Ngintip Pornografi, Yuk..


Ngintip yuk, rumput tetangga pasti lebih ijo..

Ngintip Pornografi, Yuk..
Oleh Shodiqiel Hafily
30 Oktober 2008

Setelah melalui proses panjang, RUU Pornografi akan disahkan hari ini (30/10). Melalui perdebatan alot dalam rapat konsultasi pengganti badan musyawarah (bamus) kemarin (29/10) diputuskan pengesahan RUU tersebut akan dilakukan tanpa persetujuan Fraksi PDIP dan Fraksi Partai Damai Sejahtera.

”Sudah diputuskan bahwa besok kami sahkan,” ujar Ketua Pansus RUU Pornografi Balkan Kaplale setelah rapat konsultasi. Dia mengklaim, semua fraksi telah sepakat dengan agenda tersebut dan sudah tidak ada lagi yang mempermasalahkan substansi pasal dalam RUU. (JP Online 30 Okt. 2008)

Mungkin hari ini di kemudian hari akan dijadikan “Hari Anti Pornografi Nasional”, menambah sejumlah hari-hari besar nasional lainnya, menyusul hari Blogger Nasional, 27 Oktober kemarin.

Benar kata orang bijak, “Berpegang teguh pada norma agama ibarat memegang bara api. Dipegang panas, dilepas padam.” Solusinya adalah pakai jampel (pelindung tangan atau semacamnya).

Secara fikih, ngintip aurat secara tidak langsung tidak dihukumi haram. Contoh yang tertulis di kitab klasik adalah melalui air atau cermin. Kiasnya adalah aurat di foto, video, lukisan dsc. Namun demikian, fikih menerapkan satu ketentuan: selagi aman dari fitnah (rangsangan, ketergodaan atau pikiran-pikiran ngeres dan semacamnya). Jika terjadi demikian, maka dari mubah meningkat pada status hukum makruh bahkan dapat menjadi haram tergantung efek negatif yang ditimbulkan.

Status hukum itu ditetapkan terkait dengan tindakan preventif (saddan li adz-dzari’at). Seperti aurat bagi lelaki, aurat kubra-nya sebenarnya adalah qubul-dubur. Akan tetapi batasan wajib menutupinya ditetapkan antara pusar dan lutut.

PRASANGKA BAIK

Saya beranggapan bahwa iktikad baik mesti direspons dengan baik pula. Dalam hal ini, UU Anti Pornografi dimaksudkan untuk memperbaiki moralitas bangsa terutama generasi muda. Soal celah-celah yang dinilai kurang sempurna dapat dibenahi dan disempurnakan sambil jalan.

Ada pula sebagian kalangan yang bersu’udhon, bahwa penyusunan UU Pornografi itu tak lebih untuk bagi-bagi dana alias ceperan bagi komisi yang membidanginya. Jadi jangan harap akan ada hasil.

Saya tidak sejalan dengan su’udhon dan pesimisme seperti itu. Andai pun benar demikian, tetap beda persoalan. Pada saatnya nanti pastilah tiba giliran pemimpin-pemimpin dari generasi bangsa ini yang benar-benar komit terhadap moralitas bangsa, tidak sekedar DUIT (duduk..,u..,i..,tidur).

Bagi Anda yang – mungkin – sangat sulit melihat perbedaan antara seni dan pornografi atau – bahkan mungkin  – penggemar gambar-gambar kurang seronok, silakan lihat contoh paling sopan yang saya sediakan di galeri images.[]