Kreasi-Inovasi Keagamaan


ArabianKreasi-Inovasi Keagamaan
Oleh Shodiqiel Hafily
11 Mei 2008

Dalam kajian ushul fiqih tentang ma udlif ila shahib al-syari’at (segala sesuatu hal yang dihubungkan dengan Nabi saw, para ulama berbeda pandangan; 1) Golongan berpendapat bahwa apapun yang dihubungkan dengan Nabi terkait sabda, tindakan-perbuatan, perilaku, atau pengakuan (iqrar, legitimasi) terhadap sesuatu hal tertentu termasuk dalam kategori sunnah (keteladanan yang baik dan berpahala). 2) Kalangan yang membatasi pada aspek-aspek syariat keagamaan saja (seperti segala macam ibadah mahdlat).

Saya lebih cenderung kepada golongan kedua dengan asumsi bahwa tradisi budaya itu berkembang sepanjang peredaran jaman dan berbeda-beda di seantero dunia. Agama menyikapi tradisi-budaya yang berlaku. Ada kalanya agama menolak tegas dan/atau menuntut perubahan secara evolutif (seperti paganisme, perang antar suku, perbudakan, judi, konsumsi miras, bertukar pasangan hidup [kini masih dipraktekkan di Amerika dalam bisnis sewa pasangan, selain free sex] dll), ada kalanya mengharuskan adanya perubahan terkait situasi dan kondisi (seperti kehalalan menikahi saudara secara silang pada masa Nabi Adam, kehalalan menikahi wanita hingga 99 pada jaman Nabi Dawud yang – kemudian – dibatasi hingga maksimal 4 wanita dan larangan menikahi saudara pada jaman Nabi dll, falyuqis ma lam yuqal yuktab). Dan ada kalanya juga sebuah tradisi budaya dipandang baik (seperti ‘pesta’ makan bersama pada moment kelahiran atau ketambahan keluarga baru, yang dilegitimasikan dalam syariat aqiqah dan walimat al-arusayn dalam motivasi berbagi kebahagiaan dan dibingkai dalam:

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

“Apa-apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka baik (pula) di sisi Allah”

Oleh karena peradaban umat manusia berlangsung secara evolutif dan beraneka ragam, dan syariat diberlakukan sebagai way of life, maka tradisi budaya mesti tunduk pada ketentuan agama.

ISLAMISASI vs ARABISASI

Terhadap golongan pertama, secara umum saya tetap sependapat bahwa segala perilaku Nabi saw – sebagai uswat hasanat – adalah baik dan harus ditiru. Tapi, pada semisal pakaian, saya menganggap itu sebagai budaya. Bukan karena postur tubuh saya agak kurang pantas dengan jubah, sorban dsc tetapi jauh sebelum Nabi hingga kini sepeninggal Nabi saw, bangsa Arab – baik yang muslim maupun nonmuslim – memang punya mode seperti itu. Di Indonesia ada baju takwa yang diasumsikan sebagai busana muslim, padahal baju itu budaya impor dari model koko Mandarin yang dipromosikan Jet Li, Jacky Chan dll.

Contoh lain adalah bertongkat. Nabi Muhammad saw bertongkat sebagaimana Nabi Musa dan Nabi Sulaiman. Bedanya ada yang difungsikan sebagai mukjizat dan ada yang digunakan sebagai keperluan biasa saja untuk menggiring ternak. Seorang teman saya pernah bertongkat, meneladani ‘sunnah Nabi’, tapi lama-lama disimpan entah di mana. Mungkin ogah kliatan aneh, karena tidak buta dan juga tidak menggembala ternak. Memelihara jenggot, saya pernah baca tulisan saudara sesama muslim juga, dihukumi wajib, bukan sekedar sunnah. Sungguh beruntung orang yang berjenggot lebat dan bagus dapat pahala terus menerus, tapi malang bagi yang jenggotnya cuma tumbuh satu dua. Dipelihara ga’ bagus, dicukur takut dosa! Ah, dilematis jadinya.

Pada tradisi-budaya lokal semacam itu, saya tidak menganggap keseluruhan dari perilaku Nabi saw itu sebagai ATURAN SYARIAT. Ada pemilahan pada sosok Nabi saw sebagai manusia biasa yang bergaul sehari-hari layaknya manusia pada umumnya, bahkan ditegur juga bila salah seperti asbab nuzul ‘abasa wa tawalla dan hadis tentang lokasi perkemahan pilihan Nabi saw.

Terkait makanan juga demikian, disunnahkan makan dengan 3 jari dan mengunyah sampai 33 kali. Maklum, daging dan kurma seratnya liat dan ulet. Jika seperti ager-ager atau soto telor? Makanya, susah juga jika tidak ada pemilahan dan analogi (qiyas), zakat fitrah mesti pakai kurma atau gandum, tidak boleh yang lain.

BID’AH, APA ITU?

