UN, Ujian Nasional atau Ujian Nasi-anal?


Ujian nasionalUN, Ujian Nasional atau Ujian Nasi-anal?
Oleh Agus Ikhwan Mahmudi)*
23 Mei 2008

Pendidikan adalah proses ensensial dalam memanusiakan manusia. Bila ada unsur yang tak manusiawi, maka unsur itulah yang turut didapatkan dari program pendidikan itu

(abunajma).

Saat diminta menaggapi perlu tidaknya ujian akhir/ujian nasional, saya teringat Obi-Wan dan Skywalker seorang Jedi yang paling dihormati. Untuk menjadi Jedi, ahli kanuragan yang paling disegani di berbagai planet angkasa raya, perlu syarat dan ujian tertentu. Pintar dan kuat saja tidak cukup untuk hanya menjadi anggota Jedi, tanpa kesiapan mental dan hati, apalagi menjadi Jedi handal. Tiap level atau kelas terdapat ujian-ujian tertentu yang meliputi semua aspek. Ujian itu berkesinambungan hingga tahap akhir untuk menjaga stabilitas keilmuan, mental, dan semangatnya. Skywalker yang dianggap paling mampu pun akhirnya gagal bahkan menjadi pembelot karena inkonsistensi, kesombongan, dan ambisinya. Film “Star Trek” yang sempat masuk box office tersebut diamini oleh Bang Opik, pesilat Betawi asal Ciputat Tangerang. Menurutnya, memilih menjadi pesilat saja merupakan konsekuensi yang berat. Sebelum resmi diterima sebagai warga perguruan, ia harus menjalani ujian yang berat hingga mendapatkan seragam. Menurutnya, tak jarang pra-warga yang gugur sebelum benar-benar menjadi anggota perguruan, apalagi ujian tingkat, jauh lebig berat. Menjadi siswa adalah pilihan yang harus siap dengan konsekuensinya, termasuk bagi orang tuanya. Seleksi, ujian, dan gemblengan adalah suatu keniscayaan.

Ujian tetap perlu. Ujian yang berkesinambungan. Ujian yang mempunyai visi. Di Jakarta, saya mempunyai seorang senior bernama Pak Hotman. Saat muda, lulus dari SMA, ia nekad melamar pekerjaan pada Bank bertaraf internasional. Tentu saja bukan menjadi kepala bagian, apalagi manajer atau direktur. Ia masuk sebagai cleaning service alias tukang bersih-bersih. Selama 16 tahun bekerja, ia minta pensiun dini. Jabatan terakhir adalah Vice President bank bertaraf internasional tersebut. Bahkan saat ini, ia diminta menjadi pengawas bank bertaraf internasional itu di kawasan Asia. Ada banyak pertanyaan, bagaimana mungkin, cleaning service menjadi vice president? Jawabannya, dengan ketekunan beribadah dan usaha yang gigih, ia mampu lulus ujian di setiap jenjang jabatan yang dilaluinya. Ujian sebagai evaluasi terakhir atas kinerjanya. Ada ujian di tiap jenjang jabatan hingga menjadi orang paling dihormati kedua di perusahaan multinasional tersebut. Semakin tinggi jabatan, semakin komplek ujiannya yang bisa merupakan akumulasi ujian kelas/jabatan di bawahnya.

Ujian akhir itu perlu berkesinambungan. Ujian dasar dengan tingkat selanjutnya merupakan rangkaian yang saling berkaitan. Seorang ulama yang mencapai tingkatan ma’rifat sejati, ghalibnya terlebih dahulu ia telah melampaui tingkatan syariat, thariqat, dan hakikat. Syariat, hakikat, thariqat, dan makrifat merupakan rangkaian kelas yang berkesinambungan.

Saya belum mampu membayangkan bagaimana model belajar pelajar Indonesia bila tanpa ujian akhir. Sampai saat ini, ujian bisa dikatakan sebagai motivator utama untuk menstabilkan semangat belajar, termasuk semangat guru mengajar. Apa pun bisa dikatakan berhasil bila ada alat ukurnya, ada evaluasinya. Evaluasi berbentuk ujian itu yang mendorong pelajar untuk menjaga catatannya agar bisa belajar; memaksa orang tua untuk senantiasa mengontrol perkembangan anaknya melalui buku catatan dan buku nilainya sekaligus mendisiplikannya dari play station dan kesenangan sesaat lainnya; ‘menekan’ guru untuk melakukan perencanaan pembelajaran; dan ‘memaksa’ sekolah membuat berbagai program, termasuk maraknya berbagai jenis doa bersama. Tinggal meluruskan budaya, bukan nilai di atas kertas sebagai tujuan utamanya. Nilai itu adalah hasil evaluasi proses pembelajaran dalam waktu yang telah ditentukan.

