Hidup 1000 Bulan
Hidup 1000 Bulan
Oleh Shodiqiel Hafily
18 September 2008
Saya tidak mendapati cara apapun yang terbaik untuk meraih dan menyongsong Lailatul Qadar selain dengan meneladani sunnah Rasulullah yang menjadi panutan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Setidaknya hal itu merupakan cara pokok dan utama yang mesti kita lakukan.
Kebiasaan Nabi Muhammad saw
Di sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah melakukan hal-hal berikut ini :
- Mandi, berpakaian indah dan memakai wewangian
Dituturkan oleh Ibnu Abi Asim bahwa Huzaifah pernah mengerjakan qiyam al-layl di bulan Ramadhan bersama Rasulullah dan melihat bahwa Beliau mandi pada malam itu. Ibnu Jarir juga berkata, bahwa sahabat menyukai mandi pada malam akhir Ramadhan. Demikian pula penuturan Anas bin Malik dan para ulama pada masa tabi’in. Mereka menyatakan bahwa mereka mandi, memakai baju indah dan wewangian.
- Melaksanakan shalat sunnah, i’tikaf dan membaca Al-Qur’an
Hadits Aisyah dituturkan oleh Bukhari dan Muslim mengisahkan bahwa pada 10 hari terakhir Ramadhan biasanya diisi Rasulullah saw dengan i’tikaf di masjid. Kebiasaan ini berlangsung sampai beliau wafat.
- Memperbanyak doa
Sebuah hadits dari Aisyah dituturkan At-Turmudzi menyatakan bahwa Aisyah diajarkan Rasulullah saw membaca doa pada Lailatul Qadar, “Allaahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anny.” Artinya, “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai pengampunan, maka ampunilah hamba..”
Keutamaan Lailatul Qadar
Rasulullah saw bersabda dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah, “Barangsiapa menghidupkan Lailatul Qadar atas dasar keimanan dan keikhlasan, maka diampuni baginya dosa yang telah lalu.” Bukan “hanya” pengampunan ini saja, akan tetapi derajat-kedudukan yang luhur di Hadirat Allah disematkan pada orang yang Allah berkenan memberikan anugerahNya. Dan yang sangat menguntungkan adalah ibadah ketika itu setara dengan pahala beribadah 1000 bulan (senilai hidup dengan ibadah lebih dari 80 tahun).
Melengkapi pengertian hidup 1000 bulan ini, ada baiknya saya sajikan tulisan berikut ini, yang mencoba memberi tinjauan dari sisi ilmiah terkait penafsiran modern pada QS Al-Qadar (97/3) dengan kajian astronomi.
..bahwa 1000 bulan itu waktu setantangnya Surya, Bumi dan Muntaha (Planet Terbesar). Dengan kata lain yaitu hari berlakunya Transit Muntaha di atas orbit Bumi itu lebih baik dari pada 1.000 bulan. Yang dimaksud dengan 1.000 bulan ialah waktu berlakunya Double Transit Jupiter dan Saturnus di atas orbit Bumi. Kesimpulannya ialah bahwa Muntaha lebih besar dari pada Jupiter dan Saturnus, Muntaha 318 lebih besar dan 95 kali Bumi atau Muntaha lebih besar dari pada 413 kali besar Bumi, maka kita menyimpulkan Muntaha itu mempunyai massa minimal 415 kali besar Bumi.
Dengan maksud lain dapat pula ditafsirkan bahwa Malam Qadar yang termaktub dalam ayat 97/1 adalah malam berlakunya Transit Muntaha di atas orbit Bumi. Keadaan itu akan menimbulkan cuaca mendung berhujan di daerah panas sekeliling Bumi disebabkan pembesaran radiasi Surya yang menyebar, tidak terpusat. Akibatnya akan menyuburkan permukaan Bumi. Karenanya dikatakan Transit Muntaha atau Malam Qadar itu lebih baik dari pada 1.000 bulan atau lebih baik dari pada berada di bawah Double Transit Jupiter dan Saturnus yang berlaku satu kali dalam 1.000 bulan. Jika pembesaran radiasi Surya jadi memusat pada daerah tertentu disebabkan jarak kedua planet itu tidak berapa jauh di atas orbit bumi, maka timbullah bencana yang sangat tak diharapkan.
Ada suatu cara untuk dapat menentukan di mana status Muntaha setiap hari atau khususnya setiap tahun yaitu kembali pada tgl 17 Ramadhah tahun 13 sebelum Hijriah. Waktu itu Muntaha tepat berada 90 derajat di atas Bumi kalau ditarik suatu garis lurus ke arah Surya. Keadaan demikian akan berlaku setiap tahun dengan tambahan 15 hari sedang tahun keempatnya ditambah 16 hari. (Dikutip dari sini).
