Apa Itu Wihdat Al-Wujud


Bicara BaikApa Itu Wihdat Al-Wujud
Oleh Shodiqiel Hafily
04 Mei 2008

إذا لم أجد خلاّ تقيّا فوحدتي * ألذّ وأشهى من غويّ أعاشره

وأجلس وحدي للعبادة آمنا * أقرّ لعيني من جليس أحاذره


Jika tidak kudapati teman yang taqwa, maka kesendirianku lebih kurasa nyaman dari pada kupergauli orang yang sesat. Kududuk dalam kesendirian untuk beribadah dengan aman-damai lebih menenteramkan jiwaku dari pada (punya) teman duduk yang kutakuti (perangai buruknya).

Dua bait syi’r di atas saya ambil dari Manaqib Al-Syafi’iy oleh Muhammad bin Abdul Qadir Bafadlil (Bafadlal) al-Syafi’iy. Di bagian akhir buku biografi itu menghimpun banyak syair gubahan Imam Syafi’i. Buku itu juga menginformasikan kepada kita bahwa selain ahli fikih (faqih), beliau (Imam Syafi’i) juga sosok yang sangat kuat dalam memegang ajaran tasawuf. Hal itu tampak dari maqalat-hikmat beliau yang begitu sarat makna, wara’, penuh kasih dan keutamaan-keutamaan lainnya. Hanya saja, beliau memang mendedikasikan hidupnya untuk fikih, maka beliau tidak banyak menulis tentang tasawuf kecuali seputar komentar pendek-pendek terkait fenomena masyarakat kala itu, seperti dikutip Mubaraq:

قال الإمام الشافعي – رحمه الله تعالى :” لو أن رجلاً تصوْف أول النهار ، لا يأتي الظهر إلا و هو أحمق

Saya setuju pendapat itu, dan kita saksikan di sekitar kita banyak orang bertasawuf sekedar cerita seputar falsafah tasawuf, karomat, dan keganjilan-keganjilan pedoman hidup sejati tanpa amal-praktek mujahadat dan kurang dasar-dasar pengetahuannya tentang fikih dan tasawuf. Sehingga yang muncul kemudian bukanlah kedamaian dan kesejatian hidup melainkan ‘keterkucilan’ dari masyarakat sekitar. Nah, sya’ir Al-Syafi’I itu – tampaknya – merupakan kritik sosial yang ditujukan pada kalangan itu.

Kerap kita jumpai pula di masyarakat terjadi perseteruan diantara pengikut dan pengamal thariqat yang berbeda-beda. Masing-masing menganggap thariqatnya sebagai yang terbaik dan saling melebih-lebihkan mursyid masing-masing. Hal demikian terjadi tidak lepas dari peran mursyid sendiri yang kurang kontrol atau bahkan mungkin pula kurang pengertian bahwa thariqat ‘hanyalah’ sebuah metode tertentu untuk menggapai sesuatu. Oleh karena itu tergantung kecocokan pelakunya (salik). Tiap individu dapat bertasawuf dalam ruang lingkup aktifitasnya dan dunianya masing-masing.

Saya memahami tasawuf bukan sebagai hidup dalam keterasingan sebagaimana dipersepsikan banyak orang. Tidak pula seperti disiniskan sebagian kalangan yang menilai diskursus tasawuf itu terlalu lancip bagi orang pada masa kini. Apa itu tasawuf saya ambil terma yang paling sederhana dan mudah dari thariqat Syadziliyah:

التحلي بالفضآئل والتخلي عن الرذآئل

“Berhias dengan keutamaan-keutamaan dan menanggalkan segala kehinaan.”

Di buku biografi itu juga, beliau bersyi’ir, menyatakan bahwa beliau “mengidolakan” ahlu al-bayt dan tokoh-tokoh tasawuf. Dan – dengan rendah hati – beliau menyatakan hanya mengharap syafatnya karena beliau bukan dari kalangan mereka. Karena.. itu tadi, beliau dedikasikan diri di bidang fikih.

Kurang lebih sama dengan Imam Syafi’I, saya nimbrung soal tasawuf di dunia maya ini hanya lantaran fenomena di masyarakat dan maraknya tulisan-tulisan ketasawufan untuk memberikan perbandingan pemahaman bagi yang tertarik di dunia tasawuf.

Secara sastra-bahasa, dua bait syair Al-Syafi’I yang saya kutipkan di atas itu juga sebagai jawaban dari pertanyaan apa beda wahdat dengan wihdat. Dalam buku tata bahasa Arab semisal Khulashat, Syarh Ibn ‘Aqil dll, kata wahdat dianggap lebih mutthorid (baku, populer) dari pada wihdat dengan wazan fi’lat (seperti mawzun: khirqat, firqat, hirfat dll) yang dinilai kurang afshah. Di buku-buku kajian tasawuf, wihdat lebih diartikan sebagai sebuah konsep ketuhanan dan nama aliran yang di Jawa dikenal dengan “manunggaling kawula-gusti”. Sedang wahdat kita kenal di “Martabat Tujuh” sebagai alam wahdat dan dalam konsep Ibn Araby dikenal istilah wahdat al-adyan.

Ringkas pokoknya bagi saya, tasawuf yang identik dengan humanisme universal, penting untuk disemaikan. Apapun thariqat-wirid yang diamalkan atau konsep yang dijadikan pegangan, yang penting membawa hasil dalam pembentukan diri menjadi insan yang lebih baik dan mendatangkan maslahat bagi masyarakat sekitar serta di bawah naungan ridlo Tuhan.

من تفقّقه ولم يتصوّف فقد تفسّق، ومن تصوّف ولم يتفقه فقد تزندق

“Berfikih tanpa bertasawuf (cenderung) menjadi fasiq, dan bertasawuf tanpa berfikih (mendekati) zindiq“. Al-Ghazaly.[]