Nonaka dan Takeuchi, pakar Knowledge Management, dalam bukunya The Knowledg-Creating Company (1995) menceritakan keberhasilan Jepang juga Barat. Keberhasilan mereka disebabkan adanya spiralisasi ilmu pengetahuan dengan proses pembelajaran melalui pengubahan ilmu tacit ke dalam ilmu eksplicit dan sebaliknya. Tacit adalah ilmu yang telah masuk mengakar dalam diri seseorang. Adapun explicit adalah ilmu pengetahuan yang masih berupa teks-teks buku atau ilmu masih belum benar-benar dikuasainya, alias wis nglontok. Spiralisasi ini dilakukan dengan empat proses, yang terkenanl dengan model SECI; sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. Proses terakhir, internalisasi, yaitu proses ilmu pengetahuan dengan menerapkan ilmu yang didapatkan, diujikan sehingga mengakar pada diri seseorang, menjadi tacit knowledge. Dalam pendidikan apapun, spiralisasi ilmu pengetahuan ini hampir mustahil didapatkan tanpa adanya ujian/evaluasi. Ujian ini membuat pebelajar menjadi lebih sungguh-sungguh agar terjadi internalisasi. Pesilat, ulama, dan professional, apalagi tentara adalah pebelajar yang senantiasa ada ujian untuk menjadi lebih baik. Di hampir semua negara maju terdapat ujian akhir meski juga terdapat dialektika dalam tataran formatnya bukan keberadaannya. Menghilangkan ujian berarti sama halnya dengan kemunduran.

Akhirnya, dengan berbagai kondisi budaya belajar yang ada saat ini, ujian nasional di negeri tercinta ini tetap harus diadakan. Namun, ada hal-hal signifikan yang perlu dipertimbangkan sebagaimana analogi-metafor di atas, yang akan ditegaskan berikut ini.

Pertama, ujian itu dijiwai oleh tujuan yang jelas. Suatu tujuan untuk membina manusia seutuhnya, bukan formalitas karena dikendalikan nilai di atas kertas. Pada hampir setiap aktivitas pembelajaran, seringkali murid menanyakan apakah dinilai atau tidak. Guru pun seringkali mengiming-iming bahkan mengancam murid dengan sekedar angka dalam buku nilai. Apalagi orang tua seringkali memberondong anaknya dengan seputar nilai di atas kertas. Akibatnya, bisa saja segala cara digunakan hanya sekedar mendapatkan nilai formalitas. Berbagai jurus menyontek telah menjadi keahlian tersendiri bagi murid-murid, cikal bakal ketidakjujuran yang dapat membentuk jiwa korup. Anehnya, tak sedikit sekolah yang justru mendukung kecurangan demi nilai dan prestise. Pendidikan yang bergeser nilai fitrah kemanusiaan akan menjadi tidak bermoral. Manusia dihalau masuk sekolah, kampus, kursus, penataran, seminar dan sebagainya, lalu dihajar bagaikan budak-budak dan pekerja rodi untuk menenggak ilmu sebanyak-banyaknya demi gengsi, prestise, atau pangkat. Setelah itu mereka dilepaskan dengan jubah, toga, dan diplomat yang bagaikan koboi yang setengah teler menghajar dan mencabik-cabik manusia-manusia lain. Pendidikan memerlukan sebuah garansi agar manusia yang memasuki pendidikan dijamin akan tetap utuh sebagai manusia. Bahkan bertambah luhur setelah proses penabungan ilmu selesai. Pendidikan harus berhenti menjadi pabrik binatang pintar. Budaya pendidikan harus kembali difitrahkan. Segala proses pendidikan harus menjadi peluhuran kemanusiaan. Ujian adalah salah satu proses akhir pada tingkatan tertentu. Nilai adalah akumulasi dari berbagai evaluasi/ujian proses pendidikan.

