Serambi Alkhoirot (II)


Buku3Serambi Alkhoirot (II)
Oleh Shodiqiel Hafily

Sabtu, 19-04-2008. Perubahan-perubahan pada dimensi lahiriyah diperlukan, tapi bukan merupakan hal yang esensial, karena pengaruhnya sebatas daya tarik sesaat. Pepatah arab mengatakan:

لاتعجبن لأول طالع فإنه فجر كاذب


“Jangan terpesona oleh penampakan pertama, sebab (boleh jadi) itu adalah fajar kadzib (sebentar gemerlap, lalu kembali gelap)”. Orang Jawa punya pepatah berbeda, “Ajine rogo soko busono”. Itu artinya, nilai-nilai estetika pada permukaan menjadi nilai tambah pada sisi-sisi di baliknya. Bisa dimisalkan memiilih template di blog, semestinya disesuaikan dengan deskripsi blog. Untuk iklan-promosi baiknya memakai template yang mudah menarik perhatian, pilihan warna-warni yang serasi, text bergerak dan gambar silih berganti. Tergantung keperluan dan selera. Sebab orang memiliki kecenderungan, tujuan dan selera yang berbeda-beda. Ada yang suka ngejreng, atraktif, kalem, dan – para saintis biasanya – suka yang bersahaja, sesuai kadar intelektualnya, makin berisi makin merunduk.

Menurut saya, kedua-duanya sama-sama diperlukan. Keindahan tampilan lahiriah menarik perhatian orang untuk melihat. Selanjutnya bisa membuat betah berlama-lama. Visitor yang belum fokus pada subjek-tema akan segera klik “next” manakala melihat tampilan yang kurang artistik atau bahkan terkesan tidak rapi. Sebaliknya bagi yang fokus pada pencarian makna, tampilan bukan soal, dia tetap akan mencermati isi blog itu. Dengan memadukan dimensi estetika di permukaan sekaligus kandungan isinya, maka dua fokus yang berbeda dapat terpenuhi dan terwadahi semuanya.

Satu hal patut digarisbawahi, dimensi-dimensi lahiriyah itu bisa ditiru dengan mudah hingga 90 % kemiripan atau lebih persis lagi. Tapi aspek-aspek pada dimensi makna tidak bisa ditiru. Bandingkan style template blog saya ini dengan blog http://afatih.wordprees.com. Saya bahkan dapat meniru header blognya tapi tidak saya lakukan, saya biarkan standar (Regulus by Binary Moon) untuk mengingatkan saya pada “Munajat Padhang Bulan“. Sidebar di sebelah kanan saya ganti posisi di sebelah kiri. Itu semua tidak sulit. Tapi konten postingan yang merupakan kadar kualitas disiplin ilmu pengetahuannya tidak bisa ditiru. Tiap individu memiliki keahlian dan keterbatasannya masing-masing. Demikian pula guru dan murid. Seberapa pun dia mengidolakan gurunya, tetap saja si murid tidak dapat mengkopi-paste begitu saja spesialisasi idolanya. Murid akan lahir dalam ciri khas, teknik dan gayanya sendiri. Saya banyak meniru gerak-gerik dan dialektika guru yang saya idolakan. Di blog ini saya tiru style template-nya, saya sertakan ringkasan tutorialnya, saya sisipkan avatarnya sebagai apresiasi, because I adore him.

Sejak Ra Fatih kembali dari negeri seberang, seperti dituturkan santri yang saya temui, beliau menggeber santri Al-Khoirot dengan training menulis. Tentu bukan berarti bahwa sebelumnya santri sama sekali pasif. Pada zaman saya, musyawarah yang dimotori dewan asatidz rutin digelar selepas isya’ dan berlangsung seru penuh semangat. Hanya saja, saat itu, hasil-hasil musyawarah tidak dibukukan.

Musyawarah yang merupakan akar budaya pesantren, terbukti ampuh dan efektif dalam memacu perkembangan belajar santri. Beberapa pesantren modern seperti Gontor bahkan telah melangkah lebih jauh dari itu, pemberdayaan kelas aktif. Santri membahas materi sedang sang ustadz/ustadzah bertindak sebagai pembimbing. Kadang mirip sebagai moderator pada sebuah forum diskusi ilmiah.
Baik musyawarah maupun kelas aktif, memiliki keunggulan:

1. Santri/siswa terpacu untuk belajar dan menemukan sendiri bahan-bahan perbandingan dan referensi yang diperlukan.

2. Santri/siswa terlatih kritis, terampil dan berani mengemukakan pendapat.

3. Daya fikir dan kecerdasan santri/siswa bisa ditingkatkan lebih tajam serta lebih mudah transfer-loading data-data pengetahuan yang tersimpan lekat di memori otaknya karena temuan pengalaman sendiri.