Saya setuju pada definisi yang menyatakan bahwa bid’ah adalah kreasi inovatif keagamaan yang tidak di’syariatkan’ oleh Nabi. Kata ‘keagamaan’ mesti disertakan untuk mengecualikan tradisi-budaya seperti menabuh bedug tanda masuk waktu shalat yang – lalu – diganti adzan. Adzan adalah syariat bernilai sunnah (wajib, bagi sebagian madzhab) tapi menabuh bedug bukan syariat. Demikian pula semisal penggunaan pengeras suara, penulisan dan pemasangan tanda baca pada Qur’an, dll yang di kitab-kitab dimisalkan sebagai ragam bid’ah, menurut saya, tidak terkait langsung dengan syariat sebagai perundang-undangan/peraturan yang digariskan oleh Allah terkait pelaksanaan suatu ibadah. Jadi, itu semua adalah bid’ah (inovasi) secara harfiah yang diadakan terkait keperluan dan adaptasi terhadap perkembangan jaman, bukan bid’ah yang bernilai dlalalat maupun hasanat. Kalaupun disebut hasanat, tidak lain karena dipandang baik dan bernilai pahala dari segi manfaatnya sebagaimana Nabi berpidato bertangga batang kurma yang disusun menyerupai undakan agar bisa lebih lantang terdengar dan lebih komunikatif.

Jika hal-hal seperti saya kemukakan di atas dikategorikan sebagai bid’ah, maka seyogyanya tongkat yang digunakan pada waktu khutbah Jum’at ada yang bertombak. Karena dalam situasi perang, Nabi menggunakan tombak sebagai tongkat saat berkhutbah.

Bid’ah yang sesungguhnya – menurut saya – adalah yang terkait langsung dengan ritual-ibadah. Itupun masih terkecuali dzikir dan wirid secara berjamah maupun sendiri-sendiri (baik seusai shalat maupun lainnya) yang Al-Qur’an mapun hadis memberi ruang dan waktu yang sangat luas untuk pelaksanaannya. Jadi saya tidak memasukkan istighotsah, kumpulan tahlil, manaqiban dll sebagai aktifitas sosial dalam kategori bid’ah. Karena, kalau ini dimasukkan juga, maka ada yang lebih bid’ah dari itu: baca novel, baca koran dsb. Sejumlah contoh berikut adalah bid’ah yang saya maksud sesungguhnya:

  1. Shalat laylat al-qadr dan shalat nisf sya’ban yang diselenggarakan oleh sebagian kalangan. Khusus shalat laylat al-qadar, bila dinyatakan dalam niat shalat dan ternyata malam itu bukan malam qadar, maka secara fikih dipandang tidak sah. Bagi saya, cukuplah perbanyak shalat sunnah muthlaq, hajat, atau tahajud, baca Qur’an serta wirid yang jelas-jelas diajarkan Nabi saw dan mohonkan bisa muwafaqat (bertepatan) dengan malam qadar. Itu lebih aman dari bid’ah dan dari kekeliruan yang – malah – berpotensi batalnya ibadah.

  2. Adzan di kuburan pada saat pemakaman. Memang, selain sebagai penanda waktu shalat, adzan – sebagaimana dituturkan Nabi, juga bisa dikumandangkan untuk mengusir makhluk halus yang jahat (jin). Oleh sebab itu, pada mulanya, adzan di kumandangkan di pekuburan yang diduga kuat dihuni oleh makhluk-makhluk jahat tersebut atau pada saat-saat matahri terbit, pas di atas kepala dan senja menjelang tenggelam karena pada saat-saat itu disinyalir merupakan gencar-gencarnya aktifitas setan.

  3. Pelebaran Mina hingga radius sekian kilo meter oleh ulama Wahabi tanpa musyawarah dengan ulama-ulama lain. Karena Nabi telah memberikan batas-batas lokasi yang pasti terkait pelaksanaan rangkaian ibadah haji di Mina.

  4. Melempar jamarat melalui corong, walau batu jatuh pas menimpuk di ‘tugu’nya toh tidak bisa dibilang melempar langsung. Apalagi jika – di kemudian tahun – corong tempat mengarahkan batunya diperpanjang. Salah-salah bisa disahkan jamaah teraweh di Indonesia makmum pada imam Masjid al-Haram melalui siaran live (mubasyarat).

Walau untuk 2 contoh terakhir terbuka saja untuk diijtihadi, namun selagi bisa dan memungkinkan disiasati dengan tetap seperti ditentukan Nabi demi keamanan para jamaah dan kelancaran pelaksanaan haji, solusi siasat lebih aman dipilih ketimbang ijtihad yang melahirkan kreasi baru (benar-benar bid’ah). Misalkan dengan pengaturan antrian yang lebih tertib, seleksi ketat bagi jamaah haji sunnah untuk mengurangi quota haji dll.

Bagi yang bingung tentang tulisan saya ini mewakili muslim ‘firqah’ mana, saya nyatakan bahwa dalam fikih saya banyak berafiliasi pada madzhab Syafi’i dan berfaham ahlu sunnah wa al-jamaah. Tapi saya tidak menutup mata untuk koreksi ke dalam sebagaimana saya contohkan di nomor 1 dan 2.

Dan, sebenarnyalah, saya agak malas nimbrung dalam tema ini kalau bukan karena satu harapan agar polemik seputar kasus seperti ini segera berakhir dan tidak menimbulkan disharmoni antarumat muslim sendiri begitu gemampang melontarkan dakwaan takfir. Juga untuk bahan perbandingan cakrawala baca, agar tidak terjadi klaim paling benar dan labelitas kitab/buku tertentu sebagai bacaan terbaik dan yang lainnya dianggap spam yang – justru – mempersempit wawasan.[]