Kedua, ujian akhir merupakan estavet kesinambungan pembelajaran sehingga tidak muncul ungkapan belajar 3-6 tahun hanya ditentukan 3-6 hari. Padahal, taka jarang saat ini kita jumpai di masyarakat atau di media bahwa jabatan, karir, predikat, atau gelar kehormatan lenyap begitu saja dalam waktu kurang dari 3 hari bahkan 1 jam gara-gara tidak mampu menahan diri. Sebagaimana analogi dan metafora di atas (professional, pesilat, dan ulama), ujian akhir merupakan akumulasi dari ujian kelas-kelas di bawahnya. Ujian akhir itu akan menjadi ringan ketika, pelajar sekaligus pengajar mengikuti proses ujian sebelumnya. Sebaliknya, dipastikan kalang kabut dan tidak lulus, bila proses sebelumnya tidak dilakukan dengan baik. Proses ujian sebelumnya dapat berupa tugas-tugas, praktik-praktik, atau kumpulan nilai dari hasil evaluasi berbagai aktivitas proses pembelajaran. Untuk itu, rekap evaluasi pembelajar secara berkesinambungan seperti portofolio (atau entahlah apa namanya) dari kelas awal hingga kelas akhir sangat diperlukan. Kelulusan tidak hanya ditentukan ujian tulis. Apalagi hanya ujian pilihan jamak yang mirip bahkan sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena pembuat soal sudah kepepet, padahal uang pembuatan per item soal sudah diterima bahkan dihabiskan, akhirnya koleksi soal ujian tahun sebelumnya dijadikan senjata andalan dengan copy-paste plus pembolak-balikan posisi pilihan jamaknya. Mungkin terkesan idealis. Bagi kami, dalam pendidikan tidak ada idealis, karena idealis itu adalah keharusan bahkan kewajaran dalam pendidikan. Ada pepatah “Jika engkau mempunyai tujuan jangka pendek, tanamlah padi. Jika tujuan jangka menengah, tanamlah pohon. Jika tujuan sepanjang masa, tanamlah pendidikan.” Maka, sudah selayaknya negara ini menganggarkan pendidikan secara signifikan. Tidak ada lagi ‘Umar Bakri’ dengan beban 24 jam, tapi dengan penghargaan yang kejam.

Ketiga, pelibatan banyak unsur dalam cetak biru ujian nasional. Tim yang terdiri atas orang-orang yang berkompeten dan terdiri atas berbagai elemen pendidikan yang semestinya (termasuk unsur daerah sebagai negara kepulauan yang beragam kondisi) dengan integritas yang tinggi sangat diperlukan dalam proses awal ujian nasional ini. Tim ini yang menggodog, menelaah, dan mengevaluasi, dan menerapkan (plan, do, check, and action)program ujian nasional ini. Hal ini akan meminimalisasi kesalahan dan kesenjangan. Namun, jangan sampai ganti menteri, ganti semua kebijakan karena show of me semata. Untuk itu, perlu suatu jaminan kesinambungan program. Memang berat tugas tim ini, tidak salah bila ‘dihonor’ yang cukup dan dibarengi konsekuensi dan sanksi yang maksimal.

Keempat, menjadikan jujur dan fastabiqul khoirot sebagai kultur, ruh, atau jiwa pelaksanaan ujian nasional. Dimulai dari tingkatan pucuk hingga akar rumput, kejujuran dan siap bersaing dijadikan budaya. Sesuatu yang membudaya, penyelesaiannya dengan pendekatan budaya. Ini membutuhkan komitmen dan usaha keras dari berbagai elemen. Perbaian budaya dapat dilakukan dari sisi struktur budaya terdalam (deep structure), seperti nilai-nilai, atau dari sisi yang tampak (surface structure), seperti slogan atau treatment tertentu; “Malu, dong, Lulus tapi curang. Sama dengan Kaya tapi dari Tuyul, Hii…awas lho, akibatnya!!. Bila ada pejabat atau sekolah yang curang, kucilkan saja. Bukan sebaliknya, pejabat atau sekolah jujur malah dikucilkan dan dicibir.

Ujian nasional bukan proyek profit oriented yang menggendutkan perut orang atau kelompok tertentu, dan mencarut-marutkan aset terpenting bangsa ini, generasi pembelajar. Bila ujian nasional tidak lagi mampu menjadi tools untuk meningkatkan mutu pendidikan untuk peluhuran budi-memanusiakan manusia, tetapi justru malah membobrokkan berbagai sendi karena pelakunya berorientasi pada nasi demi membuncitkan perut belaka yang ujung-ujungnya berakhir pada pembuangan melalui anal (maaf), maka UN itu, ujian nasional atau UJIAN NASI-ANAL?

)* Agus Ikhwan Mahmudi
Pembelajar pascasarjana Universitas Indonesia
Alumni Al Ittihad Belung Poncokusumo Malang