Tiga keunggulan minimal itu tidak ditemukan pada model pembelajaran dengan sistem “suap bayi“. Sebagaimana kita maklumi, bayi hanya mendapatkan apa yang disuapkan sang ibu, terkadang lahap, kadangkala ogah-ogahan tidak berselera bahkan dimuntahkan, dan tak jarang tidur saat disuapin.
Lebih naïf lagi bila si ibu, dalam konteks pendidikan adalah guru/ustadz, kurang kreatif dan tidak pandai merangsang daya fikir. Dan lebih parah lagi bila enggan sharing dengan murid karena terlalu jaga wibawa, atau keterangan penjabaran-penjabarannya mesti dianggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak boleh dibantah. Maka “thuluzzaman” sebagai prasyarat ke-6 untuk keberhasilan belajar yang dinadhomkan di Ta’lim Al-Muta’alim, boleh jadi tidak sesuai harapan. Waktu yang lama tidak sepadan dengan kadar keilmuan yang dicapai.

Adalah suatu pencapaian besar, kini Al-Khoirot santer membangun budaya santri untuk menulis dan mempublikasikan pemikiran tidak hanya sebatas lingkungan sendiri, bahkan, merambah lebih jauh, di internet dengan budaya ngeblog.

Sayangnya, di lingkungan saya sendiri yang nota bene lebih “kota” (madani) dibanding Al-Khoirot, baik musyawarah, kelas aktif, budaya menulis apalagi ngeblog, belum seberapa tersentuh oleh tangan-tangan terampil. Terlebih lagi, sebagian orang masih paranoid terhadap internet.

Semangat ada

dalam komunitas laksana muallaf

diantara gembala-gembala

kesana-kemari tak tentu arah

jalan di tempat

kebingungan

tak jelas yang dicemaskan

ternak-ternak semburat

berlarian seberangi sungai

ke padang rumput menghijau

luas membentang

arus yang deras lagi besar

banyak tangkapan ikan besar-besar.

Sepekan ybl, pas mampir ke Matos, saya sempatkan ke “pasar” buku. Pramuniaga yang cakep dan ramah langsung membawa saya ke komputer, memeriksa katalog buku-buku yang saya cari. Mungkin nasibku lagi malang, Malang Tower Square sebesar itu sampe’ satu kuartal belum juga mengisi stok buku yang kosong. 3 buah buku yang saya cari tetap belum ada. Akhirnya, saya habiskan waktu hanya melihat-lihat atau membaca sekilas sejumlah buku yang menarik perhatian sambil ‘nunggu teman-teman yang belanja di “wilayah” lain. Beberapa buah buku “karangan” para da’i artis-selebritis dengan judul-judul teramat manis, dramatis dan menjulang angkasa tak luput dari pengamatan saya.

Menggembirakan sekaligus menyedihkan. Menggembirakan menyaksikan bermunculannya penulis-penulis baru yang merupakan pertanda geliat positif meningkatnya budaya tulis-baca. Tapi juga menyedihkan karena sejumlah buku dengan “glamoritas” cover dan judul-judul “spektakuler” yang saya cermati ternyata tidak sepadan dengan isinya yang cuma “itu-itu saja”. Yakni hanya penyusunan dari hasil comot sana-sini dengan sedikit perubahan. Yang paling ironis, saya dapati penulis yang mengetengahkan pembahasan-pembahasan yang sama sekali di luar “yurisdiksinya”. Tampak jelas dari kesalahan-kesalahan pada glossary, definisi dan lain-lain. Komersil!

Ask if, kalau saya jadi penulis, saya lebih menyukai penulisan yang mengedepankan gagasan-gagasan murni (original ideas). Bagi saya, buku-buku semacam itu lebih mencerahkan ketimbang buku-buku yang menyajikan warna-warni pelangi pemikiran para pakar dengan sederetan referensi, yang – praktis – hanya sebagai penyambung lidah atau transformasi estafet dari gagasan-gagasan lama. Tentu saja dengan pengecualian pada kajian kritis kesejarahan, analisis-komparatif dsc.

Anugerah akal dengan kebebasan berfikirnya, menurut saya, harus dinikmati dan digunakan sebaik-baiknya. Tapi, segala sesuatu memang berproses. Tuhan saja menciptakan langit dan bumi dalam enam periode. Sayang, teman-teman keburu datang ‘ngajak pulang. Kebebasan lamunan pikiran saya terhenti, dan kami pulang dengan hati riang. Bersambung..