Belajar Jadi Penulis


Belajar Jadi Penulis
Oleh Shodiqiel Hafily
26 Rabi’ul Awal 1430

Dzal-Zay-Alif-Alif-Ro' (200117700)19 Maret 2007 ke Maret 2009 saat ini, berarti setahun lebih 3 hari berlalu saya belajar membuat blog tanpa belajar menulis, karena – bagi saya – menulis adalah hobi. Bahkan saking hobinya, seringkali mengalami “apes” sebagaimana dialami Abu Nuwas (konon kata sejarah, beliau terbunuh akibat tulisannya sendiri yang ‘kebetulan’ tidak bisa diterima oleh orang lain). Kebanyakan tulisan saya hanya kesimpulan-kesimpulan hasil kontemplasi dari koleksi bacaan-bacaan saya. Saya bukan pengarang.

Belakangan, saya lebih bersemangat lagi untuk menulis setelah membaca sebuah artikel manfaat menulis bagi kesehatan. Disebutkan sejumlah tokoh terkenal seperti Imam Syafi’i dll, yang dengan aktifitas menulisnya mampu bertahan lama dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Bahkan ada yang kemudian berangsur sembuh dari penyakit mati separo badan seperti Al-Bushiry setelah tekun menulis madah Nabi saw, qasidah Burdah. Saya sendiri tidak mengidap penyakit berat, ‘hanya’ ada gejala typhus. Tapi ada satu penyakit yang benar-benar tidak ada obatnya dan tidak bisa dilawan dengan penawar apapun, penyakit tua. Usia saya sudah kepala 4!

Kata guru saya, usia 40 organ tubuh sudah mulai rewelan. Nah, dengan rajin menulis, saya tidak ingin meladeni organ tubuh yang rewel dan mesti memanfaatkan ‘sisa’ umur seproduktif-produktifnya untuk bikin manfaat, apapun itu.

Setahun belajar ngeblog hampir tiap pekan ke warnet. Sering ambil paket malam 8 jam, dari pukul 10 malam hingga 6 pagi. Pulang-pulang, sampai rumah pasang muka lebih ramah dari biasanya, khawatir istri ngambek ditinggal semalaman. Hingga, akhirnya, sekolah pasang internet sendiri dan saya punya akses bebas. Kapanpun bisa belajar internet dan ngeblog. Tapi itu tidak berarti jadi solusi tidak ninggalin keluarga semalaman. Malah tambah sering semalaman di sekolah, keasyikan internetan, gratis lagi. Sampai-sampai, teman-teman ada yang bilang bahwa sekolah adalah rumah kedua saya.

Sebenarnya apa yang saya pelajari tidak banyak. Pokoknya ada dua, belajar seluk beluk WordPress dan Blogger/BlogSpot*. Tapi, dasar internet perpustakaan global, sering nggladrah baca artikel Blog Top of The Day-nya WordPress. Padahal, seringkali hal itu hanya buang-buang waktu. Hanya berisi posting gambar atau eksploitasi video bugil anak sekolah. Dan, diakui seorang teman blogger bahwa, tema ‘begituan’ memang jadi salah satu cara mendongkrak page rank blog. Ah, siwalankerto! (Penghalusan dari umpatan sialan, karena saya dijanji Ustadz tidak boleh sembarangan berkata-kata, apalagi kata-kata kotor).

Kadang juga nyasar pengen coba buat akun Facebook, Hi5, coba slide.com dan lain-lain, bahkan baru gabung di Muxlim.com (jejaring baru pertemanan dunia maya). Dan tak jarang tergoda chatting dengan cewek cantik yang belakangan baru diketahui ternyata fotonya palsu alias rekayasa. Dan yang paling siwalankerto adalah mengetahui teman yang pasang foto cewek cuakep, padahal dianya cowok. Ternyata, itupun trik untuk menarik minat pengunjung agar tergoda mampir di blognya. Ada-ada saja!

ANTARA GENGSI DAN ISI

Belakangan, saya suka kepincut pada css/template/themes blog. Jadilah saya kolektor dari template gratis. Blog yang sudah tertata rapi harus ditata ulang widgetnya. Dan itu pekerjaan tersendiri yang cukup menyita waktu. Bahkan kalau ngliat template bagus, kadang jadi eman kalau tidak dipakai. Akhirnya bikin blog lagi, bikin lagi, lagi dan lagi dan bertambah pula pekerjaan.

Kadang sempat terfikir manfaat mempelajari struktur/kode html sebuah template/css tidak sebanding dengan mencurahkan pikiran untuk menuangkan ide dalam sebuah posting. Kata orang, masyghul bidz-dzikr ‘an al-madzkur (sibuk dengan tampilan luar lalai memperhatikan isi).

Lalu, sudah setahun ngeblog, sudah berapa menangguk dolar dari Adsense, link afiliasi atau lainnya? Tidak banyak, sebab Adsense tidak mendukung bahasa Indonesia. Baru pasang link afiliasi sekitar 2 bulanan dan – kayaknya – baru dapet 104 dolar. Saya tidak merasa rugi karena saya belajar ngeblog bukan untuk mencari untung. Sekedar nuruti keinginan dan sharing saja. Setidaknya, ketika sekolah bikin web, tidak perlu susah-susah lagi cari desainer web. Cukup saya saja dengan css gratis. Dari pada susah-susah bikin desain web mending buat memperkaya entrinya. Bukankah pengantin di pelaminan dengan segala kemewahan pakaiannya pada malam madunya diminta telanjang? Lalu buat apa desain busana bernilai puluhan juta diguyurkan kalau pada ‘saatnya’ harus telanjang? Ya demi gengsi, Bro..! Jawab teman sebelah, spontan. Pejabat rajin korupsi, gadis panggilan (miss call, istilah koplonya) kebanyakan juga lebih karena gengsi, glamoritas dan hidup mewah.

