Poros Masjid Haram-Aqsha


Agresi IsraelPoros Masjid Haram-Aqsha
Oleh Shodiqiel Hafily
13 Muharram 1430 H

Sebuah televisi suasta, dua hari lalu, menyajikan dialog khusus membahas serangan brutal Israel di jalur Gaza. Yang saya ingat ada Abdul Moqsith Ghazali (dosen Paramadina), Farid Wajdi (ketua DPP HTI), M. Guntur Romli (pengamat politik Timur Tengah), Tifatul Sembiring (Presiden PKS) dan yang lain saya lupa.
Beberapa point menarik (bagi saya) sempat saya catat al:

  1. Serangan Israel di balik dalih balasan terhadap roket Hamas (SBY menilai serangan yang tidak proporsional) semata-mata untuk membuka mata dunia bahwa warga Palestina yang sekian lama coba mematuhi gencatana senjata telah dalam kondisi kembang-kempis nyaris sekarat akibat blokade Israel yang mencekik leher dengan mematikan saluran air, listrik dan kebutuhan vital lainnya. Jadi, selama itu Israel sesungguhnya tetap menyerang tapi dengan ‘tangan kosong’ untuk menghabisi warga Palestina dengan pelan tapi pasti!
  2. Palestina ‘terpenjara’ dalam dua pasungan besar dan kecil. Pasungan besarnya adalah apapun upaya pembelaan masyarakat internasional melalui DK PBB selalu terganjal oleh veto 2 negara hawkish (pecandu perang), Amerika dan Inggris. Dan pasungan kecilnya adalah ketidakberdayaan negara-negara Arab untuk membela Palestina secara terang-terangan akibat ketergantungan kepada AS hingga ‘mengggadaikan’ sebagian wilayahnya untuk pangkalan militer negara yang mencabik-cabik ‘saudaranya’ sendiri. Parahnya lagi, Liga Arab terkesan kurang greget untuk menemukan titik temu agar bisa bersatu. Padahal mereka tahu pasti akar persoalannya. Delegasi Indonesia pernah mempertanyakan mengapa 7 negara Arab tidak mampu mengalahkan 1 ‘negara’ yang dicangkokkan Inggris-Amerika. Jawab mereka, “Itulah sebabnya, karena kami bertujuh, bukan bersatu.”
  3. Pro-kontra pengiriman relawan untuk menghentikan aksi barbarian Israel. Yang kontra dihantui rasa pesimis dan kekhawatiran jangan-jangan justru menjadi tumbal konyol atau beban yang justru merepotkan banyak pihak karena kurangnya kesiapan teknis dsc. Saya setuju yang pro dengan relawan yang berkesiapan penuh maupun kurang kemampuan teknis, aksi nyata akan lebih menarik banyak dukungan secara luas, walau idealnya haruslah berbekal keterampilan taktis-teknis yang cukup seperti dilakukan relawan tanah air di Banten, Sukabumi dan sejumlah daerah lainnnya.

Dialog yang saya tonton itu memang tidak menghasilkan sebuah resolusi, solusi atau semacamnya. Namun, setidaknya, membuka wawasan dan sebagai wujud aksi solidaritas minimal dengan ingkar dan kecaman terhadap tragedi kemanusiaan yang dilakukan bangsa yang mengklaim sebagai umat pilihan dan terbaik namun nyatanya sama sekali tidak mencerminkan keluhuran pribudi (prilaku dan budi) kemanusiaan.

AGRESI AJI MUMPUNG

Saya bukan ahli atau pengamat politik. Jadi, sederhana saja, saya membaca aksi Israel itu sebagai agresi mumpung masih ada kesempatan dukungan di ketiak Bush yang masa jabatannya segera berakhir. Kesempatan tidak tentu ada di era Obama yang janji-janjinya di masa-masa kampanye seolah akan memberikan angin segar bagi bangsa Palestina, walau – kini – sebagian orang mulai meragukan sikap dan janji Obama itu. Hal itu karena komentar Obama (terkait agresi Israel) yang – terkesan – ‘lepas tangan’ atas dasar masih kebijakan penuh politik Bush.

Memang, sebelum dilantik secara resmi sebagai presiden, tidak ada policy politik apapun yang bisa digulirkan Obama. Tapi kita tahu betapa besar magnet dukungan buat Obama yang terbaca pada saat pidato kemenangannya sebagai presiden terpilih. Artinya, suara Obama begitu nyaring terdengar sekiranya mau menyuarakan pembelaan atas korban-korban warga sipil di Palestina. Saya kira, itu sedikit cela (celah) yang patut disayangkan.

