Jiwa Besar Sang Pemimpin


Jiwa Besar Sang Pemimpin
Oleh Shodiqiel Hafily
Malam Ahad, 11 R. Awal 1430 H

Sang-PengemisSuatu hari, Abu Bakar bertanya kepada putrinya, Siti A’isyah, “Menurutku, sunnah-sunnah Rasulullah telah aku teladani dalam kehidupan sehari-hariku, menurutmu bagaimana?” A’isyah menjawa, “Kecuali satu yang belum Abah lakukan, Rasulullah memberi makan seorang pengemis Yahudi di pasar. Itu beliau lakukan tiap pagi hingga menjelang wafatnya.”

Kemudian Abu Bakar mencari tahu perihal si Yahudi. Kata orang-orang, si pengemis buta itu selalu mangkal di pasar Madinah dan selalu ngoceh kepada orang-orang yang berlalu-lalang agar jangan sampai mendekati Muhammad, karena – katanya – Muhammad itu tukang sihir, bila mendekatinya maka akan dipengaruhinya.

Keesokan harinya, Abu Bakar menggantikan Nabi menjalankan tugasnya, membawakan makanan dan menyuapinya. Namun suapan pertama itu membuat si Yahudi menghardik, “Siapa kau? Kau bukan orang yang biasanya!”

“Bagaimana kau tahu kalau aku bukan orang yang biasa menyuapimu?” Tanya Abu Bakar penasaran

“Orang yang biasanya suapannya lembut. Tidak seperti kau, makanan yang masiha kasar kau suapkan di mulutku yang tua ini.” Jawabnya ketus.

“Kau benar, aku memang bukan dia yang biasanya.” Kata Abu Bakar lirih

“Lalu, kau siapa dan siapa pula orang yang biasa menyuapiku itu? Tiap kali kutanya dia tidak mengaku.” Si Yahudi balik penasaran.

“Aku Abu Bakar, sahabat Rasulullah yang biasa menyuapimu. Aku hanya mencoba meneladani perilakunya dan.. ternyata seperti kau tahu, aku tidak bisa menyuapimu layaknya Muhammad Rasulullah.” Jelas Abu Bakar.

Mendengar penuturan itu, si Yahudi terkejut, bingung dan tak tahu mesti berbuat apa. Selang beberapa lama, barulah dia dapatkan kesadarannya, dan – atas kehendaknya sendiri – dia bersyahadat di bawah bimbingan Abu Bakar.

*** * ***

Kasih yang tulus merasuk sukma yang paling halus. Memang tidak serta merta dapat mengubah karakteristik dan perilaku buruk orang lain. Seberapapun kebencian bersarang dalam diri seseorang dan seberapapun buruk penggambaran para kartunis dan pencaci Nabi, namun selagi masih tersisa fitrah suci dalam jiwa seseorang di kemudian hari tetap terbuka kemungkinan berubah. Sebab hidayah itu terus berlangsung secara konstan dan dinamis.

Bukankah setiap pemeluk agama senantiasa memohon bimbingan dan penerangan dari “juruselamat” masing-masing? Sesungguhnya, pada saat seseorang membenci dan mencaci maki orang lain, sebenarnya obor hidayah (God Spot-nya) sedang redup. Pada ketika hidayah kembali menyinari hatinya yang gelap, maka saat itulah dia tersadar bahwa ajaran suci yang dianut dan diyakininya sama sekali melarang perbuatan buruk yang dilakukannya.

Nabi Muhammad yang agung mengibaratkan dirinya hanya sebagai sebongkah batu bata di sudut bangunan yang bolong. Lalu, Beliau mengisinya dengan risalah Islam sebagai penyempurna dari sendi-sendi dan tatanan bangunan yang didirikan para nabi terdahulu, mulai dari Adam hingga Isa as. Oleh sebab itu pula, Nabi Muhammad melarang melebih-lebihkan dirinya di atas para nabi yang lain.

LARANGAN MENGGAMBAR NABI

Ditilik dari sudut pandang fikih, larangan menggambar sosok Nabi Muhammad saw sebenarnya sama dan setara dengan pelanggaran (maksiat) yang lain. Rasa ghairah dan fanatisme berlebihlah yang menyebakan bahkan orang yang tidak sembahyang dan pezina dsc pun marah bila nabinya dihinakan orang. Padahal dengan bermaksiat (korupsi, melacur, menghina umat lain dsb) pada hakikatnya seseorang telah menodai sendi-sendi dan norma-ajaran agama dari nabinya itu sendiri.

Ketika saya browsing mencari gambar untuk ilustrasi tulisan ini, saya dapati sejumlah gambar “muhammad”. Saya teringat masa kecil, begitu mudah mengadu teman agar berantem. Cukup dengan meletakkan 2 helai daun bertulis nama orang tua masing-masing, jika berani menginjaknya maka duel tak terelakkan. Setelah dewasa begini kita merasa geli, betapa hal itu mirip dengan perilaku orang gila. Kita bisa tertawa lebar menyaksikan betapa kurang waras orang menggambar orang tua kita misalnya lalu dia bilang, “Ini bapak-ibumu” sambil meludahinya.

Dipandang dari sudut akidah, penggambaran atau pemujaan pada benda-benda tertentu itu sangat dekat pada syirik (menyekutukan, menduakan). Karena itu Nabi saw melarang penyimbolan dirinya agar tidak diperlakukan seperti orang-orang mengagungkan Bintang David atau Kayu Salib dengan mengecupnya segala. Terpaku pada simbol-simbol tapi teramat jauh dari esensi dan pengamalan.

Orang kasmaran kerap kali kehilangan akal sadarnya dengan mengelus-elus atau menciumi foto kekasihnya. Dan, kita tahu, betapa foto jelas bukan diri sang kekasih. Dari kejauhan, mungkin kekasih yang dirindukannya menertawainya. Atau boleh jadi marah, “Mengapa kau tidak mendatangiku, mencium dan memelukku? Kau seperti orang kurang waras!”

Sejatinya, bila seseorang terpaku pada simbol-simbol, berarti belum menemukan jati diri yang sebenarnya. Tak jauh beda dengan orang yang jauh atau bahkan kehilangan kekasihnya hingga memuja lukisannya sedemikian rupa bahkan tak boleh tersentuh siapapun!

MEMINTAL KEAGUNGAN JIWA

Kata orang, “Orang besar itu tampak keagungannya dari cara dia memperlakukan yang kecil.” Orang kecil boleh berarti orang (pihak) yang lemah, orang yang  kerdil jiwanya, orang yang bodoh dan orang yang rendah prilaku dan kepribadiannya.

Berbagi kasih dengan yang setara dan berbaik-baik dengan orang yang berbuat baik kepada kita adalah hal biasa dari sifat manusia. Berbaik-baik dengan orang yang menjahati kita, itu baru pribadi mulia. Sebagaimana, mungkin, Nabi saw mengambil sisi positif dari kelakuan si Yahudi buta (pada kisah di atas) sebagai promosi gratis.[]

أحسن إلى المسيئ بإحسانه، والمسيئ ستكفيه إسآءته

“Berbaik-baiklah kepada orang yang bersikap buruk padamu, sebab dia dia akan mendulang keburukannya sendiri” (Al-Hikam)

Iklan