Shalat Lailatul Qadar


Shalat Lailatul Qadar
Oleh Shodiqiel Hafily
26 Ramadhan 1429 H

Di daerah saya, pada malam-malam ganjil di sepertiga akhir Ramadhan, terdapat beberapa kelompok jamaah shalat Lailatul Qadar. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencela atau menyalahkan masyarakat yang coba meningkatkan ibadahnya kepada Tuhan. Hanya saja, hingga sejauh ini, saya belum menemukan referensi tersurat/tersirat yang merujuk kepada keterangan hadits Nabi saw terkait shalat Lailatul Qadar tersebut.

Kaifiyat (tata cara) shalat Lailatul Qadar (dikutip dari posting Rini) adalah seperti ini:

  • Niat sholat: ushalli sunnatan fi lailatil qodri arba’a roka’atin lillahi ta’ala.
  • Bilangan rakaat: 4 tanpa tahiyat awal.
  • Bacaan di setiap rakaat: Al fatihah 1X + At Takatsur 1X + Al Ikhlas 3X

Berdasar hadits Nabi saw, shalat malam yang boleh dilakukan 4 rakaat dengan sekali salam adalah shalat sunnat tasbih, karena ketentuan shalat malam – menurut madzhab Syafi’i – harusnya 2 rakaat sekali salam.

Disamping alasan terkedepan, Lailatul Qadar itu sangat samar. Jika memang yakin malam itu masuk waktu Lailatul Qadar, maka shalat dengan niat seperti kutipan di atas sah. Tapi bila tidak yakin, atau bahkan dilakukan secara ‘gambling’ dengan harapan ada yang kena (pas) waktu Lailatul Qadar, maka shalat dengan niat di atas menjadi tidak sah.

Saya sepakat dengan pendapat Gus Mus, lebih ‘aman’ jika melakukan shalat atau wirid yang sudah ada dan diajarkan Nabi saw ketimbang ‘meramu’ sendiri yang sangat berpeluang menjadi bid’ah. Bukankah sudah ada tarawih, witir, shalat sunnah muthlaq, tahajud, i’tikaf serta wirid-wirid yang ma’tsur (berdasarkan penuturan Nabi saw)?

Meningkatkan Kualitas Ibadah

Setiap individu memperoleh peningkatan kesadaran beragamanya dengan tingkat berbeda-beda dan dengan pemahaman beraneka ragam. Beberapa waktu lalu saya berjumpa seorang teman yang dikenal sangat kritis terhadap ajaran agama dan sangat anti terhadap anak-anak muda yang suka nongkrong di jalanan ga’ karuan sementara umat lain bertarawih di mushalla atau di masjid-masjid.

Tumben ga’ ikutan tarawih?” Saya menyapa sekalian meledek.

“Saya coba belajar akan tingkatkan kualitas, nanti saja agak maleman ‘dikit dan tidak pake buru-buru.” Jawabnya nyengir kuda. Ow, begitu rupanya. Dia sendiri tidak balik bertanya kepada saya mengapa sudah di depan komputer padahal di mushalla sebelah tarawih belum usai.

Saya juga merasa tidak perlu menjelaskan bahwa barusan saya shalat tarawih bersama keluarga di rumah, 8 rakaat. Witirnya ingin saya lakukan di paroh malam, lebih tenang dan lebih fokus berkonsentrasi. Tarawih 8 rakaat saya pilih karena istri saya capek bekerja seharian, sementara saya sendiri merasa lebih ‘enjoy’ dengan 8 rakaat. Artinya bisa lebih berkonsentrasi dan tenang, tidak seperti diburu-buru atau diuber setan.

Kata Nabi, “Khayr al-a’mal adwamuha wa-in qall”, sebaik-baik amal ialah yang paling “langgeng” walau sedikit. Langgeng berarti terus menerus, bisa pula berarti seperti yang saya maksud: lebih banyak ingatnya (konsentrasi dan penghayatannya).

Memang bukan pilihan ideal, tapi sebagai sebuah proses saya anggap perlu dijalani dengan harapan kelaknya dapat beramal banyak, padat berisi (berkualitas), dan.. ikhlas. Jauh lebih penting dari itu, semoga bukan tipu daya setan yang mengarah pada bermalas-malas dengan pilihan-pilihan ringan.

Sebenarnya, pilihan ringan yang saya maksudkan juga tidak terlalu mengkhawatirkan sebagai tipu daya setan. Bukankah Nabi saw memilih yang lebih ringan bila dihadapkan pada sejumlah pilihan. Agama juga mengajarkan, la tusyaddidu fi al-din, jangan memberat-beratkan diri dalam urusan agama. Di sisi lain, Nabi saw juga mencontohkan keteladanan shalat malam berlama-lama sampai telapak kakinya membengkak demi menjadikan diri beliau sebagai ‘abdan syakuron (hamba yang paling banyak rasa syukurnya).

Kiranya itulah pilihan ideal yang mesti kita teladani. Selama berproses, kita lakukan dulu apa yang kita mampui. Semoga diberi kekuatan dan ma’unah oleh Dia yang mencintai hambaNya dengan luv without wax. Best wishes..[]

Tulisan terkait: Kreasi-Inovasi Keagamaan