POROS MASJID HARAM DAN AQSHA

Polling Market Watch di Israel, Juli 2007, menyimpulkan bahwa 74% rakyat Israel setuju berdirinya Palestina dan Israel secara berdampingan sebagai Negara yang sama-sama berdaulat. Hanya 14% yang tetap dalam sikap keras penolakannya. Sementara polling Jerusalem Media & Communication Center, Maret 2007, menyatakan bahwa 46,7% rakyat Palestina setuju berdirinya 2 negara yang sama-sama berdaulat dan 26,5% menghendaki Israel – yang memang cangkokan Inggris dan AS – dilenyapkan.

Persoalan utamanya pada ibu kotanya yang – di sana – berdiri simbol sejarah: Masjid Aqsha. Kaum muslimin tidak mungkin menyerahkan begitu saja masjid agung yang penuh nilai historis sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Isra’: 1 (Qur’an hanya menyebut 2  masjid: Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Aqsha). Sementara itu, Israel dengan kitab Talmudnya menganggap Palestina dengan Jerusalem sebagai bumi yang dijanjikan ‘hanya’ bagi bangsa Yahudi, bahkan 70 terowongan ditengarai telah digali untuk menguasai Masjid Aqsha. (Baca juga tulisan terkait di sini, di sini dan di manapun sebagai perbandingan)

Aneh memang jika eksistensi Palestina tidak diakui (sebagai Negara berdaulat) mengingat segala perangkat untuk disebut Negara telah terpenuhi dan mesti berkali-kali diproklamirkan (1948, 1988 dan 1993[?]). Padahal paspor Palestina berlaku resmi, terdiri dari 2 wilayah: Jalur Gaza dan Tepi Barat, bahkan di dunia internasional memiliki kedutaan di sejumlah negara dan perwakilan di organisasi-organisasi tingkat dunia seperti OKI, PBB dll.

AKHIR KATA..

Seorang sahabat menyebar sms permohonan dukungan dari Hasan Nasrallah untuk membacakan QS. Al-Fath: 26-27 dan QS. Yunus: 85, 86 dan 88 sebagai dukungan doa (di saat kebanyakan orang kurang meyakini kekuatan doa) bagi rakyat Palestina.

“Setan adalah ujian bagi kebaikan, terus ada hingga akhir jaman..” Begitulah sebagian dari sms balasan saya sekedar ungkapan kehabisan kata-kata atas tindakan membabi buta Israel yang menutup mata dan telinga dari seruan dan kecaman dunia. Nabi telah memberikan ilustrasi dengan kambing yang terpisah dari kelompok (jamaah) akan dicabik-cabik oleh srigala. Selagi dunia Arab tidak bersatu dan solidaritas umat muslim tidak kompak tergalang, maka srigala dan setan itu akan terus merajalela.

Sepanjang pengamatan saya di negeri yang 90% Islam ini, belum begitu banyak dukungan terhadap warga Palestina yang bersimbah darah. Pengiriman relawan disambut pro-kontra, tak banyak pesantren bereaksi, khutbah jum’atan tak banyak yang menggugah ukhuwwah dan ghairah islamiyah, shalat ghaib atau qunut nazilah sebagai pembelaan minimal tak banyak kita saksikan. Bahkan dialog yang saya tonton di tv, ujung-ujungnya berakhir dengan bersitegang diantara narasumber sendiri, soal khilafah! Semestinya, musibah dapat menggalang rasa kebersamaan dan persatuan (dalam aksi boikot produk AS-Inggris-Israel misalnya). Ataukah musibah-tragedi kemanusiaan di Palestina kurang dahsyat hingga kurang menggugah jiwa?

Saya pribadi hanya mampu menulis ini sebagai bentuk kecaman terhadap agresi Israel, mendukung rakyat Palestina serta para relawan dengan bacaan sejumlah ayat di atas dan doa-qunut nazilah. Semoga kedamaian dunia dan Palestina segera tercipta. Amin..[]

agresi-israel17Israel menutup mata-telinga dari protes yang mengular di pelbagai belahan dunia.

agresi-israel16Israel membantai mayoritas warga sipil dan bocah tak berdosa.

agresi-israel15Israel terus membabi buta, 17/01 telah membantai hampir 1000 orang!

agresi-israel14PBB jatuh wibawa dan tak berdaya, baca Israel vs PBB

Foto-foto lainnya lihat di The World is War

—————-

  1. eBooks Al-Banna
  2. Modul Internet
  3. Modul Excell
  4. Modul MS-Word
  5. Modul Power Point
  6. Modul Windows98
  7. PKMI 2008
  8. Quiz Galang
  9. Tetralogi Laskar Pelangi
  10. Tetralogi Sang Pemimpi
  11. Tabel Istikharah Qur’ani