Absurditas HAM


Absurditas HAM
(Character Assasination of Islam)
Oleh Shodiqiel Hafily
10 Mei 2008

HAM ditegakkan untuk mengatur kehidupan agar tatanan sosial dapat berjalan dan berlangsung dengan harmonis. Untuk itu diperlukan seperangkat perundang-undangan yang mengatur hak dan kewajiban individu maupun kelompok agar tidak terjadi distorsi antara hak dan kewajiban yang satu dengan yang lain. Dalam fiqih Islam, asas ditegakkannya perundang-undangan (asas tasyri’) bertumpu pada:

  1. Hifdh al-‘aql (memelihara/melindungi akal dan segala padanannya)

  2. Hifdh al-nafs (memelihara/melindungi jiwa dan segala persamaannya)

  3. Hifdh al-dien (memelihara/melindungi agama dan segala perbandingannya)

  4. Hifdh al-maal (memelihara/melindungi harta dan segala padanannya)

  5. Hifdh al-‘ardl memelihara/melindungi kehormatan dan segala persamaannya)

Mengapa Masjid Dliror Dirobohkan?

Saya enggan difungsikan sebagi corong promo gratis atau penarik simpati dari isu-isu yang – menurut saya – sesuatu yang nyata-nyata keliru. Misalkan, Fitna-Wildeers, Ahmadiyah yang menyatakan musyrik terhadap orang-orang yang menunaikan haji, Wahabi (yang intim dengan Amerika) yang mengkafir-kafirkan orang ziarah kubur dan menghancurkan situs-situs sejarah ke-Islama-an dll yang – kemudian – menyulut kemarahan umat muslim lainnya dan – ketika – terjadi amuk massa yang benar malah berbalik jadi terdakwa, terhujat seolah pesakitan!

Bagi saya, kasus-kasus semisal yang saya sebutkan patut dicurigai sebagai skenario character assasination terhadap Islam yang dilakukan pihak-pihak yang anti Islam! Bukan maksud saya setuju terhadap tindakan kekerasan amuk massa dengan penghancuran rumah-rumah ibadah. Tapi, semestinya, kita bersikap waspada. Kita coba menoleh ke belakang, masjid Dliror yang dibangun orang-orang munafik dihancurkan atas persetujuan Nabi. Mengapa? Karena tidak lain tujuan didirikannya hanya untuk memecah belah kesatuan kaum muslimin.

Pada awal-awal pemerintahan Khalifah Abu Bakar, beliau dihadapkan pada agenda utama penertiban masalah-masalah krusial; orang-orang murtad, orang-orang yang menolak membayar zakat dan penumpasan nabi palsu yang melecehkan kenabian Nabi Muhammad saw. Jaman Khalifah Utsman Bin Affan, terjadi penyeragaman Al-Qur’an dengan pedoman Mushaf Utsmany. Beliau instruksikan agar memusnahkan seluruh catatan (mushaf) yang ada di tangan para sahabat. Dapat dibayangkan sekiranya tidak demikian, otentitas kitab suci Al-Qur’an tidak terjamin dan mungkin timbul kitab suci beragam versi seperti dimiliki umat-umat lain.

Peran aktif para ulama pesantren dengan pendekatan persuasif dan diskusi dari hati ke hati adalah penting demi dakwah Islam yang ramah sesuai pesan QS. Al-Nahl: 125. Kritik, komentar apalagi pentakfiran jarak jauh hanya akan meramaikan perseteruan dan menimbulkan kesan berlindung di balik institusi, MUI jadi kusam. Jika tidak demikian (ulama enggan turun gunung), baiknya no comment saja dan perketat kontrol masyarakat agar tidak terjadi amuk massa. Biarkan mereka dengan aktifitasnya selagi tidak menimbulkan gangguan atau keresahan masyarakat sekitar. Seleksi alam pasti akan menenggelamkan hal-hal yang tidak populis, lama-lama akan lenyap sendiri.

HAM atau HamBURGer?

Begitu banyak kasus diajukan ke pengadilan atas dalih-dalih HAM (Hak Asasi Manusia). Dan – kalau kita cermati – sejumlah kasus sebenarnya lurus-lurus saja, kemudian menjadi absurd ketika dihadapkan pada HAM, misalkan Ahmadiyah yang – kini – di atas angin dan permohonan suaka politiknya ke negeri tetangga yang – kita tahu – bagaimana pandangannya terhadap Islam. Contohkan pernyataan Ryamizard Ryacudu, tuntutan terhadap sejumlah perwira TNI untuk diajukan ke pengadilan ditengarai banyak karena pesanan asing dan oleh orang-orang yang nasionalismenya menipis.

Kita tidak mengingkari kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM. TNI juga manusia yang bisa khilaf. Tapi ketika TNI berjuang demi integrasi NKRI, atau mengatasi sebuah krisis demi membela tanah air dan hak asasi bangsa juga, persoalan jadi rumit. HAM di satu pihak dipertentangkan dengan HAM di pihak lain.

Demikian pula ketika satu aliran (firqah) mengkafir-kafirkan firqah lainnya dan nyata-nyata keluar dari koridor agama hingga menyulut amarah sebenarnya telah terjadi pelanggaran HAM. Tapi ketika kasus mencuat, pihak yang melakukan pelanggaran bisa bertengger di posisi yang – seolah – teraniaya dan menjadi penuntut. Sungguh suatu games yang menarik dan cukup menggelitik. Ibarat digigit nyamuk, lalu kita tepuk dan.. lalu mati, lalu Komnas HAN (Hak Asasi Nyamuk) mengajukan tuntutan dengan sederet alasan: Nyamuk yang tak berdaya seberapa besar bahayanya? Nyamuk yang menggigit dan menghisap darah Anda demi mempertahankan hidupnya, seberapa sakit gigitannya? Setetes darah Anda seberapa besar kerugian Anda bagi nyamuk yang tidak doyan apa-apa? Sungguh Anda tega dan tak berperikehewanan!

Oke, saya ‘ngaku salah dan kesalahan saya karena saya doyan sembarang makanan. Nyamuk yang benar karena bisanya hanya menggigit dan maunya cuma darah orang. Nikmati pekerjaan Anda dan teruslah berpurwa-purwa tidak tahu beda MALARI dan malaria. Hadirilah undangan ceramah di hotel berbintang lima, dan.. nikmati HamBURGer hangat di meja. Ham..[]

Glossary:

Ham, gambaran memasukkan suapan makanan di mulut.

Burger, roti panggang isi sayur, daging keju dll.

Ger, gambaran suara-suara riuh ketawa karena lucu.

Hamburger, makanan khas ala Amerika.

Hamburg, Jerman (tempat para teknokrat unggulan)

(Temukan mata rantai keterkaitan “HamBURGer” sesuai dengan persepsi Anda).