Jangan Terdengar, Jangan Terlihat


Zionis IsraelJangan Terdengar, Jangan Terlihat
Oleh Shodiqiel Hafily
07 Mei 2008

“Jangan Terdengar, Jangan Terlihat”. Itulah gerakan kaum Zionis Israel dalam menjalankan misinya mulai dari program pengusiran penduduk Arab Palestina hingga obsesi menguasai dunia dan menggantinya dengan manusia-manusia pilihan terbaik (menurut klaim mereka) yang diciptakan Tuhan, Bangsa Yahudi.
Tentu tidak terlalu samar bagi saya dan Anda semua, bahwa kekuatan Yahudi menggurita di pelbagai organisasi kelas dunia. Freemasonry, Illuminati, Qabalis dll adalah sebagian organisasi gerakan bawah tanah yang telah lama tercium operasinya. Media elektronika semisal The New York Times, The Wall Street Journal dan The Washington Post adalah corongnya yang jadi penentu arah pemberitaan serta pengambilan keputusan tokoh-tokoh hampir di seluruh belahan dunia. “Schindlers List” adalah salah satu contoh manipulasi dan kebohongannya. World Bank, IMF dan semacamnya adalah kekuatan finansialnya.

USD1US-1DollarCermati USD 1 ini, “Sang Mata” Lucifer bertahta di puncak piramida dilingkari slogan “ANNUIT COEPTIS – NOVUS ORDO SECLORUM” (Konspirasi Kita – Sebuah Tatanan Dunia Baru), bukan sebuah design ‘kebetulan’ atau tanpa makna terkait dengan Bapak Zionisme, Theodor Herzl dan Rothschilds. Menelisik itu semua, saya jadi curiga terhadap sebagian kalangan yang secara gencar mewacanakan ‘pengkardusan’ ayat-ayat Qur’an semisal walan tardlo ‘ank al-yahud walan nashara hatta tattabi’ millatahum dengan dalih toleransi antar umat beragama. Sungguh laksana bunga mawar segar yang penuh duri dan beracun!

Tulisan ini saya buat bukan untuk menyulut amarah saudara-saudara kita yang di hatinya tertanam ghairah (ghirah) Islamiyah. Sama sekali tidak! Ini hanya sekedar untuk membuka mata bahwa kita mengerti dan kita tidak akan melakukan keculasan dan kekerasan yang sama. Karena misi kita berbeda, bukan untuk menaklukkan dunia, akan tetapi untuk menghiasi dunia dengan kedamaian dalam kebersamaan dengan bangsa atau umat manapun sebagai sesama makhluk Tuhan.

Tiap individu memiliki ghairah (sentimen-kecemburuan) dalam hatinya. Ketika kita berbangga menguasai rumah ibadah umat lain misalnya, maka jangan lupa bahwa kita akan marah dan sakit hati manakala rumah ibadah kita dihancurkan dan diduduki umat lain. Dalam dakwah, kerap kali kita jumpai kekerasan, pertumpahan darah dan penghancuran rumah ibadah dan bangunan-bangunan lainnya. Hal yang sangat kontradiktif dengan garis-garis dakwah yang sebenarnya. Yakni, mengajak ke jalan Tuhan untuk mencapai bahagia bersama dan bukan menganggap ‘objek’ dakwah sebagai musuh yang mesti dibinasakan, melainkan sebagai sesama yang mesti dibina dan diarahkan! Bahkan dalam peperanganpun, Islam melarang penghancuran membabi buta, membunuhi warga sipil dan yang tak bersenjata.

Siapakah Umat Terbaik Yang Sesungguhnya?

Seluruh kitab suci memotivasi umat pada jamannya dengan pujian umat terbaik. Sebagaimana dalam dalam Qur’an juga termaktub, kuntum khoir ummat.. dst (“Kalian adalah sebaik-baik umat..”). Tapi jangan titik sampai di situ tanpa kalimat lanjutannya, ta’murun bi al-ma’ruf wa tanhawn ‘an al-munkar (“..[karena] kalian menyuruh dengan ma’ruf-kebaikan dan mencegah kemungkaran”). Pemahaman sepenggal-sepenggal dari ajaran kitab suci itulah yang menyebabkan sering timbul kericuhan dan ‘kemungkaran’ baru dalam kemasan ‘kemaslahatan’.

Jika demikian yang terjadi, maka tak ubah dengan Zionis Israel dengan Talmud-nya yang mengklaim diri sebagai umat terbaik dan selain mereka adalah sampah-sampah kayu bakar neraka! Kita dipersandingkan dan diciptakan secara berpasangan adalah untuk saling mengisi dan saling memperkokoh. Yang kuat untuk menolong yang lemah, bukan untuk memangsanya. Yang kaya untuk membantu yang miskin, bukan untuk memperbudaknya. Yang pandai untuk membimbing yang bodoh, bukan untuk menipunya. Dan seterusnya.

