Menuju Keluarga Sakinah


“Harusnya, mahligai rumah tangga dibangun di atas pondasi agama, bukan yang lain..”

HARUSNYA..

Cinta Yang Manusiawi

Menuju Keluarga Sakinan

“Keluarga bahagia, didasari agama”

Sang Imam, Muhammad Bin Daud Azh–Zhahiri, pendiri aliran pemikiran Zhahiriyah, sempat dijenguk kawan lamanya beberapa saat menjelang ajal. Sang Imam justru mencurahkan isi hatinya yang pilu, tersayat sembilu, kepada kawannya tentang kisah asmaranya yang tak sampai. Beliau pernah mencintai sang idaman hati, tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu hanya sekedar impian yang menerawang di kaki langit, tak pernah terwujud. Curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum kematian menjemputnya. Az Zahra, adalah salah satu judul ontologi puisinya.

Kisah tokoh gerakan Islam modern, Sayyid Qutub tak kalah menarik. Dua kali jatuh cinta, dua kali pula ia patah hati. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah beliau pergi ke Kairo untuk melanjutkan kuliah. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis kedua ini tidak termasuk cantik, kata Sayyid. Namun ada aura unik yang tersirat dari sorot matanya, katanya, menggambarkan pesona sang gadis. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil meneteskan air mata, gadis itu menceritakan sejujurnya bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir mengisi kekosongan hatinya. Pengakuan tulus dan jujur ini justru mengobarkan keangkuhan Sayyid, karena ia memimpikan seorang yang perawan baik fisik maupun psikis. Isterinya yang kedua ini hanya perawan secara fisik.

Akhirnya ia memutuskan hubungan dengannya. Sayyid tenggelam dalam penderitaan yang panjang. Setelah timbul kesadaran dalam nuraninya untuk menerima kenyataan kondisi istri secara apa adanya, malah semakin membuatnya menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya.

Beliau membukukan bait-bait puisi yang terinspirasi oleh kegagalan cintanya, “Apakah kehidupan ini memang tidak menyediakan gadis impianku? Ataukah perkawinan yang berkesan itu pada prinsipnya tidak sesuai dengan kondisiku?”

Setelah itu ia menyambut takdirnya, dipenjara oleh pemerintah yang zhalim selama 15 tahun, dan menulis tafsir“Fi Zhilal Al-Quran” dan mati di tiang gantungan seorang diri. Tanpa adanya istri yang mearatapi. Namun sejarah telah mencatat beliau sebagai seorang yang berkarakter unggul. Seorang pria sejati!

Mengimbangi Kekuatan Amarah

Pakar psikolog modern mengatakan, keberhasilan dan kegagalan berkeluarga merupakan faktor dominan dalam mewujudkan kebahagiaan dan penderitaan manusia di jagat raya. Jika di dunia ini ada surga, maka itu tak lain adalah rumah tangga yang harmonis: bayti jannati, dan jika di dunia ini ada neraka, maka itulah pernikahan yang kandas. Yang dampaknya tidak hanya pada suami-istri, tetapi anak-anak dan keluarga kedua belah pihak.

Bukankah bersanding dengan kekasih merupakan impian, cita-cita, dan harapan setiap anak Adam? Bukankah peristiwa ijab dan qabul adalah salah satu moment yang sulit terhapus dalam ingatan dalam bagian episode kehidupan manusia?

Marilah kita meningkatkan syukur (al-tahadduts bin-nikmah) dengan usia  perkawinan kita sekarang, dengan meningkatkan amal shalih terutama dengan orang yang paling dekat dengan kita, pendamping hidup.

Usman bin Affan, khalifah ketiga dan menantu Nabi saw, pernah membuat pengakuan tentang dirinya sendiri: “Saya adalah lelaki yang sangat suka kepada perempuan”. Syahwat kepada perempuan, kata Abul A’la Al Maududi dalam “Al-Hijab”, merupakan sumber vitalitas yang memberikan gairah untuk bekerja dan berkarya. Mengatur penyaluran syahwatun-nisa’ pada tempatnya memberikan efek produktifitas bagi kehidupan manusia. Dan hal demikian terjadi manakala sang pendamping berperan sebagai motivator, bukan penghambat bagi sang suami.

Syahwat kepada wanita berguna untuk mengimbangi kekuatan lain yang sangat dahsyat, yaitu kekuatan amarah (al-quwwat al-ghadhabiyyat) yang membangkitkan energi dan gairah untuk menghadapi resiko, meremehkan musuh, menghalau ketakutan kepada kematian, menikmati ketegangan jangka panjang, menunda kepuasan sesaat menuju kenikmatan permanen.

