Show Sadar Zakat


Show Sadar Zakat
Oleh Shodiqiel Hafily
19 Agu
stus 2008

Berdasarkan survey terkini Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah kerja bareng Ford Foundation, potensi zakat, infak dan sedekah (ZIS) umat muslim di Indonesia mencapai Rp. 19,3 triliun. Sementara PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center) menyebut angka 20 triliun dalam setahun untuk zakat profesi.

Jika semua orang berzakat, kita bisa mengentas kemiskinan dan memajukan bangsa Indonesia. (Abu Syauqi, Ketua RZI, Show Sadar Zakat, Surabaya, 14 Juni.)

Show yang dihadiri para pengusaha papan atas dan walikota Surabaya itu menyebutkan bahwa kebanyakan para pengusaha bukan tidak sadar zakat, melainkan terkendala faktor kepercayaan terhadap lembaga ‘amil zakat’ apa benar-benar menyalurkan sepenuhnya kepada para mustahiq.

Diungkap juga bahwa data PBB menyatakan orang Indonesia adalah masyarakat paling dermawan di dunia. Rp 461 ribu per tahun dikeluarkan untuk sedekah oleh setiap orang di Indonesia. Chairman JP Grup, Dahlan Iskan, menyatakan sulit dipercaya bila ternyata kepedulian sosial di Indonesia masih lebih rendah dibanding negara-negara Eropa dengan komunitas-komunitas gereja dan foundationnya.

Sebenarnya, dalam kaca mata fikih, zakat sebagai suatu kewajiban harus tetap ditunaikan. Perkara ada kemungkinan diselewengkan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab adalah soal lain, biar mereka tanggung sendiri resikonya. Kekeliruan tempat mendistribusikannya tidak mengakibatkan batalnya kewajiban yang telah dilakukan, bahkan tidak mengurangi pahalanya sedikitpun. Hanya saja, memang kurang melegakan.

Jika dugaan-dugaan penyelewengan itu dibarengi pula dengan keengganan untuk sadar zakat, maka jadi setali mata uang. Sama-sama menyimpang dari koridor syariat.

SEPARAH ITUKAH UMAT MUSLIM?

Sepanjang hemat saya, umat muslim dan bangsa Indonesia masih kental dalam kegotongroyongan dan kepedulian sosial. Terlebih di daerah pedesaan. Malah, saya pernah membaca sebuah artikel menuturkan bahwa di Barat jika terjadi pemerkosaan, pencurian dsc jangan berteriak minta tolong. Teriaklah “Kebakaran!”. Karena dengan teriakan itu akan membuat mereka juga merasa terancam!

Sebagai pelecut semangat keislaman dan kesadaran untuk terus meningkatkan moralitas dan kesalehan sosial, boleh lah kita acung jempol pada masyarakat barat yang royal memberikan tips dan suka mengikhlaskan uang kembalian di bar-bar minuman. Satu dua peristiwa tentang keburukan wajah Islam yang dekspose media boleh juga kita jadikan bahan renungan-introspeksi. Tapi haruskah kita merasakan kegerahan dalam agama sendiri yang kita yakini, seolah-olah kering sudah ajaran dan nilai-nilai luhur Islam sehingga harus belajar keislaman dari dunia barat?

Pepatah Inggris mengatakan, “Rumput tetangga lebih hijau dari kebun kita”. Saya pikir, bukan itu pemecahan yang mesti kita tempuh. Islam tidak kekurangan dengan ajaran-ajaran luhur. Memupuk kesadaran nilai-nilai luhur itu yang mesti kita upayakan agar terhindar dari melunturnya keyakinan dan ghirah Islamiyah.

(bersambung..)