Heboh Pengkafiran


Biarkan Mereka Ngomong ApaHeboh Pengkafiran
Oleh Shodiqiel Hafily
08 Juni 2008

Lumayan kaget juga, ternyata postingan saya tentang FPI memunculkan komentar pengkafiran terhadap diri saya. Tapi, komentar-komentar yang saya nilai tidak layak, langsung saja saya hapus. Bukan marah, bukan pula jaim (jaga image). Hanya agar tidak terbaca orang lebih banyak lagi disamping saya tidak suka bahasa-bahasa vulgar dan kasar yang mencerminkan kurang didikan.

Banyak orang tidak begitu risau dikafir-kafirkan orang dengan asumsi bahwa iman-kafir adalah urusan pribadi seseorang dengan Sang Pencinta dan Sang Pencipta. Artinya tidak ada urusan dengan mereka, pengkafiran mereka tidak berpengaruh apa-apa. Saya sependapat dengan mereka.

Husnu-dhon saja, mungkin mereka tersulut amarah sehingga akal sehatnya mengabur. Boleh jadi juga, mereka cuma baca judulnya saja tanpa detail tulisan dan langsung emosi. Kita juga maklum, bahwa pencapaian kecerdasan emosional seseorang memang berbeda-beda. Bila mereka ‘kebetulan’ termasuk muslim yang merasa taat, ya berarti buah ketaatan keislamannya sebatas pengkafiran dan tidak menumbuhkan kedamaian.

Saya agak risau kalau ternyata komentar-pentakfiran itu berasal dari seorang muslim juga. Karena mereka terlalu tidak mengerti bahkan arti harfiah “islam” adalah damai, dan bahwa seseorang yang mendakwa kafir terhadap sesama muslim lainnya dapat berakibat jadi MURTAD sendiri.

Sabtu kemarin, 07/6, saya mengikuti penjelasan P. Said Aqil Siraj selaku PBNU. Diantara poin yang patut dicatat adalah penegasan imbauan agar warga nahdliyin tidak terprovokasi untuk terlibat konflik dengan FPI, AK-KBB, maupun yang lain-lain. Bahkan beliau menengarai adanya aktor intelektual di balik tragedi Monas 1 Juni menilik asal usul dibentuknya FPI pasca lengser P. Harto adalah untuk mengimbangi gerakan kelompok haluan kiri.

Karena itu, masih kata P. Said, PBNU menyerahkan sepenuhnya urusan FPI kepada pemerintah, masih diperlukan apa ga’ lagi. Kalau masih yang biarkan, kalau tidak ya bubarkan. Sedang terkait Ahmadiyah, beliau menegaskan bahwa itu murni penodaan agama (Islam).

Beberapa hal menarik saya catat dari keterangan-keterangan beliau:

  • Penodaan agama, menurut saya, mesti dipilah-pilah antara yang bersinggungan dengan hak asasi manusia dan hukum negara dengan penodaan agama yang tidak terkait langsung dengan itu. Pada prinsipnya, setiap pelanggaran syariat (aturan-aturan perundang-undangan agama) berarti menodai esensi agama itu sendiri. Pelacuran dan semisal mengingkari kewajiban haji, puasa dan shalat tidak saja menodai bahkan dianggap sama dengan merobohkan sendi-sendi agama. Dosa-dosa semacam itu sanksi hukumnya di pengadilan Tuhan, karena tidak merugikan dan tidak menimbulkan gangguan kepada orang lain terlebih lagi negara kita tidak menerapkan hukum Islam. Sedangkan semisal menghina, mencerca dll segala bentuk gangguan kepada umat atau pribadi-pribadi orang lain adalah penodaan ajaran agama plus pelanggaran hukum, apalagi bila dibarengi dengan aksi kekerasan.

  • Bila tengara P. Said benar, kita patut merasa prihatin karena kekurangan politikus yang ulung, cerdas dan mengedepankan etika-moral yang santun. Dan sungguh disayangkan massa yang dimanfaatkan sebagai alat untuk mencapai target. Jadi korban dan jadi pemicu timbulnya konflik horizontal. Padahal, semestinya masyarakat kini lebih arif dari terpaan banyak peristiwa, bahwa hanya segelintir orang yang memperoleh kompensasi memadai setelah dijadikan alat. Massa yang dimanfaatkan adalah ibarat rame-rame mendorong mobil macet, setelah mesin nyala ditinggalkan begitu saja dalam kepayahan dan nafas tersengal-sengal.[]

Bacaan lain terkait, klik di sini..