About Laylat Al-Qadar
Tentang Lailat Al-Qadar
Oleh Shodiqiel Hafily
18 September 2008
“Tahukah kamu, apa itu Laylat Al-Qadar?” Begitulah Al-Qur’an menggelitik kita untuk menyibak makna Lailatul Qadar. Kemudian, Al-Qur’an membiarkan tanpa penjelasan lebih rinci seolah memberikan peluang lebar kepada kita untk mencari tahu sendiri dengan pernyataan, “(Pokoknya) Lailatul Qadar itu lebih baik dari 1000 bulan.”
Qur’an mengajak kita untuk memperhatikan, ada apa para malaikat di bawah komando Jibril berlalu-lalang, naik-turun antara langit dan bumi? Pastilah sedang terjadi event akbar, sebuah perhelatan yang digelar rutin setiap bulan Ramadhan. Tapi, apakah itu? Ialah Malam Penganugerahan Ramadhan Award. Itu bisa kita fahami dari ragam-makna qadar yang jarang diungkap yaitu derajat, kedudukan atau kemuliaan.
Penerima Ramadhan Award
Penerima Ramadhan Award yang yang membuat lalu lintas langit-bumi menjadi padat dan penuh sesak, adalah orang yang selama 11 bulan menjalani hidup sebaik-baiknya dan menunaikan puasa dengan tulus-ikhlas semata-mata patuh kepada perintah Allah. Bukan karena imbalan surga maupun ketakutan dari siksa neraka.
Adalah hak prerogative Tuhan untuk menetapkan hamba-hamba Tuhan yang layak menerima penghargaan yang tinggi ini. Sebagaimana difirmankan, “..biidzn rabbihim min kull amr.”
Seperti apa rasanya mengalami penganugerahan Ramadhan Award ini? Hujjatul Islam, Al-Ghazali menerangkan bahwa perasaan itu tidak mungkin dilukiskan dengan penjelasan naratif terbaik sekalipun. Bagimana mungkin menerangkan ma la ‘ayn roat wa la udzun sami’at wa la khathar fi qalb basyar (sesuatu yang tidak pernah sekalipun terlintas di mata, tak sekalipun terdengar telinga dan tak seberkaspun terlintas di benak pikiran)? Sebab Lailatul Qadar itu – bagi yang mendapatkannya – adalah inkisyaf hijab (tersingkap tabir) mata batin untuk bermusyahadah. Yakni menyaksikan alam malakut (dunia kemalaikatan), keindahan pertamanan surga dsb.
Tanda Lailatul Qadar
Berdasarkan penuturan Nabi saw, shahabat serta para ulama bahwa kita dapat mengenali bahwa malam itu telah terjadi Lailatul Qadar dengan sejumlah pertanda. Itupun sangat membutuhkan kejelian dan ketajaman rohani.
Tanda-tandanya antara lain:
- Pancaran sinar matahari hari itu tidak panas menyengat karena sisa-sisa energi malaikat rahmat semalaman, lebih menyerupai pancaran bulan purnama.
- Suasana malam itu bersih, cerah dan syahdu, tenang, tidak sejuk dan tidak panas.
Dalam Mu’jam at-Thabari al-Kabir disebutkan sabda Rasulullah, “Lailatul Qadar itu langit bersih, udara tidak dingin atau panas, langit tidak berawan, tidak ada hujan, bintang tidak nampak dan pada siang harinya matahari bersinar tidak begitu panas.”
Karena hanya pertanda, maka kebenaran ciri–ciri di atas boleh jadi bebeda di belahan dunia lainnya sesuai kondisi geografisnya. Sebenarnya, jika benar-benar tertancap kesadaran bahwa kita terikat ‘janji’ ketaatan kepada Allah, maka mengisi keseharian dengan amal-ibadah menjadi suatu kebutuhan, bukan semata–mata ingin terpilih atau ingin ‘menonton’ perhelatan Lailatul Qadar.
Mengapa Dirahasiakan
Kata Imam Fakhrurrazi, Allah merahasiakan Lailatul Qadar sebagaimana Dia menyembunyikan keridlaanNya pada setiap bentuk ketaatan agar siaga setiap saat dengan asumsi siapa tahu saat itu betepatan dengan moment yang dimaksud. Begitu juga Dia menyembunyikan kemurkaanNya agar kita waspada dan tidak memilah-milah antara dosa besar dan kecil. Dosa kecil jika dilakukan terus menerus akan menjadi dosa besar juga. Dia menyembunyikan para awlya’ agar manusia tidak terlalu bergantung kepada mereka dalam berdoa dan meminta bantuan, melainkan berusaha mandiri. Dia sembunyikan saat mustajabah doa pada hari Jum’at supaya kita berusaha sepanjang harinya. Begitulah Allah menyembunyikan Lailatul Qadar agar kita mawas diri sepanjang Ramadhan, bukan sekadar menunggu Lailatu Qadar saja untuk memperbanyak ibadah dan berdoa.