Dari katanya saja kemewahan dan hidup bermewah-mewah sudah tidak benar (me+wah [lux, menakjubkan dan memesonakan], bukan kata dasar mewah). Jadi keliru kalau ‘mewah’ dijadikan ‘kemewahan’ atau ‘termewah’. Menurut EYD, kelebihan imbuhan kayaknya! Saya memang tidak sepaham dengan Rush Limbaugh yang, menurutnya, Obama salah besar karena memajaki orang-orang kaya untuk kesejahteraan bersama. Menurut dia, kaya dan hidup mewah adalah hak asasi, jadi.. tindakan Obama adalah pengebirian! Maka demikian pula kiranya dalam Islam soal zakat. Enak saja, orang kerja keras dan sukses dengan jerih payah sendiri tahu-tahu dituntut harus bayar ‘upeti’ pada orang-orang miskin yang malas bekerja dan berusaha?!

BAGAIMANA MENGUBAH BUDAYA

Belajar ngeblog saya anggap selesai. Masuki tahun kedua belajar jadi penulis. Penulis yang baik. Mungkin tulisan ini akan menjadi tulisan terpanjang di blog karena saya tuangkan apa saja yang ada di benak kepala. Itung-itung latihan permulaan. Dan pada refleksi setahun ngeblog ini ada 2 hal penting ingin saya ungkapkan.

Pertama, saya musti berterima kasih kepada siapapun yang saya serap ilmunya dalam per-blog-kan. Utamanya kepada A. Fatih. Bukan saja karena tutorial blognya yang saya praktikkan selama setahun, lebih dari itu karena beliau guru saya di Pondok Pesantren Al-Khoirot Karangsuko – Pagelaran Malang. Memang tidak pernah mengajar langsung, namun tradisi pondok mengakui guru kepada seluruh keluarga ndalem, baik saling kenal maupun tidak. Itu lebih runcing dari definisi sahabat, yaitu orang yang pernah bertemu dan bergaul dengan Nabi serta mengimani risalahnya walau tidak saling tahu (karena tidak melihat misalnya).

Kedua, saya bersyukur jadi lebih mengerti bagaimana seseorang mengubah dunia. Itupun karena A. Fatih Syuhud. Ceritanya begini: ketika saya mulai belajar ngeblog, di sekolah, saya banyak mendongeng soal pentingnya keberadaan internet di era kini. Dalam kegiatan halaqah sekolah saya juga sering bawa contekan artikel dari internet. Hingga ada teman nyebutin saya kiai internet. Dan, tidak butuh berapa lama, sekolah tempat saya beraktifitas ‘berkenan’ pasang internet.

Sebuah kebetulan yang pas timingnya bareng sekolah harus akreditasi. Teman-teman mengajar banyak memperoleh bahan kelengkapan mengajar dari internet sekolah. Sebagian, bahkan, sudah bisa memberikan materi pengajaran, ulangan harian dan tugas buat siswa secara online (melalui email dan blog). Dengan adanya internet, tidak terlalu susah untuk meraih status TERAKREDITASI A. Hanya selang beberapa bulan kemudian, sekolah dipilih untuk mengikuti Program Peningkatan Mutu Pendidikan Kontrak Prestasi Madrasah Tsanawiyah. Berarti harus memiliki website. Dari tutorial Fatih Syuhud pula saya pilih rumahweb.com sebagai web hosting.

Seperti itulah proses bagaimana mengubah dunia. Seorang A. Fatih nun jauh di sana, tidak ada seorangpun yang mengenalnya di lingkungan saya selain saya seorang. Kemudian, seorang seperti saya itu terobsesi, terinspirasi dan tergerak mempengaruhi yang lain, mulai dari guru hingga siswa. Maka terbentuklah sebuah budaya lebih maju dalam dunia pendidikan di belahan bumi Belung Poncokusumo – Malang.

MAULIDKU, SHALL ALLAH ALAYNA

Kata emak, jelang fajar 26 Rabiul Awal saya dilahirkan. Bertepatan dengan fajar nanti. Pas setahun belajar ngeblog mulai dari tidak tahu apapun hingga mahir copy-paste ‘sesuatu’ dari blog tetangga melalui page source-nya. Kini meningkat, saya anggap saja moment kelahiran kedua, mulai belajar jadi penulis dan belajar mendesain web sekolah.

Sebagaimana saya bilang di atas, saya bukan pengarang (dalam arti karya fiksi atau penulis yang mengada-ada tanpa data/referensi). Mula-mula, saya ingin perbaiki tulisan-tulisan di blog ini dengan memperkaya link referensi sehingga menjadi lebih valid, lebih terpercaya dan lebih bermutu.

Selanjutnya, pikir nanti.. (Bersambung..)