak berseragam di sini dan satunya lagi laki-laki agak kurus dan cerewet kayak perempuan, ” ujar Kompol Dani Hamdani.
Saat ini kedua massa masih berkumpul di lokasi kejadian. Situasi masih mencekam walau bentrok telah berakhir. (Ade)
Terminal Pulogadung dikuasai calo Batak dan polisi di sana diam
Calo-calo Batak Pulogadung berkolusi dengan Polisi
RIAUPOS.COM, TEMBILAHAN (RP) – Hati-hati jika anda “pulang kampoang” naik bus dari terminal bus Pulogadung. Anda bisa diperas calo-calo di terminal tersebut.
“Aku diplorot celanaku dan dipaksa membayar Rp 85.000 lebih mahal dari tiket resmi oleh calo-calo Batak itu,” ujar Sukardi, usia 59 tahun, Minggu (3/5/2011).
Bapak tua itu menuturkan kepada RP di kampung halamannya di Tembilahan, kabupaten Indragiri Hilir, provinsi Riau, setelah pulang dari terminal Pulogadung dari mengunjungi putra pertamanya yang tinggal di Jakarta beberapa hari sebelumnya.
“Saya tidak tahu kalau banyak [calo-calo] Batak disana [di terminal Pulogadung]. Katanya setelah SBY jadi presiden, calo-calo Batak tidak ada lagi. Buktinya masih banyak,” ujar Sukardi.
Aminah, 15, anak perempuan Sukardi, mengisahkan cerita ayahnya. “Calo-calo Batak itu memaksa setiap penumpang membayar Rp 80.000 – Rp 100.000 lebih mahal dibandingkan harga resmi tiket ke Riau. Beda-beda. Ada yang dicatut Rp 50.000, ada yang sampai Rp 150.000. Ayahku mulanya memprotes, calo itu marah lalu … ,” ujar Aminah, sambil menangis tersedu, kasihan pada ayahnya yang dipermalukan di depan umum tanpa salah apa-apa.
“Setelah kami masuk melalui pintu utara terminal, kami didorong-dorong, ditarik-ditarik Batak-batak itu ke loket. Kami tidak berani melawan, kecuali Ayah memprotes tapi dengan mulut. Calo-calo Batak itu banyak sekali. Mereka membuntuti terus kami dari belakang,” ujar Aisah, 18, kakak Aminah, dengan geram.
Beberapa penumpang lainnya dari bus yang tiba di Riau itu mengaku mereka memang dipaksa membayar Rp 50.000 – Rp 150.000 lebih mahal dari harga tiket resminya saat di terminal Pulogadung, dan para penumpang mengiakan peristiwa penelanjangan Sukardi oleh para calo tersebut.
“Betul, kasihan. Orang tua tadi itu memang ditelanjangi calo-calo Batak di Pulogadung. Banyak yang melihat kejadian itu. Dua polisi berseragam, di terminal itu juga melihat dan diam saja,” ujar Tasrip, 50, warga dari sebuah desa di kecamatan Tembilahan.
“Polisi diam karena mendapat bagian. Setiap penumpang dicatut Rp 50.000 – Rp150.000, sebagian duit itu pasti untuk polisi,” ujar Tasrip, dan mengatakan dia dipaksa membayar Rp 90 .000 lebih mahal oleh calo-calo tersebut.
“Ini mungkin karena Presiden SBY [Susilo Bambang Yudhoyono] tidak tegas, atau mungkin ada pihak-pihak lawannya yang ngrecoki untuk memberi kesan SBY tidak tegas. Harusnya dia [SBY] menindak tegas polisi-polisi korup itu dan memberantas calo-calo itu,” ujar Tasrip.
Joni, 34, penumpang lainnya yang berjualan di Tanah Abang asal kota Riau bersama banyak penumpang lainnya, mengatakan mereka kapok dan tidak akan pulang melalui terminal Pulogadung kalau SBY tidak minindak tegas kepala polisi Pulogadung. “Calo-calo itu harus diberantas habis dan selamanya. Polisi-polisi yang membiarkan harus diberhentikan pula,” ujar Joni, kesal.
“Aku diperlakukan kayak binatang, diplorot celanaku. Aku sangat malu dibuatnya. Kurang ajar mereka itu semua. Pemilu yang akan datang aku tidak pilih Partai Demokrat [partainya SBY]. Saya akan pilih PKS,” ujar Sukardi, pak tua yang malang itu. “Saya juga akan pilih partai yang lain,” ujar dua putrinya.
