Shalat Tarawih Balapan


Shalat Tarawih Balapan
Oleh Shodiqiel Hafily
25 Ramadhan 1429 H

Di daerah, utamanya pedesaan, shalat tarawih biasa dilakukan secara kilat. Kalau tidak demikian maka para jamaah akan teruji kesabarannya dan boleh jadi enggan mengikuti shalat tarawih berjamaah. Maka, suka atau tidak suka, imam mesti mengikuti kehendak kebanyakan makmum ketimbang mereka semburat.

Ada sejumlah sebab mengapa mesti dilakukan secara cepat dan ambil syarat-rukun yang ringan; 1) Jamaah tidak terkondisi dengan bacaan Qur’an yang merdu seperti di kota-kota. 2) Tidak terkondisi dengan suasana yang mengerasankan seperti di masjid-masjid kota atau Masjidil Haram. 3) Belum terpupuk kesadaran untuk menghayati makna (hakikat) shalat.

Di akhir-akhir Ramadhan seperti ini, kebanyakan masyarakat awam semangat bertarawihnya sudah mulai kendor. Sebagian kaum ibu juga telah mulai lelah oleh persiapan-persiapan menjelang hari raya. Sibuk memikirkan busana-busana baru, kue-kue suguhan untuk para tetamu dsb sehingga untuk bertarawih menjadi lesu.

Persiapan-persiapan menjelang lebaran tidak dilarang. Bahkan suguhan sedekah yang repot-repot disediakan bernilai pahala. Hanya saja penting disadari, sepertiga bagia akhir dipesankan Nabi agar diwaspadai terkait Lailatul Qadar. Sayang sekali bila terlewatkan untuk hal-hal yang kurang berarti, apalagi untuk menyediakan aneka suguhan yang berlebihan. Toh tiba saatnya, orang-orang enggan mencicipi karena di mana-mana tersedia banyak jajanan.

Ada baiknya menerapkan ushul fiqih, ma la yudraku kulluh la yutrak ba’dluh (jika tidak didapat keseluruhan tidak seyogyanya ditinggalkan sekalian). Jika tidak berkesanggupan tarawih 20 rakaat, mengapa tidak delapan rakaat dari pada tidak sama sekali? Yang penting dilakukan 2 rakaat-2 rakaat (shalat al-layl matsna-matsna). Sebab jika dilakukan menyerupai shalat isya’, sebagian besar ulama fiqih syafi’iyah menyatakan tidak sah atas dasar hadits tersebut.

BILANGAN RAKAAT TARAWIH

Sebenarnya kita tidak bisa mengambil kesimpulan dari hadits tentang bilangan rakaat shalat tarawih Nabi saw, karena yang shahih tidak menyebutkan jumlah rakaat. Sedangkan yang menyebutkan jumlah rakaat ternyata hadits yang perlu ditinjau ulang.

Kita hanya bisa merujuk pada jumlah rakaat tarawih para shahabat di zaman Umar bin Khattab ra. Jumlahnya 20 rakaat. Tidak mungkin shahabat mengarang sendiri untuk shalat dengan 20 rakaat! Pastilah mereka melakukannya karena dahulu – mungkin – sempat shalat tarawih 20 rakaat bersama Nabi saw. Hanya saja, memang, hadits tentang shalat tarawih Nabi dulu tidak menyebutkan jumlah rakaat. Entah apa pula dasar shalat tarawih 36 rakaat yang – di kitab fiqih – dinyatakan hanya boleh dilakukan di Madinah.

Ada juga yang berpendapat bahwa, saat itu, Ubay bin Ka’ab menjadi imam shalat tarawih untuk para shahabat bukan 20 rakaat, tapi 11 rakaat. Mana yang benar dari kedua riwayat itu, semua terpulang kepada ijtihad dalam melakukan kritik hadits. Sangat dimungkinkan adanya satu hadits dengan beberapa penilaian oleh beberapa ulama yang berbeda. Yang satu bilang shahih, yang lain menyatakan tidak shahih. Dan fenomena ini adalah sesuatu yang sangat bisa diterima di dalam dunia ilmu-ilmu keIslaman.

Untuk lebih jelasnya, monggo kita kaji bersama hadits shahih terkait bilangan rakaat tarawih ini
dengan kajian seobjektif dan sedetail yang kita mampu. Kita buka: Tarawih 36 Rakaat.