Tetapi inilah penyakit besar yang menimpa sebagian umat Islam. Menyebabkan malam-malam Ramadhan maupun hari-hari besar keagamaan lainnya menjadi lesu kerana mereka hanya menanti satu moment saja, mengejar keutamaan Lailatul Qadar yang tidak jelas menyebabkan kita terlewatkan fadlilat-keutamaan Ramadhan itu sendiri yang hanya setahun sekali.
Waktu Lailatul Qadar
Ketika ditanya tentang kapan kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar, Nabi saw bersabda, “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” [Hadits Riwayat Bukhari 4/221 dan Muslim 1165].
Sabda Nabi lagi, “Aku keluar untuk mengabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya; Mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima.)” [Hadits Riwayat Bukhari 4/232].
Selanjutnya, para salaf al-shalih menuturkan di kitab-kitab klasik (kuning) bahwa Lailatul Qadar mesti diwaspadai semenjak awal Ramadhan. Hal itu mengingat bahwa kebiasaan yang terjadi pada masa Nabi saw terus mengalami pergeseran.
Baik juga menggunakan hisab (prakiraan) Lailatul Qadar yang beredar di kalang para sufi (ahli tasawuf). Mereka ‘bersepakat’ bahwa Lailatul Qadar itu dapat diperkirakan dengan perhitungan sebagai berikut:
1. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Jum’at, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 29
2. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 21
3. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 27
4. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 29
5. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Selasa, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 25
6. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 27
7. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam tanggal 21
Demikian tejemah bayt nadham dalam kitab Hasyiyat Al-Bajury, bab I’tikaf. Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa Lailatul Qadar itu tidak berpindah-pindah, yakni selalu jatuh pada tanggal 27 Ramadhan atas dasar kata “hiya” – pada QS. Al-Qadar – yang maknanya merujuk pada Lailatul Qadar masuk pada hitungan kata ke-27 dari awal surat.
Apa upaya kita untuk meraih Lailatul Qadar? (Baca: Hidup 1000 Bulan)
-
1
Ping balik on Sep 18th, 2008 pada 9:29 am
[...] dari: About Lailatul Qadar One [...]
-
2
Ping balik on Sep 19th, 2008 pada 11:45 am
[...] juga: About Lailatul Qadar dan Hidup 1000 Bulan. No Comments Leave a Commenttrackback addressThere was an error with [...]
-
3
Ping balik on Jan 17th, 2009 pada 8:07 am
[...] About Lailatul Qadar [...]


























































17 September 2008 at 6:41 pm
Mau nanya.. .
1. Apakah semua orang yg sdg beribadah ketika para malaikat turun PASTI MENDAPAT LAILATUL QADAR? Ataukah Lailatul Qadar berkunjung spt tamu, jd tdk semuanya dpt walaupun sdg beribadah?
2. Malaikat turun di negara mana? Misal di Indonesia malam hari & ternyata terjadi Lailatul Qadar, apakah umat Islam di Eropa yg sedang ibadah puasa (krn siang hari) PASTI DAPAT KEUTAMAAN LAILATUL QADAR (krn sedang ibadah ketika malaikat turun?)
3. Bgmn kalau para ulama sedunia membuat catatan kapan lailatul qadar terjadi di tahun2 sebelumnya. Misal thn 1428H lailatul qadar terjadi pd malam 25, thn 1427 H pd malam 27 dst.. .
Terima kasih saya haturkan. Semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin.. .
Salam,
Achmad Faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com
3 September 2009 at 9:43 am
insyaallah lailatul qodar tahun ini 17 ramadhan
8 September 2009 at 10:27 pm
Semoga saja kita mendapatkan malam lailatur qadar itu. Amin Ya Rabbal Alamin..
+ Amin..
30 Agustus 2010 at 5:26 am
1. Apakah semua orang yg sdg beribadah ketika para malaikat turun PASTI MENDAPAT LAILATUL QADAR? Ataukah Lailatul Qadar berkunjung spt tamu, jd tdk semuanya dpt walaupun sdg beribadah?
