Keajaiban Takdir


Kambing KurbanKeajaiban Takdir (I)
(Tajally Asmaulhusna)
Oleh : Shodiqiel Hafily
11 Maret 2003

Keajaiban Perwujudan Taqdir, begitulah terjemahan dari title tulisan ini, dituangkan dalam bentuk tulisan, agar dapat berbagi pengalaman kontemplasi keilahian dengan, entah siapapun, yang suka membacanya. Paling tidak, untuk mengabadikan kekaguman yang pernah didapat atau dirasa oleh penulis sendiri. Supaya bisa diingat kembali pada satu saat nanti, betapa المقسط (Maha Pas) pekerjaan-pekerjaan Allah SWT di jagat raya ini. Subhan Allah

Satu tempo, Nabi Sulaiman, bersama para pembesar kerajaan yang menjadi pembantunya –pembantunya (wazir), kedatangan seorang laki-laki asing. Orang itu mengeryitkan kening dan lama memandang tajam salah seorang pembantu Nabi Sulaiman yang duduk di sebelahnya.

Dipandang demikian, terbit rasa takut dan merinding bulu tengkuk wazir itu. Dengan gugup, dia bertanya kepada Nabi Sulaiman, “Siapakah lelaki asing itu?” “Malaikat Maut.” Jawab Nabi Sulaiman singkat. Mengetahui siapa sebenarnya orang itu, wazir itu semakin takut dan merajuk, katanya, “Nabi Sulaiman, jangan-jangan Malaikat Maut bermaksud mencabut nyawa seseorang. Dan, jangan-jangan, seseorang itu adalah aku. Tolong selamatkan aku, wahai Nabi Sulaiman.”

“Bagaimana aku menyelamatkanmu?” Tanya Nabi Sulaiman.

“Perintahkan angin agar membawaku ke tempat yang jauh dari jangkauannya, agar aku lolos dari incarannya.” Pinta wazir itu cemas.

“Baik, kalau itu maumu .Tapi, aku tidak menjamin engkau selamat darinya.”
Kemudian, Nabi Sulaiman memerintahkan angin menerbangkannya. Dalam sekejapan mata saja, wazir itu telah berdiri termangu di negeri antah berantah. Dan, pada kejapan berikutnya, Malaikat Maut mencabut nyawanya.

Saat kembali di majlis Nabi Sulaiman, Malaikat Maut ditanya mengapa menyapu pandangan sedemikian rupa kepada wazirnya. Jawabnya, “Wahai Nabi Sulaiman, saya heran memahami perintah Allah SWT yang telah tertulis pasti. Soalnya, di buku catatan, telah ditetapkan bahwa ajal wazir tuan itu berakhir di tanah fulaniyah (antah berantah), tetapi hingga beberapa saat sebelumnya, koq wazir itu saya temukan di sini, di negeri tuan. Hingga pas saatnya terjadi muwafaqoh (kesesuaian) yang kita saksikan tadi. Dia minta kepada tuan agar diterbangkan jauh dari sini. Dan pas saatnya tiba, ajal wazir tuan benar-benar berakhir di sana.”
“Pas”, tidak menyimpang sama sekali dari ketentuan. Itulah makna asma’ al-husna المقسط ) (. Mari kita telaah lagi satu keajaiban qadla’-qadar Allah SWT.

Dalam uji kelayakan tentang siapa yang berhak menikahi Iqlima, Qabil ataukah Habil, pemilihan ditentukan dengan mekanisme berkurban. Kurban siapakah yang diterima diantara keduanya, dialah yang berhak. Telah dimaklumi, bahwa yang diterima adalah kurban Habil, berupa seekor kambing domba. Diterimanya kurban itu ditandai dengan turunnya semacam angin-mendung yang ‘menjemput’ domba itu. Kemudian membawanya – entah – ke mana. Sebagian ulama menyatakan, domba itu dibawa dan dipelihara di pertamanan bumi terbaik untuk suatu hikmah yang akan terungkap kelak pada masa-masa mendatang.

Beratus-ratus tahun berlalu. Kisah Qabil-Habil seakan ber-tragic ending pada episode terbunuhnya Qabil, atau happy ending dipeliharanya domba kurban di surga. Hingga pada satu masa, penduduk langit dibikin takjub oleh kabar kesalehan seorang hamba Allah SWT, Ibrahim, as. dengan ribuan ternak kekayaannya. Kedermawanannya menjadikan dliyafat (perjamuan) sebagai tarekat-taqarrub yang mengangkat derajatnya pada gelar “Khalil Allah”. Kebersihan hatinya dari pengaruh alaqat (keterkaitan) negatif duniawi sampai terrefleksikan dalam tekad, “Jangankan berkurban kambing, andai satu ketika aku dikaruniai anak, dan Allah SWT memerintahkan untuk menjadikannya sebagai kurban-taqarrub kepadaNya, niscaya kulaksanakan.”