Mungkin Anda mempunyai penjelasan lebih detail tentang makna 1000 bulan, silakan komentar di sini untuk melengkapi. Atau mungkin juga Anda akan lakukan koreksi, silakan lakukan dengan senang hati.[]
Lanjutan dari: About Lailatul Qadar
-
1
Ping balik on Sep 18th, 2008 pada 9:24 am
[...] upaya kita untuk meraih Lailatul Qadar? (Baca: Hidup 1000 Bulan) No Comments Leave a Commenttrackback addressThere was an error with your comment, please try [...]
-
2
Ping balik on Sep 19th, 2008 pada 12:07 pm
[...] juga: About Lailatul Qadar dan Hidup 1000 Bulan. No Comments Leave a Commenttrackback addressThere was an error with your comment, please try [...]


























































19 September 2008 at 12:58 am
KOREKSI: ..banyak hal yang ajaib di tulisan diatas. Lah kalo hal yang ajaib, ya jangan dimasukkan ke sains, ke alam ghaib aja.
1. Dimanakah keberadaan planet Muntaha itu? Jika jawabannya ada di alam ghaib, maka nggak usah bawa2 sains di sini dech.
2. Disebutkan waktu 1000 bulan adalah waktu triple conjuction antara Jupiter dan Saturnus terhadap bumi.
Ini penipuan atau pembodohan publik? 1000 bulan adalah 83 tahun lebih dikit. Triple conjuction antara Jupter, Saturnus dengan bumi hanya terjadi SEKALI dalam 800 tahun.
3. Disebutkan bahwa Muntaha selalu kembali saat Ramadhan, artinya revolusi planet Muntaha adalah lebih cepat dari revolusi bumi. Mudahnya planet itu berada antara bumi dengan Venus, dan cenderung sangat dekat dengan bumi, dilihat dari periode revolusinya.
Tapi disebutkan Muntaha sangat besar, lebih besar dari Jupiter dan Saturnus. Anehnya tak ada yang pernah lihat nih planet.. Alam ghaib atau alam mimpi?
4. Dengan massa yang raksasa seperti itu, 415 kali massa bumi serta jarak yang sangat dekat dengan bumi, analisanya kalau bumi nggak tertarik dan hancur ‘nabrak Muntaha ya bumi jadi satelitnya Muntaha.
Bukannya daerahnya jadi subur, Mas. Sudah kiamat dari dulu kalo bener. Untung nggak bener ya..
Tapi saya berterimakasih juga, sudah membuat otakku bekerja dan nggak telan mentah2 kutipan nggak jelas ini.
+ Terima kasih KOREKSI Anda semoga tidak luput dari pembaca agar tidak terjadi pembodohan publik. Dan semoga, ke depan, orang tidak memposting hal-hal yang dipaksakan jadi ilmiah malah jadi tidak benar.
19 September 2008 at 9:25 pm
Saya sangat sepakat dengan Mas Zaeini. Hati2lah dalam mengadopsi sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya.
Bicara Islam itu dasarnya Al-Qur’an, lalu Hadits, lalu Ijmak lalu Qiyas, dan BUKAN yang lain.
Bicara Sains, di era digital ini kita tinggal link kan, sumbernya sudah.
Pro Mas Shodiq, thanks atas warningnya, moga kita mau tabayun…
21 September 2008 at 9:21 pm
Muntaha? Planet mana tuch ? Tapi itu kayaknya penafsiran yang terlalu. Hati2 kalo salah tafsir malah jadi sesat…
+ Dari kisah Mi’raj Nabi Muhammad saw.
5 September 2009 at 3:14 am
Definasi Muntaha sebagai sebuah planet adalah terlalu sempit dan cetek sekali. Muntaha adalah suatu tempat tertinggi yang terletak di langit yang ketujuh, di mana adalah termasuk dalam perkara-perkara ghaib yang kita sukar untuk menjelaskannya. Jika setakat 415 kali massa bumi, tidak boleh jelaskan yang di Muntaha itu terletaknya surga dan neraka. Allah SWT menyatakan yang luas surga itu seluas langit dan bumi. Wallahu’alam.
6 September 2009 at 1:10 am
Saya ada terbaca huraian tentang alam-alam yang sangat detail sekali, disokong oleh ayat-ayat Al-Quran, Hadis dan juga astronomi. Saya rasakan huraian yang dijelaskan adalah sangat bertepatan. Sila baca :
http://tamansufi.tripod.com/alam.html
17 Oktober 2009 at 6:03 am
kalau sama’ = langit
maka samawat = langit – langit.
samawat persamaannya bumi.
disana ada daabahnya juga.
masak planet planet yg nb langit langitnya bumi dianggurkan