Banyak kisah israiliyat maupun hikmat kita baca dan kita dengar yang menyiratkan pesan moral dan penegasan bahwa kesalehan sosial dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan menjadi kunci pembuka keridlaan Tuhan. Ada seorang ulama yang sangat saleh, bahkan telah diperlihatkan tempat kedudukannya di surga. Seorang pengemis meminta belas kasihan di pintu rumahnya, karena masih sibuk sang ulama menangguhkan agar kembali sore hari. Senja hari tiba, sang ulama lupa. Akhirnya, dengan hati nelangsa si peminta-minta melenggang pergi dan – dengan berat hati – terpaksa mengetuk pintu umat beragama lain yang – kebetulan – beragama Yahudi. Sambutan ramah dan sepotong roti diterima dengan penuh syukur.

Malam hari, usai beribadah dan bermunajat kepada Tuhan, antara tidur dan terjaga, sang ulama ‘melihat’ surganya telah berpindah kepemilikan di tangan orang Yahudi, tetangganya. Setelah diusut keesokan harinya, barulah si ulama sadar akan kekeliruannya. Seketika si Yahudi mendapatkan pencerahan dan terbimbing ke jalan Tuhan.

Kalaulah kisah-kisah semacam itu tidak berarti apa-apa selain sekedar dongengan motifasi dan penanaman moral bagi anak kecil yang belum mampu berfikir logis dan argumentatif, mungkin layak kita pertanyakan mengapa kesalehan sosial jadi amal pilihan dan adakah nash-nashnya?

Qur’an bilang, inna Allah yuhibb al-muhsinin, Tuhan mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. Kata ‘muhsinin’ yang secara tata bahasa mesti memiliki ma’mul (objek), ternyata dihilangkan. Itu berarti menyatakan kebajikan kepada siapa dan apa saja. Qur’an juga menyatakan bahwa menyelamatkan satu jiwa di’syukuri’ Tuhan dan dianggap seolah menyelamatkan umat manusia seluruhnya.

Sejumlah hadits Nabi saw menyatakan ketidaksempurnaan iman seseorang yang tidur lelap seusai ibadah, tapi tetangganya merintih kelaparan akibat bencana ‘buatan’ semacam lumpur Lapindo. Banyak lagi hadis-hadis senada itu dan sangat akrab di telinga kita tapi kerap terlupakan penerapannya. Tak jarang terlupakan karena terbuai keasyikan dalam ritual-ibadah personal-individual semisal haji berkali-kali tetapi tidak menumbuhkan atsar (pengaruh) empati di dalam hati.

Kata Qur’an, dalam harta kita terdapat hak orang lain yang meminta-minta dan yang terhalang. Yang terhalang adalah mereka yang saluran rejekinya ada di tangan kita, karena Tuhan memfungsikan kita sebagai ‘kran’. Dan apakah kita memang difungsikan sebagai ‘kran’ atau tidak, itu teramat samar tercatat dalam sertifikat hak milik pribadi dengan bukti cucuran keringat jerih payah sendiri.

Fikih mentolerir penangguhan ibadah mahdlat demi menyelamatkan orang tenggelam misalnya, dan kaedah fikih pun menetapkan bahwa kebaikan dan kewajiban kolektif (fardl kifayah) lebih utama dari pada yang personal-individual. Al-khair al-muta’addy afdlal min al-lazim.

Umat terbaik tidak terlalu susah ditemukan jawabnya, ialah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi manusia lainnya. Khairukum anfa’ukum li al-nas. Demikian pula sebaliknya, umat terburuk adalah yang paling banyak menaburkan kedholiman.

Di akhir tulisan ini, saya berharap tidak muncul pertanyaan mana yang lebih baik antara orang yang rajin ibadah sholat dsc dengan orang yang tidak rajin ibadah tapi memiliki kesalehan sosial yang tinggi. Karena jawabannya ada di kesaksian hati para pelayat ketika jenazah hendak diberangkatkan ke pemakaman. Apakah si mati berkesan di hati, ataukah terasa kehilangan, tidak berkesan apa-apa ataukah ada rasa lega yang disembunyikan? Ketika ‘protokol’ pemberangkatan mempertanyakan apakah si fulan orang baik atau baik, sudah pasti jawabnya ‘baik’. Tapi suara hatilah yang didengar Tuhan, bukan koor di mulut yang bisa dimanipulasi.[]

Bacaan:

1. Perang Afganistan: Perang Menegakkan Hegemoni Amerika Di Asia Tengah dan Zionis: Gerakan Menaklukkan Dunia, oleh ZA. Maulani, Daseta, Jakarta 2002.
2. Khazanah kitab Ke-Islam-man klasik