Upaya Mengadu Kyai


Ada setting adu domba

Ilustrasi gambar ini, agaknya, berdasarkan pengamatan analis internasional🙂

Perlu kearifan dalam melihat, membaca, dan/atau menyebarluaskan konten broadcast-broadcast di media sosial. Sebab, disinyalir, ada maksud dan upaya membenturkan isme, kelompok, dan/atau tokoh tertentu. Salah satu yang tampak jelas ada upaya-upaya itu seperti video 1 ini atau judul video 2 seperti: Said Aqil Siradj Sebut Muhammadiyah & Orang Shalat Berdasarkan Qur’an dan Hadits Goblok.

Video 1 memuat ceramah KH Said Aqil Sirdj tentang merapatkan kaki dengan orang sebelahnya dalam shalat berjamaah. Kyai Said menganggapnya masalah kecil dan tradisi Arab. Di-combine dengan video ceramah Habib Rizieq yang menentang pendapat Kyai Said dengan hadis tentang perintah merapatkan dan meluruskan barisan.

TENTANG VIDEO 1

  • Kyai Said menganggap merapatkan kaki (ada yang menyatakan hingga mata kaki menempel dengan mata kaki orang di sebelahnya) sebagai masalah kecil dibanding ke-khusyu’-an dalam shalat. Merapatkan kaki “hanyalah” sunnah hay’at (style), masih di bawah level sunnah ab’adl (yang bila meninggalkannya dianjurkan mengganti dengan sujud sahwi). Kedua-duanya, baik sunnah ab’adl maupun hay’at, sekiranya ditinggalkan dengan sengaja pun tidak sampai membatalkan shalat. Sedangkan shalat tanpa ke-khusyu’-an menghilangkan nilai-manfaat dan tujuan inti shalat (substansi); hanya berguna menggugurkan kewajiban di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya, Al-Ghazaly “menyayangkan” ibadah seseorang yang terlalu ketat dalam memperhatikan aspek lahiriah, tapi keropos di bagian dalamnya. (Baca Ihya’ Jilid I Bab Klasifikasi Thaharah);
  • Merapatkan kaki dianggap sebagai tradisi Arab, menurut saya, juga kurang tepat. Sesuai teks beberapa hadis, bagi saya, itu lebih tepat disebut sebagai perbedaan interpretasi sahabat dalam semangat merespons perintah “lurus dan rapatkan barisan”; Ada yang lalu merapatkan kaki dengan teman di sebelahnya, ada pula yang saling bersentuhan pundak;
  • Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Habib Rizieq, tanggapan beliau yang (maaf) terlalu semangat, dan memang style beliau berapi-api, hingga melebar keluar dari konteksnya sampai ke ke masalah aliran kebatinan. Bahwa hadis tentang perintah merapatkan dan meluruskan barisan itu muttafaq alayh memang BENAR. Tapi penjelasan tentang implementasi selanjutnya merupakan masalah khilafiyat (perbedaan pendapat), atas dasar respons dan interpretasi sahabat – kala itu – yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, saya sependapat dengan kesimpulan kajian yang cukup komprehensip di rumahfiqih.com:

Ada dua pendapat; pertama yang menyatakan harus menempel. Ini adalah pendapat Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H). Bahkan beliau mengatakan bahwa orang yang mengatakan tidak menempel secara hakiki itu lebih jelek dari orang berfaham ta’thil (menafikan) sifat Allah.

Pendapat kedua menyatakan bahwa menempelkan mata kaki itu bukan tujuan utama dan tidak harus. Tujuan intinya adalah meluruskan shaf. Jikapun menempelkan mata kaki, hal itu dilakukan sebelum shalat, tidak terus menerus. Ini adalah pendapat Utsaimin. Dikuatkan dengan pendapat Bakr Abu Zaid.

Sampai saat ini, belum ditemukan pendapat ulama madzhab empat yang mengharuskan menempelkan mata kaki dalam shaf shalat. Merapatkan dan meluruskan shaf tentu anjuran Nabi. Tapi jika dengan menempelkan mata kaki, malah shalat tidak khusyu’ dan mengganggu teman se-shaf juga tidak baik.

