SELAMAT NATAL, CHRISTIAN


Ilustrasi Nabi Isa dan Bunda Maryam

Gambar dari: masuk-islam.com

Fahira: “Bagaimana natalmu1, diberkati?”

Christ: “Insyaallah iya. Kau tidak mengucapkan selamat natal padaku?”

Fahira: “Tidak. Agama kami menghargai toleransi antarumat beragama, termasuk agamamu. Tapi urusan ini, agama saya melarangnya!”

Christ: “Kenapa? Bukankah hanya sekedar kata-kata?! Teman-teman Muslimku yg lain mengucapkannya padaku, koq.”

Fahira: “Mungkin mereka belum memahaminya, Christ. Bersediakah kau mengucapkan dua kalimat syahadat?”

Christ: “Oh, tidak! Saya tentu tidak bisa dan tidak boleh mengucapkannya. Itu akan mengubah kepercayaan saya!”

Fahira: “Kenapa? Bukankah hanya kata-kata? Ayo.., ucapkanlah!”

Christ: “Apakah kau mengerti apa itu hari natal?”

Fahira: “Bukankah sudah jelas itu hari raya agamamu?!”

Christ: “Tidak salah, Non. Seperti Idul Adha mengenangkan peristiwa pengorbanan Ismail, Idul Fitri mensyukuri kemenanganmu mampu puasa sebulan penuh dengan harapan suci seperti terlahir kembali. Betulkah pernyataanku?”

Fahira: “Kau benar, Mas.”

Christ: “Natal itu mengenangkan kelahiran Jesus yang kau sebut Isa. Klo ga salah, Nabi Muhammad ikutan puasa ketika orang-orang Yahudi berpuasa ‘ngikut ajaran Nabi Musa. Malah beliau bilang, “Kami lebih pantas/berhak (berpuasa) dari pada kalian”.

Fahira: “Yang kamu tahu, itu puasa apa?

Christ: “Puasa Asyuro”.

Fahira: “Emank ‘napa puasa pada hari itu?”

Christ: “Kau mengujiku? Oke… Katanya pada hari itu Nabi Musa diselamatkan dan Fir’aun dibinasakan…”

Fahira: “Trust, apa lagi alasannya?”

Christ: “Konon.., pada tanggal dan bulan yg sama, Nuh berlabuh dengan selamat, Jesus diangkat ke langit, Ibrahim diselamatkan dari api, dan.., masih puluhan lagi peristiwa penting lainnya. Kau tentu lebih tahu, bukan?”

Fahira: “Yach, tahu lah, tapi tidak lebih tahu. Trust, apa lagi yang kau tahu?”

Christ: “Aku tahu prinsip yang cukup penting dan mendasar dalam kitab sucimu…?”

Fahira: “Eh, apa itu?”

Christ: “Ayat kitabmu bilang bahwa kaum yang paling sengit permusuhannya dengan umat Muslim itu Yahudi! Dan.., yang paling dekat kasih sayangnya itulah kami, umat Nasrani”.2

Fahira: “Hem.., kenapa bisa begitu?”

Christ: “Masih kata kitabmu, karena diantara kami ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang tidak menyombongkan diri”.

Fahira: “Eh, kau tahu pula tentang itu?!”

Christ: “Maukah kuberi penjelasan lainnya?”

Fahira: “Boleh.”

Christ: “Menurutku, jika kau ikut upacara-ibadahku, itu menodai keyakinanmu. Sama dengan bila aku ikut acara shalat di hari rayamu, karena itu ibadah. Tidak mengapa kami ikutan duduk-duduk ‘nyimak khutbah. Itu ga menyebabkan murtad.”

Fahira: “Trust…”

Christ: “Kau pikirlah secara kritis, Neng. Masa iya sih ngucapin selamat atas kelahiran Nabi Isa bikin murtad?!”3

Fahira: “Kayaknya ngga lah. Oke, SELAMAT NATAL, Mas. Semoga kau peroleh cahaya Tuhan”.

Christ: “Amin, terima kasih. Kau mau kuundang makan-makan di rumahku?”

Fahira: “Mau lah…”

Christ: “Tidakkah kau anggap makanan kami najis?! Halalkah sembelihan kami?”4

Fahira: “Ah, jangan ngeledek ‘gitu, donk. Aku cukup faham persoalan fikih. Asal jangan kau hidangkan babi dan anjing saja, hahaha…”5

Christ: “Ohoho.., tentu tidak, Non. Bukankah itu hewan yg diharamkan dalam agamamu?! Aku ga bodoh-bodoh amat lah…”

 

Kedua orang bersahabat itu, Muslimah dan Kristen, jalan bergegas beriringan, keburu makan bareng. Semoga saja mereka tidak saling jatuh cinta. Karena.., untuk dapat menikah, mereka akan menghadapi rintangan besar![]

________

Catatan:

Dialog ilustratif di atas, di bc-bc, disangkut-pautkan dengan pemahaman Buya Hamka yang merasa lebih baik memilih menanggalkan jabatannya sebagai Ketua Umum MUI yang – konon kabarnya kala itu – terjadi benturan fatwa dengan pemerintah seputar imbauan “Perayaan Hari Besar Bersama” untuk menyuburkan kerukunan diantara umat beragama dan membangun toleransi. Menurut Buya, nilainya justru menyuburkan kemunafikan. Buya Hamka menulis:

Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan Al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima. Pada hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka, kedua belah pihak, hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi akhir zaman, penutup sekalian rasul, jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.” Hamka, Dari Hati ke Hati,  (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002)

Maksud tulisan saya di atas mengkritisi ucapan “selamat natal”, bukan mengamini sinkretisme. Agar sesiapapun tidak terlalu mudah menyatakan murtad atau menentukan hukum halal/haram sebelum meneliti perkara secara seksama. Terserah pembaca, disebarkan ke yang lain/tidak, mau/ragu ngucapin selamat natal. Saya sih ngga’/belum punya tetangga/teman beragama Kristen. Yang penting dan pasti, jaga kerukunan. Karena Rasulullah saw bilang bahwa sesiapa pun mengganggu kafir dzimmy (dilindungi negara dan tidak memusuhi), itu sama dengan mengganggu Sang Nabi. Maafkan saya bila keliru silakan koreksi. Terima kasih.[]

___________________

  1. Dialog Christian-Muslimah di atas itu telah saya ubah dan tambah sebagian, telah banyak beda dari yang tersebar di banyak socmed yang tidak ketahuan lagi sumber aslinya. Saya mendapatkannya via WA.
  2. Al-Maidah:82
  3. Tanpa meyakini Isa sebagai putra Tuhan, tetap meyakininya sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya yang mulia.
  4. Tanpa meyakini makna liturgis semisal: roti & anggur sebagai persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus.
  5. Banyak orang begitu ketat terhadap keharaman babi dan anjing (lebih sensitif terhadap hal yang menyangkut perbedaan doktrin agama), tetapi tidak sedikit yang amat longgar dalam menjalankan ajaran agamanya sendiri, seperti contoh di atas: kebebasan bergaul; bahkan – kini..,– hanya dengan ikatan pertunangan saja sepasang muda-mudi sudah dianggap kayak setengah halal sebagai suami-istri…

 

Khalwat-Cambuk 08

Hukuman Cambuk | kasus khalwat (berduaan dengan lawan jenis bukan muhrim dan bukan istri yang sah/halal)