Tarawih 36 Rakaat


Tarawih 36 Rakaat
Oleh Shodiqiel Hafily
25 September 2008

Kita tidak akan bicarakan hadits penuturan Aisyah tentang shalat malam 11 rakaat, karena itu sudah mafhum terkait kebiasaan Nabi saw sehari-hari mengistiqamahi shalat malam plus witir yang bilangannya maksimal 11 rakaat. Kita akan kaji ulang hadits shahih yang terkait langsung dengan Ramadhan berikut ini:

كان النبي صلى الله عليه وسلم خرج في جوف الليل ليالي من رمضان وهي ثلاث متفرقة – ليلة الثالث والخامس والسابع والعشرين – وصلى في المسجد وصلى الناس بصلاته فيه، وكان يصلي بهم ثمان ركعات (أي بأربع تسليمات كما سيأتي) ويكملون باقيها في بيوتهم (أي حتى تتم عشرين ركعة لما يأتي) فكان يسمع لهم أزيز كأزيز النحل. رواه البخاري ومسلم.

“Nabi keluar di tengah malam pada sebagian malam-malam Ramadhan, yaitu tiga malam yang terpisah; malam ke-23, 25 dan 27. Beliau shalat di masjid dan orang-orang mengikuti sholat beliau di sana. Beliau shalat 8 rakaat (yakni dengan 4 kali salam atas dasar yang akan dikemukakan kemudian). Mereka menyempurnakan rakaat-shalat selebihnya di rumah masing-masing (yakni hingga jadi lengkap 20 rakaat atas dasar yang akan dikemukakan kemudian). Maka terdengar dari mereka suara dengungan seperti dengung lebah.”

Catatan:

Kalimat di dalam kurung adalah penjelasan perawi, bukan redaksi hadits. Kita mulai dari:

WAKTU PELAKSANAAN

Menelaah hadits tersebut kita jadi tahu bahwa Nabi melakukan qiyam layl ramadlan (yang kemudian populer dengan: tarawih) adalah tengah malam pada tanggal-tanggal tertentu saja. Dan, hal demikian, berlangsung hingga Khalifah Umar bin Khatthab menghimpun orang banyak untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Mereka adalah kalangan para shahabat, diantara mereka yang menghadiri dan mengikuti shalat tarawih berjamaah itu tercatat Ubay bin Ka’ab (imam), Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibn Mas’ud, Abbas dan putranya, Thalhah, Az-Zubayr, Mu’adz dan sejumlah kalangan Muhajirin dan Anshar. Dari kalangan wanita diimami oleh Utsman bin Khats’amah.

Semenjak saat itu, karena diikuti khalayak umum, maka tarawih dilakukan secara berjamaah dan terus menerus selama Ramadhan.

BILANGAN RAKAAT

Menjawab pertanyaan tentang “bid’ah” yang dilakukan Umar bin Khatthab, Imam Abu Hanifah berkomentar bahwa Umar tidak menentukan 20 rakaat sekehendaknya sendiri. Sekiranya hal itu dianggap bid’ah, tentu para shahabat akan menyangkal seketika itu juga. Sebaliknya, malah pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, beliau sempat berdoa, “Semoga Allah menerangi makam Umar sebagaimana dia telah menerangi masjid-masjid kita (dengan tarawih berjamaah).”

Penjelasan Abu Hanifah ini memberi kita 2 informasi, yaitu jumlah bilangan rakaat dan bantahan (penolakan) untuk dianggap bid’ah.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tercatat sejarah bahwa beliau mengikuti ‘sunnah’ penduduk Madinah yang melaksanakan shalat tarawih sebanyak 36 rakaat. 20 + 16 rakaat (minus witir). Enambelas rakaat dimaksudkan sebagai pengganti thawaf yang dilakukan jamaah tarawih di Makkah demi menyeimbangkan keutamaan pahala para jamaah tarawih di Makkah dan jamaah tarawih di Madinah yang – keduanya – dianggap sebagai tanah haram (mulia). Oleh sebab itu, tidak disahkan shalat tarawih 36 rakaat selain di Madinah.

Dari redaksi hadits, “.. . Mereka menyempurnakan rakaat-shalat selebihnya di rumah masing-masing.”, sebenar-benarnyalah tidak bisa diarahkan pada satu kesimpulan: menambah rakaat hingga lengkap 20 (minus witir). Redaksi itu mengandung ihtimal (multipretensi). Boleh jadi mereka menyempurnakan di rumah masing-masing dengan shalat witir, boleh juga dengan tambahan rakaat tarawih, atau boleh juga dengan – sekedar – membaca Qur’an. Tidak ada pernyataan yang jelas selain terdengar dengungan seperti suara lebah.

Dalam ushul fiqih dikemukakan, ad-dalil idza tharaqahu al-ihtimal saqatha fih al-istidlal (jika sebuah dalil [postulat] mengandung ihtimal [sejumlah kemungkinan] maka dalil itu digugurkan untuk dijadikan landasan pengambilan ketetapan hukum).

Dengan mengabaikan tafsir yang disertakan dalam redaksi hadits, kita dapati pemahaman seolah-olah Nabi Muhammad memberikan keleluasaan dalam hal bilangan rakaat ini. Sekiranya harus ada batasan, tentulah telah Nabi pesankan kepada shahabat yang ditinggalkan atau tidak ditemui di masjid pada saat menunggu-nunggu Nabi. Ditambah lagi dengan pernyataan Nabi, “Aku khawatir shalat malam itu jadi kewajiban bagi kalian dan kalian tidak sanggup menunaikannya.”

Atas dasar itulah saya anjurkan orang-orang – yang mungkin lelah, sakit, atau berhalangan atau bahkan tidak berhalangan – agar tidak sampai melewatkan tarawih walau hanya dengan 8 rakaat. Malah dengan 8 rakaat tampak lebih ‘asli’.

PENDAPAT PARA IMAM

Para Imam di sini saya maksudkan sebagai imam-imam madzhab atau pengikut sistem ijtihad mereka dan telah mencapai kemampuan ahli tarjih.

  1. Madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali, bilangan rakaat tarawih 20 (minus witir).
  2. Imam Malik mengikuti ‘sunnah’ yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz, 36 rakaat. Pada qaul yang lain beliau nyatakan 20 rakaat.
  3. Sejumlah penuturan bersumber dari shahabat (bukan dari Nabi) menyatakan 20 rakaat.

Madzhab Hanbali, Maliki dan Hanafi memandang sunnah melakukannya dengan salam setiap 2 rakaat. Bila dikerjakan dengan duduk di tiap-tiap dua rakat tanpa salam dihukumi makruh.

Madzhab Syafi’i berpendapat wajib salam pada tiap 2 rakaat. Sedang Imam Hanafi berpendapat bahwa jika seseorang melakukan 4 rakaat dengan satu salam tetap sah dan dianggap jadi 2 rakaat. Adapun jika lebih dari 4 rakaat dengan satu salam maka keabsahannya jadi perselisihan;

Madzhab Hanbali: sah, makruh dan dihitung rakaat utuh

Madzhab Maliki: sah, dianggap rakaat utuh dan keluar dari sunnah tasyahhud dan salam pada tiap 2 rakaat, jadinya makruh.[]

Lanjutan dari: Shalat Tarawih Balapan