Ayat-ayat Cinta vs Ayat-ayat Setan (I)


Serupa Beda Usia

Ayat-ayat Cinta vs Ayat-ayat Setan (I)
Oleh Shodiqiel Hafily
28 April 2008

Serupa Beda Usia, Berapa..?” Begitulah saya beri judul foto rekayasa NauRa dan Saskia Adya Mecca itu. Beberapa ‘kebetulan’ dan keserupaan diantara mereka bukan hanya pada wajah dan penampilan, akan tetapi juga pada struktur kekerabatan. Keduanya sama-sama bintang panggung dan punya hubungan kekeluargaan dengan orang bernama Rusdi. Perbedaannya? Perbedaan paling mendasar tentu saja pada selisih usia. Di dalam film, Zaskia berperan sebagai Naura, sedang NauRa yang sesungguhnya adalah santri (wati). NauRa seorang diva qasidah sedang Zaskia seorang aktris, Naura bersuara merdu Zaskia bersuara agak parau (seperti suara orang kena pilek). Memperbandingkan dua gadis cantik itu, saya jadi berfikir lebih jauh dan merasa agak aneh dan takjub karena mereka terhubung juga dengan Salman “Rushdi”, penulis Ayat-ayat Setan (Satanic Versus) yang terkenal itu. Bedanya, AYAT-AYAT CINTA membangun jiwa sedang AYAT-AYAT SETAN menyulut amarah. Inilah topik yang saya akan ketengahkan, bukan ‘keanehan’ yang saya rasakan terkait foto croping-rekayasa itu.

Trend Islami

Ayat-ayat Cinta, Agaknya cukup pas disebut novel pembangun jiwa, baik filmnya terlebih lagi bukunya, karena memang mengandung daya pikat yang cukup besar di kalangan masyarakat muslim yang sedang mengalami degradasi moral, ekploitasi aurat dan krisis idola “baik-baik”. Timingnya juga pas bersamaan dengan laris-manisnya kemunculan diva-diva pop religi, pertanda masyarakat merasa kegerahan jiwa dan haus penyejuk rohani.

Film Ayat-ayat Cinta sebetulnya biasa saja, bahkan kesederhanaan alur ceritanya mirip drama pementasan di pondok-pondok pesantren atau sekolah / madrasah. Apalagi yang telah membaca bukunya, pasti mendapati banyak sesuatu yang “hilang” sehingga terasa kurang memuaskan. Saya sendiri, pada saat booming film Ayat-ayat Cinta, dengan suka rela turut mempromosikan bahkan menjadi ‘agen’ bagi siswa-siswi yang lagi keranjingan. Koq, mau-maunya saya begitu? Bukan apa-apa, saya hanya melihat peluang untuk mengalihkan – setidaknya – memberikan imbangan idola yang agamis serta memasukkan unsur-unsur pembelajaran yang positif di saat mereka susah sekali menerima ceramah nasihat-nasihat yang baik-baik karena telah terkontaminasi trend zaman yang kurang mendidik, bahkan –terkadang- belum waktunya.

Banyak hal bisa dilakukan; membuat resensi, tamaddun, selipkan sejumlah pesan dll. Misalnya tentang shalat yang kerap mereka tinggalkan tanpa rasa bersalah atau dosa, etika bergaul antara muhrim dengan non muhrim yang – di negeri ini – semakin longgar akibat ‘limbah’ impor budaya asing, peluk-cium di depan kamera sudah biasa dilakukan para artis selebretis, bahkan ‘begituan’ pun divideokan. Seberkas harapan terbersit di benak, seandainya para artis selebritis idola paramuda itu tidak kebablasan dan – selagi diidolakan – memerankan diri sebagai figur publik yang layak jadi panutan dan pembangun jiwa, betapa besar manfaat mereka. Dunia hiburan yang tampaknya hanya glamoritas hura-hura hampa makna, dapat berbuah pahala. Jadi ingat pengajian, “Banyak profesi yang sekilas tampak berorientasi pada keduniawian menjadi ukhrawi dalam pandangan Tuhan.”[]