BELUM TENTU, KARENA GA SEMUA ORANG YANG BERIBADAH PADA MALAM LAILATUL QODAR IKHLAS. UKURAN IKHLAS ADALAH NIAT. KALAU NIATNYA KARENA DAN UNTUK MENCINTAI ALLAH, MENCINTAI MAKHLUKNYA, MEMPERBAIKI DIRI INSYA ALLAH DIANGGAP IKHLAS. KALAU NIATNYA SELAIN ITU DIRAGUKAN KEIKHLASANNYA (TERMASUK NIAT MENCARI PAHALA DAN KEUTAMAAN 1000 BULAN, KARENA BUKAN ALLAH NIATNYA TAPI PAHALA)
2. Malaikat turun di negara mana? Misal di Indonesia malam hari & ternyata terjadi Lailatul Qadar, apakah umat Islam di Eropa yg sedang ibadah puasa (krn siang hari) PASTI DAPAT KEUTAMAAN LAILATUL QADAR (krn sedang ibadah ketika malaikat turun?)
YANG NAMANYA LAILATUL QODAR ADALAH MALAM HARI, BUKAN SIANG HARI. KEUTAMAANNYA JELAS TERJADI PADA MALAM HARI. DIMENSI ALAM MALAKUT DAN ALAM MANUSIA BEDA. DALAM DIMENSI ALAM MANUSIA ADA SIANG ADA MALAM, DALAM DIMENSI ALAM MALAKUT BELUM TENTU ADA HAL ITU.
3. Bgmn kalau para ulama sedunia membuat catatan kapan lailatul qadar terjadi di tahun2 sebelumnya. Misal thn 1428H lailatul qadar terjadi pd malam 25, thn 1427 H pd malam 27 dst.. .
IBADAH DALAM ISLAM TIDAK MENGENAL SPEKULASI, GAMBLING DAN MENDUGA-DUGA. SEGALA KEUTAMAAN SUDAH DIJELASKAN DAN PASTI. TERMASUK KEUTAMAAN 1/3 MALAM, KEUTAMAAN HARI JUMAT, KEUTAMAAN RAMADHAN DAN WAKTU KAPAN TERJADINYA LAILATUL QODR.
Kapan Lailatul Qodr?
Malam lailatul qodr itu saat turunnya Al Quran pada bulan Ramadhan, yang hal ini dikuatkan oleh firman Allah :
1. Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an (Al Baqarah : 185)
2. Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr (Al Qadr : 1)
3. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan (Ad Dukhan:3).
Riwayat para imam hadits, dari Abu Qatadah Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasalaam pernah ditanya tentang puasa hari senin. Beliau menjawab, “Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.” dalam lafazh lain disebutkan, “Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun kepadaku wahyu,” Lihat shahi muslim 1/268; Ahmad 5/299; Al Baihaqy 4/286-300; Al Hakim 2/602.
Hazrat Aisha Radiallah Anha menyatakan bahwa Rasul Allah saw berkata, “Lihat Lailat-ul-Qadr di malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (Bukhari) (HR Bukhari)
Hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu berdasarkan penelitian ilmiah? jatuh pada tanggal 7, 14,21 dan 28. Pertama kali diturunkannya adalah surat Al-Alaq, ketika Rasulullah SAW berada di gua Hira, yaitu sebuah gua di Jabal Nur, yang terletak kira-kira tiga mil dari kota Mekah. Ini terjadi pada malam Senin, tahun ke 41 dari usia Rasulullah 13 tahun sebelum hijriyah.
Jadi jika kita membandingkan antara firman Allah, hadits nabi dan penelitian ilmiah yaitu malam lailatul qodr itu saat turunnya alquran pada bulan ramadhan pada hari senin pada malam ganjil maka jelas pilihannya diantara tanggal 7, 14, 21, dan 28 yaitu jatuh pada malam tanggal 21
Adapun hadits yang menyatakan seperti ini :
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).
hadits itu menunjukkan eskalasi peningkatan ibadah rasulullah saw yang memang seharusnya demikian ibadah seorang yang bertaqwa semakin meningkat yang momentum titik tolaknya pada tanggal 21. Jadi tidak ada kemalasan ketika bukan malam ganjil dan tidak ada spekulasi / gambling di malam-malam ganjil. Sebagaimana sabda rasulullah saw
Hazrat Aisha Radiallah Anha menyatakan bahwa sebanyak Rasul Allah saw berusaha (Ibadat) di Asyrah terakhir (sepuluh hari) dari Ramadhan, tidak mencoba dalam salah satu dari Asyrah. “(Muslim)
Terima kasih saya haturkan. Semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin.. .
Salam,
Achmad Faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com
30 Agustus 2010 at 5:28 am
1. Apakah semua orang yg sdg beribadah ketika para malaikat turun PASTI MENDAPAT LAILATUL QADAR? Ataukah Lailatul Qadar berkunjung spt tamu, jd tdk semuanya dpt walaupun sdg beribadah?
