Adakah Ayat-ayat Setan Dalam Qur’an?


Kaligrafi BuahAdakah Ayat-ayat Setan Dalam Qur’an?
Oleh Shodiqiel Hafily
07 Mei 2008

Kalaupun saya kedepankan tulisan ini, saya tidak bermaksud menelanjangi diri sendiri sebagai muslim yang mengimani Qur’an sebagai kitab suci yang saya cintai dan saya junjung tinggi sebagaimana umat beragama lain juga bersikap kurang lebih sama dengan sikap saya. Saya hanya ingin melakukan pemandangan ke dalam setelah menyorot sejumlah kasus di luar.
Adakah Ayat-ayat Setan Dalam Qur’an? Untuk pertanyaan yang saya buat sendiri ini saya jawab seperti keberadaan setan, yaitu antara ada dan tiada. Tidak tampak dalam pandangan tapi jelas ada dan terbukti dari pengaruh-pengaruh buruknya.

Dalam buku-buku kajian ulum al-Qur’an semisal Ibn Katsir (tafsir bi al-ma’tsur), asbab al-nuzul dll, dituturkan bahwa pada awal-awal dakwah Islam di Makkah, intimidasi kaum kafir Quraisy begitu keras dan gencar menghantam bertubi-tubi baik secara langsung kepada Nabi maupun kepada pengikut beliau yang – kala itu – masih sangat sedikit. Kenyatan itu membuat Nabi merasa sangat prihatin sehingga timbul harapan di hati Nabi agar Tuhan menurunkan wahyu yang dapat melunakkan kekerasan dan meredakan gangguan-gangguan kaum Quraisy terhadap para pengikut beliau.

Sekian lama dinanti-nantikan, akhirnya turun juga wahyu QS. Al-Najm. Sebagaimana lazimnya, setelah bersujud tilawah, wahyu segera dibacakan kepada kaum muslimin dan didengar sejumlah orang kafir Quraisy. Dan ketika sampai pada bacaan:

أفرأيتم اللات والعزى. ومناة الثالثة الأخرى. تلك الغرانق العلا. وإنّ شفاعتهنّ لترجى

Apakah kalian tidak melihat Dewi Lata dan Dewa Uzza? Juga Manat (sebagai dewi) yang ketiga lainnya? Mereka itulah dewa-dewi yang elok dan mulia. Dan sesungguhnya pertolongan mereka benar-benar diharapkan.”

Mendengar bacaan 2 (dua) ayat terakhir itu, kaum kafir Quraisy terperangah. Karena tak disangka-sangka, tiba-tiba saja Nabi menyampaikan wahyu berisi pengakuan dan pujian kepada dewa-dewi mereka. Sedang sebelumnya Nabi selalu lantang menyerukan tauhid kepada Allah swt. Maka, tanpa komando, merekapun turut bersujud karena gembira menyaksikan perubahan haluan Nabi.

Akan tetapi belum lagi mereka mengangkat wajah dari sujudnya, Malaikat Jibril telah menyampaikan koreksi bahwa 2 ‘ayat’ terakhir yang dibaca Nabi itu bukan wahyu dari Tuhan melainkan bisikan setan. Maka serta merta Nabi menyampaikan koreksi tersebut dan menanggung resiko dicaci maki oleh orang-orang kafir Quraisy yang baru saja kegirangan.

Itulah ayat-ayat setan yang pernah terbaca satu kali, tidak pernah termaktub dan langsung terkoreksi. Dan itu pula yang saya maksud antara ada dan tiada.

Sebenarnya 2 ‘ayat’ itu tidak seperti diasumsikan orang-orang kafir Quraisy, karena Nabi hanya bermaksud menyatakan bahwa patung-patung dewa-dewi itu karya seni pahat yang bagus dan pernyataan bahwa syafaatnya diharap-harapkan oleh pemujanya bukan dimaksudkan sebagai legitimasi pemujaannya sebagai dewa. Selipan ayat-ayat setan itu menyerupai jawaban ‘diplomatis’ kebahasaan Nabi Ibrahim pada kasus perobohan berhala-berhala kaum Namrudz yang terekam dalam QS. Al-Anbiya’: 63. Bedanya, jawaban Nabi Ibrahim dimaksudkan sebagai argumentasi ‘tantangan keberanian’, sedang dalam kasus Nabi Muhammad ini terkesan memberi angin segar bagi paganisme kaum Qurasy.

Terlepas dari maksud tujuan apapun yang ingin dicapai, nabi dan rasul sama sekali tidak memiliki otoritas mengubah, meniadakan apalagi mengarang wahyu ilahiyat. Baik dalam posisi menang maupun dalam kondisi terancam. Itulah makna kalam khabar bimakna insya’ pada QS. Al-Najm: 3 yang menjadi pendidikan dan pengajaran dalam pembentukan mentalitas yang teguh pendirian dalam menyuarakan kebenaran hati nurani. Tidak tendensial apalagi sesuai pesanan demi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Satu pertanyaan besar begitu kuat mengundang penasaran ketika saya membacanya, mengapa ayat-ayat setan itu bisa terselip diantara wahyu yang disampaikan kepada seorang Nabi yang ma’shum (terjaga dari kesalahan)? Dari penjelasan Ustadz yang membimbing saya hingga sekarang, saya temukan jawabnya: karena kondisi hati yang terobsesi!

Saya juga jadi mengerti arti kema’shuman seorang nabi atau rasul, yakni selalu ada koreksi manakala terjadi kekeliruan sebagai manusia biasa. Bedanya, nabi atau rasul koreksinya langsung melalui wahyu, sedang kita dari wahyu yang dimohonkan tiap lima waktu: ihdina al-shirath al-mustaqim. Jadi kita terkoreksi juga bila ada kekhilafan, mungkin melalui teman, pengalaman, komentar pada postingan dll. Makanya, di sidebar, saya tulis permohonan koreksi dari Anda jika terdapat hal-hal yang memang perlu dibenarkan. Karena saya tidak ma’shum.[]