Masih Cinta Indonesia


Jika wakil-wakil rakyat kemaruk korupsi kepada siapa lagi rakyat mempercayakan nasibnya?

Masih Cinta Indonesia
Oleh Shodiqiel Hafily
17 Agustus 2008

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global

Seperti apapun kondisi Indonesia kini, bagaimanapun para elit politik dan pemerintah memperlakukan rakyat kecil, separah apapun rakyat menanggung beban utang dan penderitaan akibat ulah mereka, rakyat kecil di desa-desa, di kota-kota dan di manapun masih sempat mengadakan perayaan hari kemerdekaan dengan senyum getir berbaur bangga. Mereka masih cinta Indonesia.


Yah, senyum getir dan dipaksakan. Betapa tidak, Indonesia yang – katanya – kaya raya, bahkan kesuburan tanahnya diibaratkan tongkat dan kayu dilempar jadi tanaman, namun hingga lebih setengah abad belum mampu menyejahterakan rakyat.

Diakui atau tidak, Indonesia memang kaya sumber daya alam. Namun kekayaan itu hanya dibuat bhurak’an oleh dan diantara oknum-oknum yang ‘kemaruk’ kesenangan, syahwat sex dan kekuasaan, dan tiada rasa malu dan kehormatan apalagi empati terhadap nasib rakyat sebagaimana terekam di Kompas 29 Juli 2008 berikut ini:

Data anggota DPR Komisi IX Periode 1999 – 2004 yang diduga menerima aliran dana BI (Bank Indonesia) berdasarkan penuturan Hamka Yandhu pada pengadilan tipikor 28 Juli 2008.

Unsur Pimpinan Komisi IX:

  • Emier Moeis (Fraksi PDI-P) – Rp 300 Juta (diserahkan Hamka)
  • Paskah Suzetta (Fraksi Partai Golkar) – Rp 1 Milyar (diserahkan Hamka)
  • Faisal Baasir (Fraksi PPP) – Hamka tidak tahu. Yang menyerahkan Antony
  • Ali Masykur Musa (Fraksi PKB) – Rp 300 Juta (diserahkan Hamka)

1. Fraksi Partai Golkar (F-PG) 14 orang, diantaranya :

  • Hafida Alawi Rp 250 juta
  • TN Nurdin Rp 250 juta
  • Baharudin Aritonang Rp 250 juta
  • Anthoni ZA Rp 500 juta
  • Ahmad Hafid Zawawi Rp 250 juta
  • Asep R. Sujana Rp 250 juta
  • Bobby Suhardiman Rp 250 juta
  • Aji Azhar Muklis Rp 250 juta
  • Abdullah Zaini Rp 250 juta
  • Brian Salambessy Rp 250 juta
  • Hamka Yamdu menerima Rp 500 juta
  • Henky Baramuli Rp 250 juta
  • Reza Kamarullah Rp 250 juta
  • Paskah Suzetta menerima Rp 1 miliar

2.Fraksi PDI-P, diantaranya :

  • Poltak Sitorus Rp 250 juta
  • Max Moein Rp 250 juta
  • Alberson Rp 250 juta
  • M. Silaloho Rp 250 juta
  • Sukowaluyo Rp 250 juta
  • Chandra Wijaya Rp 250 juta
  • Zulfan Lindan Rp 250 juta
  • Angelina Patiansina Rp 250 juta
  • Wiliam Tuturima Rp 250 juta
  • Sukono Rp 250 juta
  • Mantuz Cornez Rp 250 juta
  • Dudi Murot Rp 300 juta
  • Sutanto Pranoto Rp 250 juta
  • Doni Prasetyo Rp 250 juta
  • Emir Moeis Rp 300 juta

Fraksi PPP, diataranya :

  • Daniel Tanjung Rp 500 juta
  • Sofyan Usman Rp 250 juta
  • Endin AG Safihara Rp 250 juta
  • Faisal Hamid Rp 250 juta
  • Habil Marasi Rp 250 juta

Fraksi PKB, diantaranya :
:: Amrullah Mukhtaksim Rp 500 juta
:: Ali As’ad Rp 250 juta
:: Arif Pasari Siagian Rp 250 juta
:: Arif Muktar Wijaya Rp 250 juta
:: Amro Usni Rp 250 juta

Fraksi Reformasi, diantaranya

  • Rizal Djalil Rp 250 juta
  • Aswar Jaya Rp 250 juta
  • TB Sumanjaya Rp 250 juta
  • Datuk Rangkayo Rp 250 juta
  • H. Munawar Saleh Rp 250 juta

Fraksi TNI-Polri, diantaranya :

  • Mayjend Darsud Yusuf Rp 250 juta
  • Harsulistiyadi Rp 250 juta
  • Suyitno Rp 250 juta
  • Ulu Juheri Rp 250 juta

Fraksi KKI (Kesatuan Kebangsaan Indonesia) , diantaranya :

  • Hafidz Mafad Rp 250 juta
  • FX Sumitro Rp 300 juta

Fraksi PBB :
MS Ka’ban Rp 300 juta

Fraksi Daulat Ummat (F-DU) :

  • Abdullah Al Wahdi Rp 250 juta

Sekiranya God Spot di hati mereka masih belum padam, tentu masih ada kesadaran untuk sedikit mengerti tentang makna kemerdekaan yang dahulu kala diperjuangkan dengan bersimbah darah menyabung nyawa untuk membawa anak-anak negeri ini pada kesejahteraan bersama.

DESAIN SERAGAM KHUSUS KORUPTOR

Usulan KPK tentang desain seragam khusus bagi para tahanan kasus korupsi harus kita baca sebagai upaya untuk ‘mempermalukan’ para koruptor, bukan dimaksudkan sebagai perlakuan khusus-istimewa. Karena, selama ini, mereka telah mendapatkan banyak perlakuan ‘khusus’ bahkan tampil di media-media layaknya artis beken sambil senyam-senyum seolah tak berdosa.

Seragam khusus dimaksudkan agar tumbuh – setidaknya – rasa malu. Rasa malu itulah yang diharapkan mampu menjadi self-control agar menghindari korupsi. Memang, terlalu berlebihan jika berharap tumbuh takwa atau takut dosa. Walau – sesungguhnya – dosa korupsi terhitung dosa publik yang tanggung jawabnya jauh melampaui dosa personal-individual! Seandainya mereka sadar hal itu.(?)[]