Aristokrasi Pesantren, Why Not dan If Yes


Marhaban RamadanAristokrasi Pesantren, Why Not dan If Yes
(Lanjutan dari: Walat dan Sungkeman)
Oleh Shodiqiel Hafily
April 2008

Menilik ilustrasi di atas, menyoal sistem aristokrat yang berlaku di pesantren maka harus dirunut pada konteks era kekinian dan keduluan untuk menetapkan pilihan relevansinya.

a. Aristokrasi Pesantren Jaman Dulu

Sebenarnya, sistem aristokrat di pesantren terjadi begitu saja sebagai kultur alami. Sebagaimana dimaklumi bersama, bahwa sejarah berdirinya pesantren di Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa hal berikut:

  1. Didahului oleh pembukaan “zona aman” oleh Syaikh Subakir, Syaikh Burhanudin dll yang sejaman, dengan membebaskan daerah-daerah angker dari jin Ifrit, dedemit dan sebangsanya untuk melapangkan proses dakwah Islam oleh wali songo dengan pembukaan tempat-tempat belajar yang kemudian terbentuk sebuah pesantren (tempat untuk nyantri).
  2. Pesantren sebagai alternatif bagi kalangan yang kurang mampu untuk mengenyam pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan yang dikuasai bangsa asing (penjajah) dan hanya mampu dijangkau oleh masyarakat kalangan aristokrat.
  3. Pesantren sebagai basis perjuangan melawan penjajah dengan keterampilan ekstra bela diri dan taktik-strategi perang gerilya.

Kenyataan-kenyataan itu memberikan informasi kepada kita tentang betapa besar kontribusi dan peran serta para ulama-kiai di masyarakat. Belum lagi kemampuan spiritual yang dikuasainya. Sehingga wajar bila – kemudian – masyarakat mengakui ketokohan mereka dan menjadikan mereka sebagai orang-orang pilihan yang disegani, dihormati dan macam-macam apresiasi lainnya.

Mbah Yai Sulaiman, pendiri Sidogiri, membuka alas (hutan) lokasi pesantren melalui perang tanding berhari-hari melawan makhluk-makhluk jahat dengan pusaka keris-kipasnya yang hingga kini tersimpan. Mbah Yai As’ad Syamsul Arifin membuka pesantren Asembagus yang tersohor itu melalui riyadloh ngalas dalam waktu yang tidak sebentar hingga ditemukan tanah yang cocok dengan contoh yang dibawakan gurunya dan pas dengan yang diisyaratkan, dihuni raja rimba, macan!

Bukan sembarang orang dan bukan orang sembarangan, itulah yang dilihat masyarakat dari sosok kiai pada jaman dulu. Kemampuan mereka juga diwarisi oleh pengganti-penerusnya (dari keluarga ndalem). Liyakun walad al-asad syiblan la hirratan, anak macan jadilah gogor (anak macan, Jawa), bukan jadi kucing. Maka berlangsunglah suksesi-pewarisan kepemimpinan secara turun temurun. Karena semua itulah, model pesantren aristokrat terbentuk dan, tidak jadi soal, why not?!

b. Aristokrasi Pesantren Era Kini

Pesantren yang bertebaran di tanah air, kebanyakan merupakan warisan dari masa lalu dan lestari hingga kini dengan sistem dan model pembelajaran yang belum jauh beda dengan pola kepemimpinan aristokrat. Hanya sedikit yang mengubah diri menjadi lembaga-lembaga yang dikelola bersama sebagai sebuah yayasan dan memperoleh pembinaan dari pemerintah, utamanya terkait standarisasi kurikulum pesantren yang hingga kini SKB dua mentrinya belum juga final.

Pesantren sebagai institusi paling independen, menejemennya memang sepenuhnya di tangan keluarga pendiri/pengasuh. Pendirian pesantren juga tidak rumit, cukup membuat sebuah ruang belajar layak huni, swadaya masyarakat akan mengalir datang. Satu sisi cukup positif dalam rangka fastabiq al-khoirot dalam membina generasi bangsa. Pesantren bertebaran di mana-mana. Namun pada sisi lain juga terdapat sejumlah sisi negatif, diantaranya:

  1. kesenjangan kemampuan di kalangan mutakharrij (lulusan). Misalkan, 2 santri mutakharrij beda pesantren, sama-sama lulusan madrasah diniyah tingkat aliyah (‘ulya) boleh jadi di pesantren lain hanya mampu di madrasah diniyah kelas 6, bisa juga terjadi sebaliknya. Jenjang pendidikan yang tidak sesuai kemampuan tentu cukup mengecewakan masyarakat.
  2. terjadinya letupan-percikan api dari persaingan kurang sehat antar pengasuh pondok-pondok kecil karena perebutan pengaruh. Nah, persaingan yang tidak sehat ini akibat dari kekurangsiapan kiainya untuk menyandang predikat yang – semestinya – tabahhur (nyegoro, Jawa) baik dari segi disiplin ilmu, kemasyarakatan maupun kelapangan hatinya sebagai figur publik.
  3. pudarnya pamor pesantren seiring wafatnya pengasuh. Ini sering kita jumpai pada pesantren-pesantren yang menejemennya tersentral pada pengasuh, sementara generasi penerusnya – sebagai putra mahkota – tidak mewarisi figuratif pendahulunya.

If yes dan kita amini model-model pesantren kayak itu akan kontraproduktif dengan pembinaan generasi muslim yang mumpuni dan pembangunan masyarakat agamis, harmonis serta dakwah islamiyah sebagai misi utamanya.

Selayaknyalah menejemen pesantren diarahkan pada sistem yang lebih baik dan lebih aman dengan para pengelola yang kapabel di bidang masing-masing tanpa pekewuh dengan tradisi pewarisan kekiaian. Keluarga ndalem yang memang kurang bekal tetap kita beri apresiasi selayaknya.

Saya pribadi, beberapa kali ditawari dan disarankan mendirikan pesantren dengan swadaya masyarakat sekitar, tapi saya lebih memilih bergabung dengan pesantren yang telah ada untuk berkiprah dan membesarkan bersama-sama. Mengapa? Pertama, saya tidak memiliki kemampuan lahir-batin para kiai. Kedua, saya memandang penerangan dengan puluhan lilin di satu ruangan tidak lebih aman dan tidak lebih terang dari pada sebuah lampu pijar. Dan ketiga, demi memelihara al-ittihad (persatuan dan kesatuan) kaum muslimin.[]