Internet Goes To Madrasah


Gerbang YPP AL-ITTIHAD

Internet Masuk Madrasah
Oleh Shodiqiel Hafily
09 Agustus 2008

Alhamdulillah, hari ini, Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Al-Ittihad (YPPA) telah memiliki jaringan internet sendiri. Sebuah media yang lama diupayakan dan sangat dinantikan bagi insan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Satu tahun ajaran, 2007/2008, saya ‘propagandakan’ pentingnya internet di institusi pendidikan. Kalau tidak penting, tentu tidak ada iklan internet goes to school. Memang, teman-teman sesama pemerhati dan pemedrduli sekaligus pengelola Al-Ittihad hingga pengurus/petinggi yayasan cukup banyak berbeda pandangan soal ‘keberadaan’ internet di madrasah, terlebih lagi.. yayasan ini sekomplek dengan pondok pesantren salaf.

Semua bermaksud baik, baik yang berpandangan tidak perlu pasang internet maupun yang memandang perlu, bahkan menganggap penting. Masing-masing pihak berkiblat pada sisi positif-negatifnya. Namun, pada akhirnya, setelah rembugan dalam beberapa kali pertemuan diputuskan BOLEH pasang internet dengan kontrol ketat. Saya pikir, kontrol memang penting. Internet sebagai Perpustakaan Global memuat hampir segala hal yang – tentunya – perlu pemilahan kelayakan untuk ‘dikonsumsi’. Kelayakan usia, norma-etika dsb. Dan, perpustakaan – sebenarnya – merupakan parameter sebuah institusi pendidikan.

INTERNET PENGGANTI GURU?

Di sebuah forum, Pak Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos) pernah bergenit-genit soal manfaat internet. Sampai-sampai, beliau pesan agar guru tidak sombong karena murid-murid bisa mengakses ilmu pengetahuan apa saja lewat internet. Saya setuju, guru atau siapapun memang tidak boleh sombong, ada internet maupun tidak. Tapi saya juga kurang sependapat kalau internet diasumsikan sebagai pengganti guru, seolah-olah keberadaan guru sudah terwakili oleh internet. “Belajar ilmu tanpa guru, maka gurunya setan” saya pikir tidak hanya berlaku di dunia tasawuf saja. Sebab, hemat saya, proses belajar mengajar bukan hanya transfer ilmu pengetahuan teoritis (knowledge) dengan cara membaca saja, lebih jauh dari itu, proses belajar mengajar adalah transfer value (nila-nilai). Yakni pembentukan mentalitas, akhlak, dan hati nurani. Yang terakhir ini tidak bisa dicapai dengan ‘guru mati’ (buku atau media semacamnya).

Oleh karena itu, ulama bilang, “al-thariqat ahamm min al-madat, wa al-ustadz ahamm min al-thariqat” (metode lebih penting dari pada materi, (sdm) guru lebih penting (lagi) dari pada materi. Bahwa guru dengan segala kemampuannya itu menjadi faktor utama dari pada yang lain (media, sarpras dsc.) dapat dibuktikan oleh sejarah tokoh-tokoh besar yang mengantarkan kita pada keadaan sekarang. Dulu, mereka ditempa dengan metodologi pembelajaran dengan media yang relatif amat sederhana. Maka, kini pun, dengan kemajuan teknologi seperti apapun bukan jaminan PASTI lebih berpotensi melahirkan tokoh-tokoh hebat.

Dimanjakan teknologi tak jarang membuat orang terlena bahkan terpedaya. Banyak karya-karya skripsi copy-paste adalah bukti nyata bahwa teknologi dapat membuat orang kurang tereksplor maksimal potensi kemampuannya. Jalan pintas, cepat dan mudah tidak selalu menghasilkan sesuatu yang bagus.

MENGISTIKHARAHI INTERNET

Oleh karena pro-kontra terhadap positif/negatifnya, kiai sepuh Al-Ittihad musti beristikharah juga tentang maslahat-mafsadat internet. Sebenarnya, demam-kekhawatiran para petinggi yayasan tentang internet ini, sepanjang hemat saya, hanya karena internet telanjur terstigma negatif dalam pemikiran mereka. Internet seolah hanyalah tempat akses sampah-sampah pornografi dsc. Maklum, sebagai ‘orang daerah’ mereka belum mengenal betul apa itu internet.