  • Menurut saya, kurang santun bagi siapapun mencela gaya pakaian dan penampilan fisik. Entah itu jenggot, celana cingkrang, bercadar, atau hal lain semacamnya. Apa lagi bila mode-mode itu dimaksudkan sebagai semangat merespons sunnah Rasulullah saw, saking cintanya kepada Sang Rasul, apapun yang ada pada diri beliau ingin ditiru habis. Dengan peniruan seperti itu, kira-kira, akan marahkah Rasulullah saw? Saya kira, boleh jadi sebaliknya. Apapun yang diteladankan Rasulullah saw boleh dan baik ditiru, kecuali 1 (satu), dalam soal nikah.

Mungkin layak dibaca tulisan saya yang lain terkait tradisi Rasulullah saw: Kreasi-Inovasi Keagamaan.

TENTANG VIDEO 2

Diskusi Kyai Said pada bagian yang menyatakan bahwa orang tidak dapat mempraktekkan shalat hanya berdasarkan Qur’an dan Hadis. Kemudian dibuat judul yang, menurut saya, dimaksudkan memancing emosi kelompok tertentu. Dalam pandangan saya, tidak ada yang salah dengan perintah Rasulullah saw, “Shalatlah kalian seperti kalian melihat diriku shalat.”

Masalahnya, pada masa Nabi belum ada teknologi membuat video seperti saat kini. Karena tidak ada video praktek shalat Nabi, maka umat pada generasi sesudahnya meniru dari sahabat yang menyaksikan langsung cara shalat Nabi serta membaca penjelasan-penjelasan terkait itu. Demikianlah, kita bisa shalat dengan peniruan turun temurun. Adalah teramat sulit, bila ga boleh bilang: tidak mungkin, mempraktekkan shalat dengan memotong matarantai transmisi cara shalat itu sampai ke kita, hanya dengan membaca nash Qur’an atau teks Hadis.

Masalah di atas lalu diikuti masalah lain, yaitu cara bicara yang (diakui) kasar. Seseorang yang tersulut emosi sudah barang tentu kehilangan sebagian kontrol untuk mempertahankan objektifitas pemikirannya. Maka, apa yang seharusnya merupakan hal yang baik-baik saja, justru menuai respons, hasil, dan dampak yang kurang baik.

KRISIS KESANTUNAN (AKHLAK)

Siapapun penting mengedapankan etika yang baik dalam hal apapun. Lebih-lebih seseorang yang telah menjadi tokoh umat dengan ribuan atau jutaan followers. Apa lagi menyampaikan statement tertentu yang – di era kini– begitu mudah diakses dan di-broadcast melalui berbagai media. Seharusnya dilakukan dengan:

  • Hati-hati, melalui telaah yang matang, dan sebaiknya menahan diri dari lontaran pernyataan yang berpotensi polemik dan menyulut konflik, agar tidak terperosok pada pepatah: bicaranya jauh lebih banyak dari apa yang diketahuinya.
  • Bahasa yang baku dan sopan. Hindari kata-kata menyerang atau kurang patut seperti GOBLOK dan semacamnya. Tidak patut ditonton dan tidak nyaman di telinga;
  • Tidak menyampaikan sesuatu demi memuaskan khalayak atau kelompok tertentu. Hal itu dapat menimbulkan bias dan subjektifitas tinggi. Pesan orang bijak, kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah tidak akan melahirkan kebaikan. Jadi, penting mengukur target yang hendak dicapai, ia itu: menyampaikan kebenaran untuk mencapai kemaslahatan.

Itu kiranya harapan banyak orang seperti saya, yang keinginannya sederhana saja: hidup rukun-damai berdampingan, syukur bila dapat bahu membahu membangun dan meningkatkan kesejahteraan bersama. Bukankah seharusnya agama menuntun ke surga (hidup damai dan bahagia)?! Setidaknya, persoalan agama jangan sampai mengukuhkan opini masyarakat yang galau akibat krisis keteladanan dengan mendakwa: AGAMA ADALAH RACUN/CANDU, sebagai akibat dari kekurangtepatan penyampaian, pemahaman, dan pengamalan.[]