“Saya sejak dulu golput dan akan terus golput, tak ada yang bener, tak ada yang mempedulikan orang-orang kecil seperti kami,” ujar Tasrip. “Saya tidak akan pilih Partai Demokrat, tidak akan pilih PDI-P, tidak akan pilih Gerindra, tidak akan pilih Hanura, tidak semuanya,” ujar Joni, senada dengan Tasrip.
Ketika ditanya partai apakah yang diharapkan bisa mengatasi masalah. “Ada. Nasdem (Nasional Demokrat) kalau organisasi massa itu menjadi partai. Jadi kitaakan pilih Partai Nasional Demokrat,” kata Tasrip.
“Kalau aku sudah tak percaya lagi sama partai. Lebih baik mereka membuktikan mampu membersihkan calo-calo itu selamanya baru aku percaya. Surya Paloh [pemimpin Nasdem] pasti juga akan berkoalisi dengan SBY jadi percuma. Lebih baik golput terus,” ujar Joni.
Menurut mereka, ada dua pintu di terminal bus Pulogadung. Pertama, pintu selatan menuju terminal bagian selatan untuk tujuan Jawa Timur dan Madura, dikuasai oleh calo-calo suku Jawa, yang menurut mereka, berperilaku cukup baik, tidak pernah memaksa dan hanya mengarahkan ke loket dan tidak minta uang serupiah pun. Kedua, pintu utara menuju terminal bagian utara untuk tujuan Sumatra, dikuasai calo-calo Batak.
“Jika penumpang tidak sadar lalu masuk dari pintu utara terminal Pulogadung itu, habislah dia, diperas calo-calo Batak itu,” ujar Tasrip.
Jalil, 25, penumpang asal Tembilahan pula, yang bersosok tinggi dan kurus, menambahkan: “Calo-calo Batak itu sengaja dipelihara oleh polisi-polisi terminal Pulogadung. Mereka sudah lama disana. Selalu muncul dari sekitar pintu masuk dan pintu gerbang dan juga di dalam terminal itu. Mereka dibiarkan. Calo-calo Batak itu semakin kurang ajar dan semakin berani kepada penumpang, karena polisi terminal Pulogadung ngeper [tidak berani menertibkan calo-calo itu]. Hari ini tertib, seminggu lagi mereka sudah berda disana lagi,” ujar Jalil. (Denny).
18 September 2011 at 5:16 pm
FPI itu pasukan preman munafik, gayanya anti maksiat dan judi serta minum alkhohol. Tapi faktanya di kampung saya, anggota FPI kalau lagi gak ada job ya hobby judi dan mabok. Tentu sorban kebanggaannya dilepas dulu biar tidak kelihatan santri, tapi kalau setengah tobat, baru pake baju koko ibarat malaikat yang turun dari neraka
Memuakkan FPI itu …
17 Februari 2012 at 4:54 pm
FPI ya begitulah….sebuah organisasi yang fenomenal, banyak yang suka tapi juga tidak sedikit yang marah. Tapi kalau kita bisa berpikir netral, apa saja yang dilakukan FPI dan mengapa ia melakukannya, pastinya kita tidak akan langsung memvonis FPI itu organisasi yang jahat/brengsek. Saya BUKAN anggota FPI dan juga bukan sedang mendukung gaya-gaya yang dilakukan FPI dalam berorganiasasi.Siapa sih HABIB RIZIQ? Bagaimana keilmuan dia dan pemahaman agamanya, saya yakin kalau dibanding beliau saya bukanlah apa-apa. Tengoklah siapa yang sering mendemo organisasi FPI, mayoritas adalah ahli maksiat walaupun ada satu dua orang yang ahli dalam agama dan LSM yang menamakan demi kebebasan HAM.Cobalah kita renungkan nilai-nilai agama dengan HAM lebih tinggi mana? Saya dalah pecinta HAM tapi SANGAT tidak menyukai HAM yang kebablasan yang keluar dari etika bangsa dan AGAMA, TERIMAKASIH untuk FPI semoga selalu setia meberantas kemungkaran dan jangan lupakan kaidah berbangsa, yang memprotes FPI, berkacalah apa yang sudah saya lakukan terhadap bangsa, yang di grebek dan didemo FPI lekaslah bertobat, LSM YANG kontra FPI lihatlah LSM anda, sudah baikkah sesuai dengan agama dan tatacara berbangsa. Kalau semua mau berkaca selamatlah bangsa indonesia. Untuk korps POLRI perbaikilah kinerja dalam mengayomi dan melindungi masyarakat, insyaallah FPI tak akan berbuat merusak. Bravo POLRI semoga jaya di Indonesia.