Itulah rahasia mengapa Rasulullah saw selalu membawa serta salah satu istrinya ke berbagai medan pertempuran. Umar bin Khattab, setelah mendengarkan ratap-tangis malam hari dari isteri yang berpisah dengan suaminya dan bertanya kepada putrinya Hafshah, ia membuat aturan baku yang mewajibkan setiap prajurit kembali menemui istrinya setelah masa tempur empat bulan.

Inilah ratapan shahabiyat ‘Atikah ketika beberapa malam berpisah dengan suaminya karena panggilan tugas.

“Begitu lama terasa malam ini

Merangkak hingga gelap

Kelam semua tepinya

Mana sanggup kupejamkan mata

Tanpa kekasih yang aku cumbui

Oh, Demi Allah andai saja tidak ada Dia

Dan tiada Tuhan selain hanya Dia

Niscayalah ranjang ini

Kan bergoyang semua sudutnya”

Lebih dari empat bulan, kata seorang analis militer, seorang prajurit yang berpisah dengan istrinya berubah menjadi sadis.

Jangan Sampai Membelenggu

Kecintaan kepada pasangan hidup haruslah rasional dan proporsional. Tidak sekedar menonjolkan rasa, tetapi juga rasio. Mencintai pasangan hidup hendaklah diletakkan di atas landasan agama. Cintailah istri atau suamimu di asas misi agamis. Jangan sampai kecintaan kepada keluarga menjadi ketergantungan yang membelenggu dan melumpuhkan. Saling mangasihi yang tidak dilandasi agama pada suatu ketika akan menjadi batu sandungan dakwah dan kehancuran rumah tangga!

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zuhruf [43] : 67).

Ketergantungan kepada selain Allah adalah indikasi kelemahan jiwa. Dalam Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah menulis:

مِنْ عَلاَمَاتِ الْأِعْتِمَادِ عَلىَ الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ

“Di antara indikasi bersandar kepada amalan (lahiriyah), kurangnya harapan (raja’) kepada Allah ketika tegelincir.”

Umar bin Khattab pernah menyuruh puteranya, Abdullah bin Umar, satu dari tujuh ulama besar sahabat Rasulullah saw untuk menceraikan isterinya. Pasalnya, ia over lapping dalam mencintai isterinya. Ia pernah terlambat shalat berjamaah karena menyisir rambutnya. Sekalipun ia mempertahankan istrinya yang tercinta, tetapi Umar ra – yang memang berwatak keras – menganggapnya sebagai kelemahan jiwa.

Menjelang wafatnya, ketika seorang sahabat mengusulkan kepada Umar agar mencalonkan puteranya sebagai khalifah ketiga, beliau mengemukakan beberapa alasan penolakannya, diantaranya: “Saya tidak akan pernah menyerahkan amanah ini kepada seorang laki-laki yang lemah, yang tidak berdaya menceraikan isterinya.”

Kita mesti mencintai pasangan hidup karena alasan keagamaan (faridlat syar’iyyat). Dalam salah satu hadits, Nabi saw bersabda: pilihlah calon istetrimu karena kualitas keagamaannya – mengalahkan pertimbangan kecantikan, keturunan dan kekayaan – supaya kedua tanganmu beruntung. Sebab, jika pertimbangan pilihanmu tidak berdasarkan agama, kamu kelak akan melakukan perbuatan yang hina (usahamu akan terkontaminasi oleh debu), tidak patut dilakukan oleh orang yang berakal. Agama adalah penyejuk, penyelamat dan pembangkit serta pemberi bobot-nilai kehidupan (fazhfar bidzatid-din taribat yadak).

اَلدِّيْنُ وَضْعٌ اِلَهِيٌّ سَائِقٌ لِذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ عَلىَ مَافِيْهِ لِصَلاَحِ مَعَاشِيْهِمْ وَمَعَادِيْهِمْ

Agama adalah tuntunan Ilahi Rabbi untuk segenap orang yang berakal sehat untuk menggapai kesejahteraan lahir dan batin di dunia dan di akhirat.

Agamalah yang bisa memberikan kontrol kepada pemeluknya untuk mengelola ‘fluktuasi’ (naik turun) kehidupan dengan semangat yang stabil. Sedih dan gembira, suka dan duka, gagal dan sukses, adalah peta realitas kehidupan dunia. Dinamika kehidupan dipersepsikan dan disikapi sebagai romantika. Sehingga pendamping hidup bisa menjadi teman abadi sepanjang hayat di dunia dan akhirat.

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. Al–Thur [52]: 21).

Maksudnya, anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan derajatnya sederajat dengan bapak-bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka di surga. Sekalipun kualitas amal shalih anaknya lebih rendah. Hal ini untuk menghibur si bapak atas upayanya mendidik dan menghidupi keluarga selama selama hidupnya.

“Allah membuat perumpamaan isteri Firaun bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-MU dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At Tahrim (66) : 11).

