Diary Akhir 2007


YANG MANDUL, YANG NGOTOT, YANG MENYESAL
Sejak awal, invasi militer AS dan sekutunya ke Iraq memang menimbulkan kontroversi. Kalangan pemimpin dunia pun terpecah antara mendukung dan menolak. Sementara PBB yang diharapkan menjadi penengah, kehilangan peran. AS pun mengabaikan pendapat dan suara badan internasional tersebut.
Kofi Annan Menyesal
KOFI ANNAN, Sekretaris Jenderal PBB (saat itu).
Sejak awal ia tidak setuju dengan usul AS untuk melakukan invasi militer di Iraq. Apalagi, tiga dari anggota tetap Dewan Keamannan (DK) PBB memveto resolusi tersebut. Ketiga negara itu adalah Perancis, Rusia dan Tiongkok. Dua anggota DK–PBB lainnya, AS dan Inggris, bersikukuh pada rencana menginvasi Iraq dengan mengabaikan keputusan PBB.
Meski markas PBB di Baghdad, Iraq tetap di bom dan menewaskan pejabat paling senior, Annan tetap pada sikapnya menolak perang Iraq. “itu (perang Iraq) tidak sesuai dengan piagam PBB dari sudut pandang manapun. Karena bisa disebut illegal,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan BBC.
Sebelum mengakhiri jabatannya akhir 2006, dalam pidato terakhirnya, dia kembali mengungkapkan penyesalanny atas perang Iraq. “Tidak ada bangsa yang dapat membuat dirinya aman dengan mencari supremasi dari bangsa lain,” ujarnya.
Menyesal masih lebih baik HANS BLIX, Ketua tim inspeksi senjata PBB
Dia ditugasi PBB untuk membuktikan tuduhan AS bahwa Iraq telah mengembangkan senjata pemusnah masal (WMD/Weapons Of Mans Destruction). Namun belum lagi ia menyelesaikan tugasnya, AS keburu menyerang Iraq.
Blix pun memutuskan mengundurkan diri. Dia pun menuduh AS dan Inggris memang terobsesi menyerang Iraq, meski tanpa dalih apapun. “Saya jadi ragu bagaimana sebenarnya sikap mereka (AS dan Inggris) terhadap hasil pemeriksaan kami,” ujarnya kepada media El Pais Spanyol April 2003.
Setahun kemudian ia membuat pernyataan bahwa mustahil AS menemukan WMD di Iraq, sebagaiman yang negeri itu tuduhkan. Menurutnya, intelejen AS telah membuat skandal besar yang membuat tragedi berkepanjangan di Iraq. “Satu-satunya hal yang positif, adalah lenyapnya Sadam Husain, ” katanya.
Lavrov punya hati dan pendirian SERGEI LAVROV, Perwakilan Rusia di PBB
Dia menyebut ambisi AS menyerang iraq adalah untuk menguasai kekayaan minyak di negeri seribu satu malam itu. Lavrov adalah penentang keras perang Iraq. “Rusia tidak pernah mempertimbangkan perang sebagai alat yang pantas untuk mengatasi isu di Iraq,” ujar Sergei Lavrov.
Bersama Perancis, Rusia menyebut aksi militer yang tidak beralasan itu mencederai hukum internasional dan piagam PBB. Sikap keras untuk memunculkan sentiment lama perang dingin antara AS dan Uni Sovyet (yang kini terwakili Rusia).
Sesal selalu datang kemudian COLIN POWELL, Menlu Amerika Serikat
Inilah tokoh yang bisa jadi akan menyesal seumur hidup karena menyetujui invasi militer ke Iraq. Dengan dasar foto-foto satelit dan penyadapan pembicaraan antara para pejabat Iraq, dia menyimpulakan bahwa negeri itu memang sedang mengembangkan senjata pemusnah masal. “Banyak sumber yang menyatakan bahwa Iraq telah bergerak. Mereka menyembunyikan dokumen terkait WMD dari pemeriksaan tim inspektur PBB,” katanya di awal-awal perang.
Belakangan dia mengakui bahwa tidak semua informasi terkait WMD di Iraq, yang diperolehnya benar. Dia akhirnya memilih mengundurkan diri dari jabatan sebagai menlu AS pertengahan 2004.