BELUM TENTU, KARENA GA SEMUA ORANG YANG BERIBADAH PADA MALAM LAILATUL QODAR IKHLAS. UKURAN IKHLAS ADALAH NIAT. KALAU NIATNYA KARENA DAN UNTUK MENCINTAI ALLAH, MENCINTAI MAKHLUKNYA, MEMPERBAIKI DIRI INSYA ALLAH DIANGGAP IKHLAS. KALAU NIATNYA SELAIN ITU DIRAGUKAN KEIKHLASANNYA (TERMASUK NIAT MENCARI PAHALA DAN KEUTAMAAN 1000 BULAN, KARENA BUKAN ALLAH NIATNYA TAPI PAHALA)
2. Malaikat turun di negara mana? Misal di Indonesia malam hari & ternyata terjadi Lailatul Qadar, apakah umat Islam di Eropa yg sedang ibadah puasa (krn siang hari) PASTI DAPAT KEUTAMAAN LAILATUL QADAR (krn sedang ibadah ketika malaikat turun?)
YANG NAMANYA LAILATUL QODAR ADALAH MALAM HARI, BUKAN SIANG HARI. KEUTAMAANNYA JELAS TERJADI PADA MALAM HARI. DIMENSI ALAM MALAKUT DAN ALAM MANUSIA BEDA. DALAM DIMENSI ALAM MANUSIA ADA SIANG ADA MALAM, DALAM DIMENSI ALAM MALAKUT BELUM TENTU ADA HAL ITU.
3. Bgmn kalau para ulama sedunia membuat catatan kapan lailatul qadar terjadi di tahun2 sebelumnya. Misal thn 1428H lailatul qadar terjadi pd malam 25, thn 1427 H pd malam 27 dst.. .
IBADAH DALAM ISLAM TIDAK MENGENAL SPEKULASI, GAMBLING DAN MENDUGA-DUGA. SEGALA KEUTAMAAN SUDAH DIJELASKAN DAN PASTI. TERMASUK KEUTAMAAN 1/3 MALAM, KEUTAMAAN HARI JUMAT, KEUTAMAAN RAMADHAN DAN WAKTU KAPAN TERJADINYA LAILATUL QODR.
Kapan Lailatul Qodr?
Malam lailatul qodr itu saat turunnya Al Quran pada bulan Ramadhan, yang hal ini dikuatkan oleh firman Allah :
1. Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an (Al Baqarah : 185)
2. Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr (Al Qadr : 1)
3. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan (Ad Dukhan:3).
Riwayat para imam hadits, dari Abu Qatadah Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasalaam pernah ditanya tentang puasa hari senin. Beliau menjawab, “Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.” dalam lafazh lain disebutkan, “Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun kepadaku wahyu,” Lihat shahi muslim 1/268; Ahmad 5/299; Al Baihaqy 4/286-300; Al Hakim 2/602.
Hazrat Aisha Radiallah Anha menyatakan bahwa Rasul Allah saw berkata, “Lihat Lailat-ul-Qadr di malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (Bukhari) (HR Bukhari)
Hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu berdasarkan penelitian ilmiah? jatuh pada tanggal 7, 14,21 dan 28. Pertama kali diturunkannya adalah surat Al-Alaq, ketika Rasulullah SAW berada di gua Hira, yaitu sebuah gua di Jabal Nur, yang terletak kira-kira tiga mil dari kota Mekah. Ini terjadi pada malam Senin, tahun ke 41 dari usia Rasulullah 13 tahun sebelum hijriyah.
Jadi jika kita membandingkan antara firman Allah, hadits nabi dan penelitian ilmiah yaitu malam lailatul qodr itu saat turunnya alquran pada bulan ramadhan pada hari senin pada malam ganjil maka jelas pilihannya diantara tanggal 7, 14, 21, dan 28 yaitu jatuh pada malam tanggal 21
Adapun hadits yang menyatakan seperti ini :
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).
hadits itu menunjukkan eskalasi peningkatan ibadah rasulullah saw yang memang seharusnya demikian ibadah seorang yang bertaqwa semakin meningkat yang momentum titik tolaknya pada tanggal 21. Jadi tidak ada kemalasan ketika bukan malam ganjil dan tidak ada spekulasi / gambling di malam-malam ganjil. Sebagaimana sabda rasulullah saw
Hazrat Aisha Radiallah Anha menyatakan bahwa sebanyak Rasul Allah saw berusaha (Ibadat) di Asyrah terakhir (sepuluh hari) dari Ramadhan, tidak mencoba dalam salah satu dari Asyrah. “(Muslim)
Terima kasih juga saya haturkan.
Salam,
http://afzanpublishing.wordpress.com