Menemukan Tuhan Allah


Jangan cari yang ADAMenemukan Tuhan Allah
(Kajian Tawhid)
Oleh: Shodiqiel Hafily
01 Muharram 1424 H

Ada perbedaan mendasar pada kata “mencari” dan “menemukan”. Mencari berarti berusaha mendapatkan sesuatu yang tidak ada. Menemukan berarti berusaha mendapatkan sesuatu yang telah ada atau diyakini ada. Makna ini dapat difahami dari penggalan hadits qudsy,
“..وليطلب ربا سواي”
“..cari/tuntutlah Tuhan selainKu.” Padahal kalimat tauhid secara tegas menyatakan,
“لا إله إلا الله / إلا هو / إلا أنا ”
Jadi penegasannya adalah Tuhan itu ada yaitu Allah, tapi belum ditemukan hakikatNya, dan hakikat itulah yang mesti ditemukan.

Selain tersimpul perbedaan makna mendasar pada “mencari” dan “menemukan”, juga terdapat mafhum dlimny yang memberi pemahaman bahwa redaksi kalimat hadits qudsy itu bermaksud meng-GERTAK. Sebab jika memang ada tuhan “sungguhan” selain Allah, maka akan rusak binasalah langit dan bumi beserta penghuninya. Demikian Qur’an kalam Allah menegaskan keesaanNya.
Pertanyaan yang sering terbersit dan menggelitik hati adalah di manakah wujud Allah? Biasanya, orang yang pandai dan suka bermain kata-kata menjawab, “Tuhan (Allah) itu tidak ada di mana-mana tapi ada di mana-mana”. Sepintas jawaban itu seperti betul, rasional dan tidak bisa disangkal kebenarannya. Akan tetapi, bila dicerna secara cermat dengan pendalaman bahasa, jawaban itu salah besar, kontradiktif dan dapat menyebabkan murtad orang yang mengucapkannya dengan sengaja dan mengerti.
Kita telaah rangkaian kalimat pertama, “Tuhan tidak ada di mana-mana”. Artinya, Tuhan tidak berada di tempat yang berbeda-beda, melainkan berada hanya di satu “mana”. Dengan demikian, kalimat itu berarti menetapkan keberadaan Tuhan di sebuah “mana” yang pegucapnya sendiri tidak tahu di manakah lokasi “mana” itu. Berbeda dengan kalimat “Tuhan tidak berada di manapun”. Kalimat ini menegaskan bahwa Allah tidak menempati tempat, arah dan ruang apa saja.
Kalimat kedua, “ …tapi ada di mana-mana”, pengertiannya lebih tegas menetapkan keberadaan Allah di tempat mana saja. Sedangkan tempat mana saja itu mencakup tempat-tempat yang dimulyakan seperti Masjidil Haram, mushalla, halaqah dzikir dll. Juga meliputi tempat-tempat kotor seperti got, wc, dsc. Bagaimanakah jika “dimana-mana” dipakai untuk menunjuk kepada contoh “mana-mana” berupa selokan? Jika disangkal, berarti menempatkan Allah pada sisi tempat lainnya, bukan di selokan. Bukankah kalimat kedua lebih menegaskan iftiqar Allah pada suatu mahal-makan? Dan, tentunya, ini lebih kacau lagi.
Sedang pada ayat:
“فأينما تولوا فثمّ وجه الله”
Ulama muhaqqiq memberi makna ‘فثمّ’ (di sana) sama dengan ‘ثمّ’ yang terdapat dalam ayat:
“وإذا رأيت ثمّ رأيت نعيما وملكا كبيرا”
Yang artinya tempat dan masa yang dijanjikan, yakni akhirat. Sebuah tempat dan masa yang ghaib (abstrak), yang ilmunya (pengetahuan tentangnya) menjadi rahasia Allah yang tidak mampu diungkap manusia, jin atau syetan sekalipun. Jadi, arti ayat di atas – wallahu a’lam – adalah: “ … maka di manapun engkau menghadap (beribadah) maka kelak di tempat yang telah dijanjikan itu ada Dzat Allah.” Maksudnya – sekali lagi wallahu a’lam – kalaupun beribadah kepada Allah di dunia tidak/belum menemukan hakikat Allah, di akhirat kelak pasti menemukan hakikatNya. Oleh sebab itu, jangan persoalkan menghadap ke arah mana dalam ibadah, sebab Allah tidak butuh kepada makhluk bernama ruang dan tempat manapun.
Para ulama mutakallimin (teolog) sunny men-ta’wil ayat di atas dengan menambahkan kata أية (tanda) qudrat-iradat. Sehingga terjemahnya berbunyi, “… maka ke manapun engkau menghadap beribadah, maka di sana ada manifestasi (perwujudan) tanda kuasa dan kehendak Dzat Allah”. Baik pengertian secara ta’wil ini maupun yang merupakan tafsir kontemplatif ulama muhaqqiq di atas (sebelumnya), sama-sama tidak menimbulkan kerancuan pemahaman ketauhidan pada premis “ليس كمثله شيء.” Dengan demikian, ayat di atas tidak bisa dijadikan dalil untuk menyatakan Allah berada dimana-mana. Wujud Allah tidak bisa diilustrasikan, namun wajib diimani secara mutlak dengan menyelami ciptaan-ciptaanNya. Allah wujud, berbeda sama sekali dengan wujud makhluk, baik dalam dzat, sifat maupun af’al-Nya. Segala gambaran yang terbetik di hati atau membayang di angan-angan, maka Allah sama sekali berbeda dengan semua itu.