Setahun kemudian dia membuat pernyataan bernada penyesalan yang telah menyetujui dan mendukung perang Iraq. Dia mnyebut langkahnya itu sebagai noda dalam kehiduannya. “itu akan menjadi bagian dari catatan (buruk) saya,” katanya.
Tirani, tak punya hati, haus darah dan arogan GEORGE W. BUSH, Presiden Amerika Serikat
Bush berdalih memiliki tiga alasan untuk menyerang Iraq. Pertama melucuti WMD, mengakhiri dukungan Sadam Husain terhadap terorisme, dan membebaskan rakyat Iraq. Ketika alasan itu dikemas dalam perang anti terorisme setelah serangan 11 September 2001.
“Kami tidak akan menunggu apa yang akan dilakukan teroris atau negara teroris selanjutnya dengan senjata pemusnah masal,” ujarnya Maret 2003. Bush memang memasukkan Iraq sebagai negar pendukung terorisme internasional.
Bersam menteri pertahanannya, Donald Rumsfeld, Bush yakin bisa dengan cepat menyelesaikan perang tersebut. Bahkan keduanya yakin akan selesai dalam waktu tidak lebih dari setengah tahun.
Ketika memasuki tahun ke-3, dan perang Iraq tidak juga menunjukkan tanda-tanda berhenti, banyak yang meragukan kepemimpinannya. Tidak sedikit yang membandingkan perang Iraq dengan perang Vietnam yang mencoreng AS sebagai negeri adidaya di tahun1970–an.
Telanjur basah, Bush mengirimkan pasukan tambahan ke Iraq sebanyak 20.000 personel. Meski begitu dia tetap yakin bahwa keputusannya menyerang Iraq adalah keputusan yang bernar. “Keputusan ini adalah keputusan tepat pada awal pencalonan saya, menjadi keputusan yang tepat pada masa kepresidenan saya, dan akan menjadi keputusan yang tepat selamanya,” katanya mengabaikan fakta-fakta di lapangan.
Blair, pengekor sejati tanpa pendirian TONY BLAIR, Perdana Mentri Inggris
Mengekor dalih Bush, Blair menyebut perang Iraq adalah cara tepat mengendalikan senjata pemusnah masal. Dia berhasil meyakinkan parlemen untuk mendukung invasi militer ke Iraq.
Di sisi lain, keputusannya itu merusak keutuhan kabinetnya. Itu ditandai dengan pengunduran diri tiga menteri penting dan stratgis. Belakangan terbukti, data-data intelijen yang melandasi keputusan mendukung invasi itu ternyata cacat dan memiliki kesalahan yang tidak termaafkan. Sampai dia menyelesaikan masa jabatannya sebagai perdana menteri Inggris, Blair bersikukuh pada keputusannya tersebut. Meski di dalam negeri, dia terus mendapat hujatan.
Pengekor sejati, tak punya pendirian JOSE MARIA AZNAR, Perdana Mentri Spanyol
Spanyol, yang saat itu menjadi anggota tidak tetap DK-PBB langsung mengekor AS denga mendukung invasi militer ke Iraq. “Tidak ada yang lebih berbahaya dari pemimpin politik yang membangun istana di awang-awang. Dan saya yakin politik yang memangun harapan palsu dan tidak melihat dunia seperti keadaannya, justru akan menyusun kegagalannya,” ujar Aznar mengacu pada Sadam Husain.
Maret 2003, dia terlibat dalam pertemuan kunci untuk menyusun rencana invasi ke Iraq bersama Presiden Bush dan PM Blair di Azores. Dia mengakibatkan protes besar-besaran di dalam negerinya, yang menolak pengiriman pasukan Spanyol ke Iraq, agustus 2003.
Ujungnya, dia kalah dalam pemilihan umum 2004. Tiga tahun kemudian, dia menyatakan baru menyadari kesalahannya. “Seluruh dunia berfikir, Iraq memiliki senjata pemusnah masal dan ternyata mereka tidak memiliki. Saya (baru) tahu sekarang. Waktu itu saya tidak tahu karena memang tidak ada yang tahu.” Katanya (BBC/erm/ruk/arsip shf).