Pentingnya Keterbukaan

Istri bagi suami laksana pakaian, demikian pula sebaliknya suami. Pakaian memiliki fungsi penutup aurat (rahasia), perhiasan, pelindung tubuh dari kepanasan dan kedinginan. Saling menjaga perasaan, rahasia dan kehormtan pasangan adalah intinya. Karena seorang merupakan pakaian dari yang lain, maka hubungan keduanya tidak ada jarak. Fungsi komunikasi dan keterbukaan menjadi sangat penting.

Dari sinilah pasangan yang baru menikah perlu banyak belajar. Seiring peredaran waktu, membangun komunikasi dengan pasangan tidak selalu berjalan lancar dan harmonis. Untuk menciptakan komunikasi yang sehat, yang harus dikedepankan adalah semangat untuk memberi bukan menuntut. Keduanya dituntut saling memahami karakter masing-masing. Jika komunikasi pasangan suami-istri menemui hambatan, maka keluarga, sanak kerabat, dan handai taulan sebisa mungkin memerankan diri sebagai mediator: jembatan komunikasi-pemersatu. Jika tidak demikian, maka betapa banyak pasangan keluarga yang berusia kepala lima pun bahkan tidak berhasil mempertahankan bahtera rumah tangga yang telah susah payah dibangun sekian lama.

Berikut ini sebut saja kisah si fulan dan fulanah. Pasangan ini telah memasuki usia pernikahannya ke 50 tahun, perkawinan emas. Usia yang tidak pendek. Seharusnya matang, dewasa, dan kaya pengalaman dalam menyelami samudera kehidupan berkeluarga. Karena telah merasakan pahit dan manisnya menjalin kasih. Namun realitasnya tidak selalu menguntungkan. Demikianlah kehidupan di dunia ini, tidak hanya berwarna hitam putih. Tetapi warna warni kehidupan ini serupa dengan warna pelangi. Merah, kuning, hijau dan biru serta coklat dll.

Sebenarnya, pasangan ini, meniti karir kesuksesan hidupanya sampai sekarang dari nol. Keduanya melewati jalan yang licin, berkelok-kelok, mendaki, dan menguji berbagai teknik jurus yang jitu. Dimulai dari kehidupan pas-pasan (pas membutuhkan pas ada) sampai kepada taraf kehidupan sak wontene (semuanya serba ada).

Untuk merayakan ulang tahun pernikahan emasnya, diadakan tasyakuran mewah. Menurut persepsi umum, suami istri ini adalah pasangan yang paling bahagia. Semua kerabat, handai taulan turut hadir untuk mengucapkan selamat. Menambah bobot acara tahdduts bin nikmah (tasyakuran), tiba-tiba diselipkan mata acara yang semula cukup wajar, namun berakhir dengan suasana yang menggemparkan. Sehingga acara yang semula syahdu menjadi hiruk pikuk, mengundang perhatian semua penghuni hotel berbintang lima, tempat acara diselenggarakan. Pemicunya, ketika puncak acara santap makanan, suami menghadiakan kepada isteri potongan daging ikan tenggiri. “Ini menu istimewa, sekalian bernostalgia dengan masa-masa sulit yang kami lalui”, pikirnya. Jika mengingat masa perintisan karir, jangankan makan ikan laut, tahu tempe saja harus diiris sangat tipis. Momentum ini ingin dia manfaatkan untuk membagikan puncak kebahagiaannya dengan isteri tercinta.

Suasana hening menjadi gaduh ketika sang isteri menangis dengan sangat keras dan berteriak histeris! “Saya heran sekali dengan bapak, sudah usia 50 tahun membangun keluarga tetapi.., alangkah terkejutnya saya. Pada pesta yang penuh dengan kebahagiaan ini bapak tega menghadiahkan menu makanan yang selama ini saya benci. Kapan bapak bisa berubah dan coba mengerti perasaan saya?! Masya Allah, Pak!”

Pesta hari ulang tahun pernikahan menjadi adu mulut. Sang suami kehabisan kata-kata untuk menjelaskan. Salah seorang keluarga si istri yang turut hadir di situ membawa masuk ke ruang sebelah sambil turut marah-marah, “Aku juga tak habis pikir, serendah itu suamimu memperlakukanmu!” Provokasi telah menjerat dan membelenggu lehernya!

Miss-komunikasi, inilah inti persoalan yang menjadi kendala keberlangsungan kebahagiaan keluarga tadi, ditambah secangkir cawan anggur provokasi. Sudah usia kakek dan nenek, terbukti tidak saling memahami perasaan masing-masing. Belum menemukan metode pemecahan yang sama dalam mengantisipasi konflik. Sehingga terjadi hambatan psikis yang baru ketahuan setelah melewati usia panjang pernikahan. Semoga kita termasuk pasangan yang tidak memakan waktu yang lama dalam beradaptasi dengan keluarga kita. Karena resiko berumah tangga tidak ringan.

