Bungamu Meracuni Hatiku


ILU09Bungamu Meracuni Hatiku
Oleh Shodiqiel Hafily
18/04/2008.

Alun-alun itu ramai dipenuhi hiruk-pikuk manusia yang menyaksikan eksekusi hukman mati terhadap Al-Fallah, tokoh sufi “Al-Hallaj-nya” negeri Kazakhtan. Di ujung sana, para penegak hukum duduk berderet penuh wibawa didampingi ulama yang berselisih paham dengan Al-Fallah. Mereka mengatur antrian orang-orang yang dipaksa atau suka rela merajam, melempar pesakitan dengan batu.

Ada yang melempar batu dengan tangan gemetaran, mata terpejam, muka pucat atau sambil berpaling. Mereka adalah orang-orang yang dipaksa merajam, sedang hatinya dipenuhi kecamuk rasa tak tega, rasa berdosa dan sebagainya. Sebagian ada yang menyunggingkan senyuman puas dan sorot mata bengis, melempar dengan penuh nafsu dan hati bersorak penuh kemenangan.

Jauh di seberang sana, agak tersembunyi, pengikut setia Al-Fallah menyaksikan dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Tiap kali lemparan menghantam gurunya, mereka menyeru Tuhan dalam hati, atau melengos, bahkan ada yang bermunajat dengan derai air mata. Mereka telah mendapatkan pengarahan dari Sang Guru agar datang dengan tertib untuk menyaksikan langsung proses eksekusi, agar mereka mengerti apa itu cinta sejati.

Al-Fallah, yang tereksekusi karena pernyataannya: Ana Al-Haqq, menghadapi hukuman itu dengan tegar. Sama sekali tak terdengar rintihan ataupun seruan kesakitan dari mulutnya walaupun kepala hingga tubuh bagian dada telah berdarah-darah dan merembes membasahi separuh tubuhnya yang dipendam dalam tanah.

Menjelang akhir eksekusi, ketika antrian jauh berkurang, ketika tubuh Sang Guru telah remuk dan lunglai, dari sudut matanya yang mengalir darah dan mulai berkunang-kunang, Al-Fallah melihat sosok tubuh yang dikenalnya. Ya, seorang sahabt dekatnya, Farqad (baca: Fargad), berdiri mengantri paling belakang.
Seketika kesadaran dan semangatnya terpompa. Tubuh yang lunglai menegak. Dan.. ketika tiba giliran Farqad mendekat, Al-Fallah dengan sorot mata tajam menatap tangan Farqad yang terayun ke arahnya. Benda dilempar dan menimpuk jatuh persis di depan dadanya. Sekuntum bunga, segar, tampak baru dipetik dari tangkainya.

Mendadak sontak, Al-Fallah meronta-ronta dengan rintihan kesakitan. Selang kemudian jatuh pingsan. Farqad menghambur mendekat, juga para petugas mengerubuti tubuh yang terkulai itu. Memeriksa sana-sini sekedar memastikan apakah Al-Fallah telah tewas.

Ternyata, belum. Dan, dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, Al-Fallah meraih tangan Farqad mendekat, seraya katanya, “Ku kira kau datang untuk membelaku, menyampaikan suara hatimu yang engkau tahu pasti aku tak bersalah. Aku salah duga, kau tidak menyampaikan pembelaan apapun kepada para hakim dan algojo di sana.. . Saat di ujung antrian, aku masih mengira kau setidaknya akan merengkuhku sebagai tanda dukungan.. . Aku salah sangka, kau bahkan ikut-ikutan melemparku seperti mereka yang tidak mengerti apa-apa.

“Bungamu meracuni hatiku

Aromanya menyumbat saluran nafasku

Keindahan rupa warnanya

Mengaburkan pandangan mataku

Durinya menusuk jantungku

Bungamu pengantar nyawaku.. .”

Farqad mematung tanpa ekspresi. Kerumunan hening. Sebutir air mata bercampur darah bergulir.. , menetes tepat di kelopak bunga, di bawah kening Al-Fallah yang tak bernyawa.

***

Ketika peristiwa itu, dengan cepat tersebar from words to mouth, pengadilan jadi sorotan dan “Ana Al-Haqq” diperdebatkan. Aku tergerak untuk mencari tahu secara langsung dari penuturan Farqad. Ketika dalam suatu kesempatan aku sowan padanya, beliau dengan panjang lebar mengisahkan pribadi sahabatnya itu.

“Dia sahabat terbaik saya..,” katanya memulai cerita. “.. dia pernah bilang, bahwa dia telah mengambil inti sari seluruh ajaran agama, yaitu menebarkan kedamaian di muka bumi dan mengambil latihan paling berat yang merupakan ajaran inti seluruh agama, yaitu menafikan ke-aku-an dan menyemaikan ke-kita-an. Dan terus terang pula dia mengakui bahwa dia memeluk agama baru, Agama Cinta. Dia amalkan ajaran penebusan dosa, tapa-brata, semedi juga puasa dan – tak ketinggalan – tahajjud berlama-lama.

Belakangan, dia sering berkeluh kesah. Katanya lelah menyaksikan pertumpahan di mana-mana, pedang dan salib dipertentangkan, rumah-rumah ibadah dibenturkan satu dengan yang lain. Akhirnya, dia putuskan untuk menyimpan saja atribut-atribut keagamaan itu di ruangan paling rahasia, lubuk hatinya. Di sana – katanya – tidak ada seorangpun yang dapat mengusik kekeramatannya dan selalu terbawa di manapun berada.. .”

Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Farqad, pikiranku terus menerawang mencarai-cari pembuktian cerita barusan dalam fenomena dunia. Satu persatu bermunculan potret kelam intoleransi di sejumlah belahan benua; Serbuan terhadap minoritas muslim di Poso, diskriminasi terhadap pemakai jilbab, Dalai Lama yang hidup di pengasingan, Palestina yang dibombardir dan buldozer ‘menggasak’ pemukiman warga sipil, hingga invasi AS ke Iraq di balik topeng pembebasan dan demokrasi yang ujung-ujungnya hanyalah dendam, sentimen agama, mengincar kilang minyak dan penjajahan gaya baru.

Sesampai di rumah, lelah (mungkin selelah Al-Fallah) kuhela nafas panjang sembari bersandar di kursi. Menurutku, sentimen agama dan kekuasaan adalah pemicu utama terjadinya peristiwa-peristiwa berdarah yang menelan jutaan nyawa. Tindakan atas nama agama sering justru bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri, aksi atas nama pembebasan ternyata berbalik menjadi penjajahan, seperti invasi Amerika ke Iraq. Siti Jenar dipancung, lebih karena nuansa pergulatan politik antara Pajang dan Mataram, Al-Fallah divonis mati karena beda akidah, Imam Ghazaly dan sejumlah pemuka agama dipenjara hanya lantaran beda madzhab dengan madzhab yang disokong penguasa. Dan banyak lagi yang lainnya.

Komputer on sepanjang pagi hingga malam ini. Aku tergerak untuk menulis puisi, ingin kusampaikan kepada dunia sebagai Surat Terbuka.[]