Tadarus Ala Shahabat


Tadarus Ala Shahabat
Oleh Shodiqiel Hafily
25 Ramadhan 1429 H

Ramadhan identik dengan tadarus Al-Qur’an. Orang-orang yang setiap harinya disibukkan oleh segala macam aktifitas, pada bulan Ramadhan menyempatkan diri untuk bertadarus setidaknya membaca satu marka’ sehabis bertarawih.

Bertadarus bersama, membaca bergantian dengan pengeras suara adalah tradisi budaya Indonesia dan sejumlah negara berpenduduk mayoritas muslim. Usai tarawih, di mana-mana rame dengan kumandang Al-Qur’an hingga larut malam bahkan hingga menjelang shalat shubuh. Itu dulu, sebelum ada aturan yang membatasi pembunyian pengeras suara hingga jam 11 malam.

Di daerah, tadarus hanya dengan membaca Qur’an secara bergiliran. Di kota-kota, walau tidak banyak, ada kita jumpai tadarus yang tidak hanya membaca akan tetapi telah selangkah lebih maju dengan mengkaji isi kandungan Al-Qur’an. Entah sebelum atau setelah tadarus berakhir.

Tadarus adalah amalan sunnah yang diutamakan di bulan Ramadhan. Sebab-sebab diutamakan karena anjuran Nabi saw mengingat pada bulan Ramadhan Malaikat Jibril menyimak bacaan Qur’an mulai dari awal hingga akhir. Hal itu dimaksudkan untuk memelihara hafalan Nabi saw dan mentashih kalau-kalau ada kekeliruan.

Para shahabat adalah orang-orang yang paling kenceng meniru sunnah Rasul saw. Kerap kali Nabi keluar malam dan mendengar bacaan Al-Qur’an dari rumah-rumah shahabat. Ramadhan memang dikhususkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, entah dimengerti maknanya atau tidak, karena tidak dimenerti pun tetap berpahala. Hanya saja, tentu beda antara yang memahami maknanya dengan yang sekedar banyak membacanya.

Yang terbaik, semestinya, adalah banyak membaca Qur’an sekaligus berusaha memahami kandungan isinya. Oleh sebab itu, adalah langkah positif untuk memberikan kajian kequr’anan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak terpendam dalam kegelapan. Fungsi ibadahnya kena, fungsi hidayahnyapun didapat.

Menelusuri jejak shahabat, dahulu kala, mereka belajar Al-Qur’an – baik yang langsung kepada Nabi maupun kepada shahabat yang ditunjuk sebagai pengajar Qur’an – tidak melebihi 10 (sepuluh) ayat walau Al-Qur’an itu bahasa Arab alias bahasa mereka sendiri. Hal itu karena mereka ingin menguasai 3 aspeknya sekaligus; 1) Cara baca yang benar 2) Pemahaman makna kalimat-kalimat yang gharib (asing/langka) sekaligus murad-maksudnya 3) Pengamalan terhadap isi kandungannya.

Tak heran jika mereka menjadi para pecinta Qur’an dan hidup sebagai orang-orang saleh, karena cahaya Qur’an di hati mereka benar-benar menuntun langkah-langkah mereka dalam praktek kehidupan sehari-hari. Hati mereka hidup oleh sinaran kalam Ilahi, pikiran dan nurani merreka tercerahkan oleh pemahaman yang dalam tentang pesan-pesan wahyu yang suci.

Kini, dalam tadarus – terutama di daerah pedesaan, jarang ada yang menyimak untuk sekedar memberi koreksi atas kekeliruan bacaan. Kalaupun ada, kadang-kadang pembaca yang ditegur karena suatu kesalahan menjadi ngambek dan.. enggan muncul lagi dalam tadarus bersama. Akibatnya, tidak ada kemajuan yang dicapai.

Jika kita cermati, sebenarnya tadarus Nabi disemak Malaikat Jibril itu menyiratkan pesan untuk membangun budaya intelek (budaya baca dan budaya kritis) serta budaya sharing. Nabi begitu tekun dan istiqamah menyimakkan bacan Qur’annya kepada Malaikat Jibril, mengapa kita tidak?[]