Malaikat dan penduduk langit lainnya memang dibikin kagum oleh tarekat-dliyafat Nabi Ibrahim, as. Ribuan ternak pernah disembelihnya dalam sehari untuk disedekahkan kepada fuqara’-masakin di sekitarnya tanpa rasa eman sedikitpun. Dan, itu, belum seberapa. Yang membuat penasaran adalah tekad yang terlontar dari ucapan beliau, apa benar kiranya ia sanggup menjadikan putranya sebagai kurban?

Hingga pada saat Nabi Ibrahim, as. mempersiapkan tambang, pisau dan alat penyembelihan hewan yang diperlukan, tiada henti penduduk langit mengikuti tindak tanduk beliau, detik per detik. Apalagi saat ditanya putranya, Isma’il, as., buat apa membawa tambang dan dijawab untuk mengikat kambing yang hendak disembelih. Sorak-sorai syetan bergemuruh mengekspresikan kemenangan pertaruhan. “Nah, iya ‘kan, Ibrahim tidak benar-benar ingin menjalankan perintah Allah SWT? Mana tega ia menyembelih buah hatinya sendiri yang semata wayang?!”

Pada detik berikutnya, barulah semua tercengang. Tatkala Nabi Ibrahim, as. benar-benar mengikat kaki dan tangan Isma’il, as., dan… merajangkan pedangnya pada leher putranya yang menelungkup pasrah. Seketika itu, sirnalah rasa penasaran dan keragu-raguan malaikat, jin, syetan dan penduduk langit lainnya. Berbalik takjub akan ketaatan ayah-anak itu kepada Allah SWT. “Allah Akbar, kami sudah percaya, ya Allah. Jangan teruskan lagi pengurbanan Isma’il, itu!”

Seketika itu pula, Allah SWT mengganti tubuh Isma’il, as. dengan kambing domba yang berabad-abad lalu dikurbankan pula oleh kakek-moyangnya, Habil. Gemuruh takbir, tahmid dan tahlil membahana mengiringkan kemenangan Nabi Ibrahim dan Isma’il, as. dalam ujian ketabahan dan ketawakalan itu.

Hikmah apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Pertama, kebaikan orang tua atau nenek moyang, dapat bermanfaat bagi anak cucu. Sebagaimana domba Habil menjadi penebus jiwa Isma’il, as., walau setelah sekian abad berlalu. Kedua, penyucian hati dari kemungkinan timbulnya akidah yang salah. Dimana, ketika domba Habil digulung mendung, sangat berpotensi memunculkan kesimpulan, pemahaman dan prasangka yang bukan-bukan bagi orang yang membaca gejala alam lahiriah sebagai tanda untuk meyakini wujud Allah SWT. Mungkin akan timbul anggapan, Allah SWT itu berwujud seperti angin mendung, disangkanya Allah doyan kambing tak ubahnya seperti demit-danyang penunggu bukit-bukit ( نعوذ بالله من ذلك ). Lebih dari itu, akan menjadi dalil pembenaran dan pengesahan melarung atau mempersembahkan sesaji hidup-hidup di laut atau tempat-tempat yang dianggap keramat. Domba penebus jiwa Nabi Isma’il, as. menafikan semua itu. Kambing yang dijadikan Allah sebagai santapan manusia, tetap kembali kepada manusia yang menyantapnya, ولو بعد حين.

Ketiga, mengisyaratkan bahwa orang yang dekat kepada orang yang saleh akan memperoleh manfaat dan karamat, sebagaimana kaum Nabi Ibrahim, as. dapat menikmati daging kambing yang istimewa. Keempat, membenarkan kema’shuman para nabi dari sifat dusta. Andai Nabi Isma’il dan Ibrahim, as. jadi disembelih, bukankah Nabi Ibrahim didakwa dusta atas ucapannya, hendak menyembelih kambing. Jauh-jauh sebelumnya, semenjak zaman azaly, Allah SWT telah tahu bahwa Nabi Ibrahim, as. kelak akan bertekad membuktikan diri sebagai hamba pilihan Allah, yang – kemudian – keceplosan – jawaban mau meyembelih kambing demi ikhtiyar menenangkan putranya, Isma’il, as. Qadla’-qadar Allah SWT secara amat menakjubkan menjawab dan menghilangkan segala kemusykilan dalam rangkaian keterkaitan episode dalam perjalanan waktu yang panjang. Tidak hanya itu, bahkan melahirkan hikmah-hikmah besar lainnya. Di sinilah tajally يا هادي يا عليم يا خبير يا مبين.[]