Serambi Alkhoirot (I)


Serambi Alkhoirot (I)
Oleh Shodiqiel Hafily
07 April 2008

Ahad (30/3), hari libur, jauh hari saya rencanakan untuk sowan ke Pondok Pesantren Al-Khoirot, tempat saya dulu belajar wudlu dan mandi. Pagi hari berangkat dari Poncokusumo, dhuhur baru sampai di rumah kelahiran saya, Brongkal. Biasanya, Poncokusumo-Brongkal saya tempuh kurang dari satu jam dengan sepeda motor. Kenapa sampai berja-jam? Harus ‘transit’ dulu hampir 3 jam menghindari razia PJR di Talok. Di Gondaglegi, saya mampir di toko kitab Pak Haji, siapa tahu ada buku menarik. Biasa, kalau ada uang lebih saya sisihkan buat beli buku, ngelengkapin perpustakaan pribadi. Tiba-tiba, mata saya tertumbuk pada tumpukan buku di atas etalase bertitle “Santri, Pesantren dan Tantangan Pendidikan ISLAM.” Seketika saya teringat artikel-artikel yang beberapa hari lalu saya copy di situs Alkhoirot dan A. Fatih Syuhud. Dan.. bener saja, itu buku kumpulan artikel yang telah habis saya telaah telan tempo hari. Kendati demikian, saya tetap pengen memilikinya. Sayang sekali, Pak Haji belom tahu harganya. Yach, terus saja saya ngeloyor nerusin perjalanan. Sore hari, dari rumah meluncur ke makam orang tua dan leluhur saya, terus ke Alkhoirot. Pesarean Mbah Yai Syuhud adalah jujugan pertama. Sekitar sepeminum teh ngaji di makam, saya sempatkan melongok sana-sini seputar Alkhoirot. Ada kerinduan mendalam, terkenang masa-masa di pesantren ini walau cuma sebentar. Lekat di memory ingatan saya, pagi hari pertama ngaji, Mbah Yai menyapa saya katanya, “Je’ bid abid ngajih, ndeng mulang.” Pas kata mulang itu yang terbetik di benak saya justru kata: mule, maklum belum krasan. Mungkin kata-kata Mabah Yai kala itu diamini malaikat, saya benar-benar tidak lama di pondok, tidak genap setahun. Satu-satunya pelipur ketidakkrasanan saya kala itu hanyalah koleksi buku cerita silatnya Ra Ja’far, Asmaraman S Kho Ping Ho. (Mungkin karena buku itu, teman-teman suka ngeledek saya dengan julukan: Pendekar Syair Berdarah). Mudah-mudahan Ra Ja’far memafkan saya baca bukunya tanpa ijin. Tapi sungguh, saya tidak berani lancang masuk kamar atas di ujung utara sebelah tangga apalagi menyentuh benda-benda di dalamnya. Saya dibawain teman yang – mungkin – telah akrab dengan Ra Ja’far. Hem, kini kebanyakan telah berubah. Di sana-sini telah di’kustomisasi’ seiring peredaran zaman. Dulu polos dan teramat sederhana, kini telah lumayan asri. Gedung madrasah diniyah masih baru, perumahan keluarga ndalem berjejer rapi, pondok dicat manis dengan style minimalis. Sayang sekali, saya lupa bawa kamera digital milik kantor. Puas liat-liat sono-sini, saya ke ndalem, mau sowan ke putra-putra Mbah Yai, terutama ke Ra Hamid yang baru rawuh dari Makkah, kangen. Beliau dulu (1986) seangkatan di madrasah diniyah. Siapa tahu saya dikasih oleh-oleh sebab, di internet, saya tidak ketemu tulisan beliau. Saya hanya ‘ketemu’ Ra Ahmad, Ra Ja’far dan Ra Imdad. Dengan mereka, saya cuma kenal nama, karena pas di pondok dulu mereka sedang ngangsu kaweruh entah di mana saja. Hanya Ra Hamid dan Ra Ama’ yang saya kenal baik (beneran). Menjelang maghrib, saya pamit kepada Ra Hamid, beliau nyaranin agar saya ‘nunggu Ra Ahmad. Ra Hamid seolah bisa membaca pikiran saya bahwa saya pengen ketemu idola saya. Memang, saya ngrasa ga’ enak belum ketemu Ra Ahmad. Oleh-olehnya dari negeri seberang telah saya santap sebelum disilakan. Padahal, dibanding yang lain-lain, mungkin, saya yang paling banyak dan ‘rakus’ ngusung buah tangan penanya. Tapi, apa boleh buat, saya mesti pulang, kerjaan menanti untuk saya selesaikan. Saya lega, kangen ke Ra Hamid lumayan terobati. Saya cuma ‘nitip salam hurmat-ta’dhim buat Ra Ahmad. Di kios pondok, saya dapati buku yang tadi pagi saya mau beli di Gondanglegi, Santri, Pesantren dan Tantangan Pendidikan ISLAM. Cuma Rp. 15.000. Kebiasaan, tiap ketemu buku baru, saya amati dua halaman; 1) Daftar isi dan 2) Referensi. Daftar isi saya tuju untuk mengetahui tema apa saja yang disajikan, referensi untuk mengukur sekilas seberapa bobot-mutu buku. Biasanya lagi, kalau referensinya sudah familiar dengan saya, maka saya beralih cari buku lain. Tapi, kebiasaan tentu ada pengecualian. Buku-buku karangan orang sekaliber Gus Dur, Cak Nur, dan yang selevel mereka, ga’ perlu lagi saya amati daftar isi maupun referensinya. Mereka sudah kapabel dan pakar di bidangnya, maka saya hanya perlu tahu judulnya; sudah punya apa belom juga duitnya ada ngga’. Buku terbitan pondok sendiri termasuk pengecualian juga. Koq, kebetulan, referensi yang saya lihat pas halaman terakhir. Di situ dahi saya mengkerut dan hati tersenyum kecut membaca nama: Syaikh Salim bin Syaikh Smith Al Hadlramy. Nama itu cukup saya kenal akrab, tapi.. tidak pondok saja banyak mengalami perubahan, kini beliau juga tampil berubah nama lebih keren: Smith. Ah, betapa jauh saya ketinggalan kereta. Bersambung..