Hari Raya Ketupat


Hari Raya Ketupat
Oleh Shodiqiel Hafily
08 Syawal 2008

Idul Fitri adalah “musim” silaturahmi (dari bahasa Arab shilat= sambung dan rahm, rahmat= kasih sayang), yaitu menyambung ikatan kasih sayang dengan sanak kerabat, famili, teman, sahabat dll. Makna silaturahmi lebih luas dari pada silaturahim. Sebab kata rahim mempersempit makna jalinan sebatas pada orang-orang yang masih ada hubungan pertalian secara rahim, yakni pertalian darah atau nasab-keturunan.

HIERARKI SILATURRAHMI

Orang mudik atau pulang kampung bertujuan untuk berkumpul bersama keluarga, dalam hal ini orang tua (Emak-Bapak, Ayah-Bunda) adalah tujuan utama di samping saudara-saudara, Pak Lik-Bu Lik, Pak De-Bu De (sebuah hadits menyatakan bahwa Bu De-Bu Lik disetarakan dengan kedudukan ibu), Ninik-Mamak dll. Agama mengelompokkan orang tua menjadi 3 macam; 1) Orang tua yang melahirkan kita, 2) Orang tua yang kita nikahi anaknya, 3) Orang “tua” yang kita serap ilmunya (guru). Pengelompokan ini telah sesuai dengan urutan yang mesti diutamakan.

Pas mudik tempo hari, pikiran saya terfokus pada kelompok yang ke-3 ini, yakni guru. Pagi itu, keponakan saya dijemput temannya untuk bersilaturrahmi kepada guru-gurunya. Saya berbesar hati, ternyata ‘tradisi-adab’ sowan kepada guru terus lestari dari dulu hingga kini. Ketika datang sore hari, hati saya yang membesar tiba-tiba menciut lagi begitu tahu bahwa keponakan saya itu – dalam panilaian saya – berangkat sowan kepada guru-gurunya bukan atas kesadaran hati. Ada selembar daftar nama dan alamat guru serta kolom yang mesti ditandatangani oleh guru yang disowani. Masya’allah, ternyata – katanya – itu tugas wajib dari sekolah yang mesti diselesaikan. Berarti, seandainya tidak ada tugas itu, pastinya keponakan saya itu tidak pergi sowan kepada gurunya.

Sebuah nilai luhur mulai luntur, batin saya. Dan, rupanya, ada upaya serius dari para guru untuk memulihkan nilai-nilai luhur itu pada kondisi semula dengan tugas wajib sowan dengan bukti tanda tangan. Salah satu faktor yang saya cermati adalah kurang penyadaran tentang keberkahan ilmu. Bahwa orang tua (Bapak-Ibu) kita muliakan karena jasanya yang tak ternilai bagi kita. Bahwa mertua kita hormati karena jasanya telah memberikan buah hati kesayangannya buat kita. Dan, bahwa, guru kita junjung tinggi karena telah mebuka dan menyingkapkan tabir kegelapan hati kita. Dalam banyak hal, kepandaian kita menghargai sesuatu itulah yang menjadikan kita dihargai dan hidup mulia.

Laysa minna man lam yarham shaghirana walam yuwaqqir kabirana” (tidak termasuk golongan kami – yang utama – orang yang tidak mengasihi yang muda dan tidak memuliakan yang tua). Banyak terkisah di sekitar kita, orang sukses dan hidup mulia pastilah memiliki keutamaan akhlak dan tatakrama, di sana tersimpan keberkahan. Sebagaimana banyak kita jumpai orang dengan bekal kepandaian yang tinggi tetapi hidupnya kering-gersang walau bergelimang materi, di situ tiada keberkahan. Dan tak jarang kita jumpai, ketika murid menjadi guru maka hilang tatakramanya kepada guru yang – dulunya- mendidiknya, maka di sana dekat dengan bahaya: hilangnya keberkahan ilmu.