Oleh sebab Allah maha rahasia, maka dalam Safinah Syaikh Nawawy, sang ulama Hijaz, dikutip sebuah hikmah ulama, barang siapa tidak tergoda oleh lima pertanyaan tentang Allah, sungguh ia telah menyempurnakan imannya; Yaitu siapa, di mana, kapan, bagaimana dan berapa.
Ada banyak tarekat wushul ila Allah (sampai kepada derajat mahabbah, dekat, menemukan… Allah). Para ulama menawarkan beragam suluk (jalan yang mesti ditempuh sebagai tahapan proses wushul) sesuai pengalaman teofanik yang mereka dapati. Semuanya bermuara pada dzikir (baik mahdly maupun ghair mahdly). Sebagian ulama mengadopsi wadhifat dzikir Qodiriyah, Naqsyabandiyah, Tijaniyah dll. Lebih dari 40 tarekat pernah dikenal dan dianut sebagai metode menuju insan kamil (manusia sempurna, yang mengerti jati dirinya dan mengerti hakikat Tuhannya).
Mengapa begitu banyak tarekat? Sebab sebagaimana disinggung sebelum ini, bahwa tarekat itu wadhifat (suatu amaliyah yang ditekuni) yang pernah ditempuh seseorang, yang dengan wadhifat itu dia sampai pada kehakikian hidup. Allah yang bersifat Al-Wajid (yang menjadikan makhluk dapat menemukan nilai hakiki), jika berkenan, dapat mewushulkan hamba-Nya dengan amalan baik apa saja. Terlebih lagi, dalam hal wushul ini, setidaknya ada dua kelas pemrosesan, yaitu kelas murid dan murad. Murid artinya hamba yang berkehendak menuju Allah, murad berarti hamba yang dikehendaki Allah wushul kepadaNya.
Murid dan murad dapat dicontohkan perbandingan Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW. Ihwal Nabi Musa adalah sebagai murid, sedang ihwal Nabi Muhammad sebagai murad, sebagaimana dinyatakan Qur’an: Nabi Musa mengucap doa, “رب اشرح لي ”, sedang Nabi Muhamad dikhithab dengan: “ألم “نشرح لك صدرك ; Nabi Musa memohon dengan doa, “”رب أرني أنظر إليك, sementara Nabi Muhammad dikhithab dengan ayat: “لنريه من أياتنا” dan diundang Allah bermi’raj ke hadiratNya.
Dzun Nun al-Mishri pernah ditanya bagaimana beliau dapat ma’rifat kepada Tuhan. Beliau menjawab, “عرفت ربي بربي ولولا ربي لما عرفت ربي” (aku ma’rifat kepada Tuhanku karena pertolongan Tuhanku jua, andai bukan karena perkenan Tuhanku niscaya aku tidak akan ma’rifat kepada Tuhanku). Oleh sebab itu, untuk wushul kepada Allah tidak harus selalu dengan tarekat formal dan mu’tabar, karena yang telah menggelutinyapun belum tentu dapat wushul. Yang terpenting, ada niat kuat untuk meningkatkan kualitas diri di hadirat Allah, dengan upaya apapun yang kita mampu dan kita kuasai.
Pilihan upaya wushul yang paling sederhana adalah: التخلي عن المذمومة والتحلي بالمحمودة (menanggalkan sifat dan perilaku tercela dan menghiasi diri dengan sifat dan perilaku terpuji). Amaliyah dzikir utamanya adalah shalat 5 waktu. Ada beberapa alasan mengapa shalat dijadikan menu utama; Pertama, Nabi Muhammad SAW. memperoleh perintah shalat ketika mi’raj, dan nabi menyatakan bahwa shalat adalah sarana mi’raj seorang mukmin. Kedua, shalat adalah kefardluan paling utama dibanding yang lainnya, tentu, setelah iman. Ketiga, ulama menyatakan bahwa paling banyak orang mencapai futuh dan tenggelam dalam samudera ketuhanan adalah dalam shalat. Keempat, Nabi bersabda, “Kondisi paling dekat seorang hamba kepada TuhanNya adalah saat sujud”.
Mulailah suluk dengan menunaikan shalat yang baik. Shalat yang baik itulah yang menempa seorang mukmin hingga terhindar dari perbuatan yang keji dan mungkar. Shalat yang baik adalah yang terpenuhi syarat rukunnya serta dilakukan dengan ikhlas dan khusyu’. Khusyu’, bukan seperti yang difahami banyak orang, yaitu menyembah Allah seakan melihatNya, atau jika tidak bisa demikian hendaklah menyembah Allah seolah-olah diawasi olehNya. Bukan demikian yang dimaksud khusyu’ dan kunci shalat yang baik. Khusyu’ dengan pengertian tersebut, dapat mendatangkan waswas al-syaithan dengan ragam penjelmaan dan ilusi-visualisasi khayalan yang bukan-bukan. Khusyu’ yang ditegaskan kitab-kitab fikih adalah: al-isytighal bima huwa fihi (menyibukkan dan menghadirkan hati dan perasaan serta menjiwai apa yang dilakukannya saat itu). Menjiwai ruku’, sujud, dan lainnya sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah. Tidak membiarkan pikiran berkelana kepada ingatan apapun selain shalatnya. Bahkan, tidak mengingat negeri akhirat dengan surga atau neraka yang belum pernah sekalipun kita kunjungi, mengetahuinyapun tidak. Wallah a’lam bi al-shawab. []