“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).: (QS. At Tahrim [66]: 10).

Membangun Sandaran Spiritual

Ada seorang tokoh ulama yang hingga usia tua belum juga memikirkan jodoh. Sedangkan beliau telah berumur 40 tahun. Dialah Syekh Usman An Naisaburi. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai tokoh masyarakat, datanglah seorang gadis shalihah yang cacat (bermata juling) dan miskin memberanikan diri untuk menghibahkan dirinya kepada beliau.

“Wahai Syekh, sungguh aku sangat mencintaimu. Sudikah engkau berkeluarga dengan orang yang fakir ilmu, harta dan miskin iman ini?”

Ulama yang hartawan ini tergagap, telinganya seolah tersambar petir diingatkan oleh sunnah Rasul yang selama ini seolah-olah terhapus dalam memorinya. Segera, setelah menguasai diri, beliau menjawab, Apakah sudah engkau pertimbangkan secara matang hidup denganku yang sudah lanjut usia ini? Ingat ukhti, masa depanmu masih cukup panjang! Jangan engkau pupuskan harapanmu hanya kerena berkeluarga denganku!” Tetapi sang gadis tetap pada pendiriannya.

Singkat cerita lamaran gadis tersebut diterima. Dia, terutama bapaknya sujud syukur. Setelah lima belas tahun mujahid yang harum namanya itu berdampingan dengan wanita yang cacat fisik, tetapi sukses mengarungi samudera kehidupan berkeluarga tanpa hambatan yang berarti. Ia berhasil menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, rahmah wa muthmainnah. Sekalipun banyak ketidakcocokan di tengah jalan, tetapi dengan mudah dicarikan ditemukan solusi. Tentu,  pasangan ini tidak memfokuskan perhatiannya yang bersifat lahiriah. Ia menyadari, jika tidak menyukai satu sifat pada pasangannya, maka dia palingkan penglihatan pada sisi yang lain.

Bila kita baca tarajum dan manaqib (riwayat kehidupan) tokoh-tokoh terkemuka semisal beliau, bisa dipahami bahwa kesamaan misi cinta (taqwa) yang bisa mempertahankan dan merawat bahkan menyuburkan keharmonisan rumah tangga sampai melampaui 15 tahun. Walau lebih muda, kebetulan isterinya lebih dahulu kembali kepada Allah. Ketika kebersamaan dengan isterinya yang setia itu berakhir, dia menuangkan bait-bait pusinya yang melukiskan kepedihan hatinya karena berpisah dengan belahan jiwanya terlalu dini.

“Sungguh aku menyesal dengan perpisahan ini…

Sungguh isteriku,

Sekiranya bukan karena takdir Tuhan, saya berat hati menerima kenyataan pahit ini.

Kebersamaan kita terlalu cepat berakhir, hati kita telah terbuhul…

Dengan cinta kerena Allah”

Berikutnya, sang Alim ini mengisi hari-harinya terasa hampa. Sendiri lagi. Ia selalu terkenang dengan isterinya yang cacat fisik itu tetapi hatinya laksana intan mutiara dan lentera di dada.

Ia bukukan gubahan prosanya dalam sebuah kutaib (buku kecil): Al-Usrotu Bilaa Masyakil (keluarga tanpa masalah).

الأرواح جنود مجنده ماتعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف

Begitulah ruh itu. Ia ibarat pasukan yang siap dikomando, jika ada kesamaan spirit akan mudah menyatu. Dan jika berbeda, akan mudah menimbulkan friksi.

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 34).

Keindahan isi rumah tidak terbatas dipandang dari hiasan lahiriyah, tetapi yang lebih esensial adalah hiasan spiritual. Rumah yang dalam kamus bahasa Arab “sakan” yang bermakna tempat berlabuh lahir dan batin, jasmani dan rohani seluruh penghuninya setelah penat menyeberangi lautan kehidupan yang dihadapkan gelombang yang menghantam sepanjang hari.

Landasan spiritual akan menyinari hati (yudhi’ al-qalb) semua sisi dan isi rumah, sehingga melahirkan optimisme, cerah, ceria menghadapi resiko-resiko yang ditimbulkan sebagai konsekwensi dari adanya pernikahan. Suasana sakinah, mawaddah, rahmah dan ulfah (kelembutan hati) serta muthmainnah sangat dibutuhkan oleh anak-anak sebagai buah hati perkawinan. Suasana itu adalah lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikisnya, di mana mereka membutuhkan perhatian dan waktu yang sangat lama (mulazamah).

Itulah dambaan kita semua, dengan perkenan dan ridlo Allah, mudah-mudahan. Amin.

Download video terkait: http://www.youtube.com/watch?v=tVvNo3aXPyU