Terhadap orang tua dengan ketiga macamnya, maka hierarki silaturrahmi berlaku sesuai pepatah Jawa, siwur marani gentong ora gentong marani siwur. Sedang untuk tataran umum maka seyogyanya yang muda mendatangi yang lebih tua, masyarakat kepada pemimpin, santri kepada kiai, pegawai kepada atasan, buruh kepada majikan, yang berada kepada yang kurang berada dst. Sekiranya “atasan” turun ke bawah menjumpai dan mengakrabi “bawahan” dalam silaturrahmi, maka baginya tersedia nilai plus: “turun” dalam keagungan kepribadian.

Tatakrama anjangsana jika diqiyaskan pada tatakrama salam (HR. Bukhari-Muslim), yang berkendara bersalam (memberi hormat) kepada pejalan kaki, pejalan kaki bersalam kepada yang duduk, kelompok yang banyak pada kelompok yang lebih sedikit dan yang muda kepada yang lebih tua, maka yang lebih ‘mampu’ atau ‘terhormat’ dianjurkan memberikan keteladanan.

Tapi bila merujuk kepada hadits laysa mina di atas, substansi sebenarnya adalah siapapun yang mendahului itu yang lebih baik. Dan Qur’an mengajarkan agar membalas penghormatan dengan cara yang lebih baik atau sepadan. Sayangnya kebanyakan orang besar (seperti tokoh-tokoh masyarakat atau kiai yang lebih faham ajaran agama) kebanyakan lebih suka tampil sebagai sosok seorang raja, suka dan senang disowani tapi enggan memberi keteladanan mendatangi. Padahal, kalaupun memang tidak sempat, silaturahmi dapat saja dengan cara – minimal – mengirim salam (sms). Nabi Muhammad semulia itu pun mendatangi shabatnya.

Konon kata shahibul hikayat, Fir’aun diberi panjang umur (+ 350 th) dan sehat (tidak pernah sakit) karena suka bersilaturahmi. Tapi keterangan itu – menurut saya – perlu ditinjau kesahihannya, sebab usia manusia di jaman itu memang lumayan lebih panjang dari rata-rata usia umat Muhammad saw.

FILOSOFI KUPAT-LEPET

Hari raya ketupat, disebut juga lebaran ketupat, merupakan hari raya ‘pamungkas’ dari serangkaian Idul Fitri. Hari raya ketupat inilah yang – sesungguhnya – disebut lebaran (dari bahasa Jawa “lebar”, artinya rampung, tuntas, selesai dan terbebas). Orang Jawa menyebutnya “riyoyo kupat”. Riyoyo kupat, sejatinya merupakan penutupan dari ibadah puasa 6 hari Syawal yang berakhir tanggal 7 jika dilakukan langsung-tunai dari tanggal 2 Syawal, maka tanggal 8 adalah lebaran ketupat. Menilik asal muasal dari tradisi Jawa asli ini, maka sesungguhnya riyoyo kupat adalah hari raya bagi orang yang melakukan puasa sunnah 6 hari Syawal. Namun dalam prakteknya tidak demikian, selamatan dengan menu utama ketupat disajikan tidak melulu pada tanggal 8 Syawal dan tidak hanya dirayakan oleh yang berpuasa sunnah saja. Terjadi pergeseran nilai dan tujuan dari awal ‘tasyri’nya’. Tidak masalah dan tidak ada salahnya kapanpun orang berselamatan dengan ketupat atau bukan, sedekah yang ikhlas dan baik tetap bernilai pahala.

Tradisi riyoyo kupat, sebagaimana namanya, adalah murni tradisi Jawa. Tidak akan ditemukan di belahan benua lain manapun. Demikian pula referensi tentang riyoyo kupat ini sulit dicari di buku-buku. Filosofi kupat-lepet bersumber dari kalangan Islam Jawa kuno yang dituturkan secara turun temurun dari kearifan para pinisepuh jaman dulu dalam menanamkan nilai-nilai luhur ke-Islam-an dengan paduan kehalusan budaya jawa dalam bermetafora.