Saya sendiri ‘ngotot’ tentang perlunya pasang internet atas dasar pemikiran yang simpel saja:

Pertama, YPP Al-Ittihad sebagai yayasan suasta terbesar se-Malang selatan yang mengelola Pesantren (putra-putri), Panti Asuhan, MTs dan MA Al-Ittihad, harus lebih adaptif terhadap perkembangan jaman dalam penyediaan media pembelajaran. Internet merupakan salah satu materi tuntutan kurikulum.

Kedua, mengatasi dampak-dampak negatif yang timbul dalam tugas-tugas keinternetan (TI) jika santri atau siswa mesti ke warnet. Dengan pasang internet sendiri, lebih efisien, lebih terkontrol dan lebih mudah diarahkan kepada pemanfaatan yang positif.

Ketiga, internet menyajikan informasi-kependidikan siap saji yang mudah, murah dan cepat diakses baik untuk kepentingan siswa maupun guru.

Keempat, arus global teramat sulit dibendung. Beberapa tahun ke depan, internet bukan lagi ‘sesuatu’ yang mahal sebagaimana sepuluh tahun lalu televisi dan handphone dianggap sebagai barang lux. Maka, lebih baik mengarahkan generasi kini kepada pemanfaatan yang positif dari pada ketika tiba masanya kelak mereka kurang siap, jadi kurang ‘kerjaan hingga bisanya cuma buka-buka video-foto bugil. Masih banyak lagi manfaat lainnya.

PEMAKZULAN TERHADAP INTERNET

Jika sebuah kedai menyajikan menu-menu kuliner halal, tapi tersedia pula sajian yang ekstrem-haram, bukankah pilihan ada di tangan konsumen? Depkominfo tidak mampu memblokir YouTube ‘hanya’ karena memuat karikatur Nabi, karena YouTube tidak hanya menyajikan itu melainkan banyak yang lain yang bermanfaat dan menjadi kebutuhan.

Memang, man hama hawl al-hima yusyiku an yuqi’ fiha (mendekat-dekati tempat terlarang berpretensi jatuh-terjerumus di dalamnya). Oleh karena itu, kontrol dan pembinaan yang intensif penting dilakukan bagi pengguna internet agar tidak ‘tergoda’ untuk menjelajah ‘hutan larangan’. Walau demikian, kita tidak menilai serta merta, bahwa orang masuk lokalisasi pelacuran – misalnya – tentu untuk berzina. Karena boleh jadi melakukan riset atau apa lah yang memang perlu dan bernilai positif.

Jika tayangan televisi yang dinilai kurang mendidik, sms dianggap sarana menjalin selingkuh, dan internet dianggap lebih bahaya dari lokalisasi pelacuran, maka apakah ‘pemakzulan’ terhadap tv, hp dan internet merupakan langkah yang paling arif-bijaksana?

BAGAIMANA MENANGGULANGI GODAAN?

Menurut penelitian, 1,8 juta pengguna internet, 50% tergoda untuk membuka-buka situs porno. Di lembaga-lembaga pendidikan, hal itu dapat diatasi antara lain dengan:

  1. Mengarahkan siswa/santri pada situs-situs yang relefan, bermutu dan bermanfaat.
  2. Penugasan-penugasan ilmiah terkait dengan pemanfaatan media online seperti riset, mencari artikel terkait pelajaran, membuat blog dll.
  3. Menyediakan blog (situs) jujugan yang telah dilengkapi aneka ragam pilihan link ke blog (situs) lain yang dipandang layak sehingga dari situ dapat jelajah kemana-mana secara terarah.
  4. dll

Dengan adanya ‘kerjaan’ yang jelas dan terarah itulah, godaan-godaan untuk klik yang nggak-nggak dapat dikontrol dengan baik.[] 8)