Lebaran, sebagaimana disebut di awal tulisan, berasal dari kata lebar dengan arti sudah rampung dari puasa 6 hari Syawal dan sudah selesai bersilaturrahmi dengan sanak kerabat, handai tolan dll. Sebagai ungkapan syukur dan harapan terkabulnya segala amal ibadah, maka diadakan selamatan dengan menu utama kupat dan lepet. Kupat adalah beras yang ditanak dalam bungkus anyaman daun kelapa muda yang di sebut janur. Dipilihnya janur sebagai bungkus semata-mata sebagi tafa’ul (harapan terjadinya sesuatu dengan penyimbolan tertentu) agar diberi penerangan cahaya. Janur diarabkan menjadi ja’a nur (telah datang cahaya).

Kupat merupakan akronim Jawa dari ngaku lepat (mengakui kekhilafan, kesalahan atau kekeliruan). Sebagaimana kita maklumi bersama di pengajian-pengajian, mengakui kesalahan merupakan dasar pokok dari taubat disamping meminta maaf dan menyesali perbuatan. Dengan kupat, diharapkan akan enteng dan mudah bagi kita untuk menyerap pelajaran mengakui kesalahan kita tanpa diribetkan oleh status ke-AKU-an yang merupakan pangkal dari egoisme-kesombongan dan keangkuhan.

Ketupat kemudian dipasangkan dengan lepet sebagai pelengkap. Lepet diartikan lekat (lengket), dimaksudkan sebagai penyadaran bahwa manusia memang tidak terlepas dari kesalahan. “Kullu bany Adam khattho’un wa khoyr al-khottho’in al-tawwabun” (semua anak turun Adam [berpotensi] melakukakan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertobat). Lepet dari bahan beras ketan dibungkus janur juga, dicampur dengan sedikit biji kacang panjang kering. Biji kacang yang hitam begitu mencolok dalam lepet dari beras ketan yang putih. Demikian dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung ‘meneropong’ kesalahan orang lain. Dan, umumnya, kesalahan sulit dimaklumi diantara sekian banyak kebenaran dan kebaikan. Dengan lepet ini diharapkan tumbuh sifat arif, dengan memaklumi kesalahan yang terjadi di tengah-tengah pergaulan bermasyarakat. Fitrah manusia itu cenderung pada yang baik dan yang benar. Hanya saja, entah karena apa, bisa saja terjadi kesalahan dan itu menjadi sebuah catatan khusus tak terlupakan tanpa mempertimbangkan sisi-sisi kebaikan dan kebenaran yang – sebenarnya – jauh lebih dominan ketimbang kesalahan yang diperbuat seseorang.

Dengan saling menyadari kesalahan, saling memaklumi dan saling memaafkan, langkah-langkah ke depan menjadi lebih terarah oleh penerangan cahaya dan hidup menjadi damai dalam kebersamaan. Kebersamaan inilah yang menjadi inti dari disyariatkannya shalat berjamaah, haji dan jamaah-jamaah lainnya. Karena hanya dengan kebersamaan, cita-cita besar dapat diwujudkan. Dengan semangat kebersamaan, misalnya, kita berharap krisis finansial yang terjadi di Amerika yang imbasnya – menurut para pakar – diprediksikan baru akan terasa di Indonesia pada 2009, akan dapat teratasi dengan baik, betapapun arogansi Amerika terhadap negara-negara muslim dengan politik standar gandanya di kancah percaturan dunia, pribadi-pribadi mulia tidak selayaknya bersorak di atas penderitaan orang maupun bangsa lain. Duka nestapa, malapetaka, bencana dan musibah-musibah lainnya menjadi ringan bila ditanggung bersama-sama.[]